Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Centhini





Tempo hari Kiya, teman saya, selesai membaca novel serial Serat Centhini-nya Elizabeth Inandiak. Sebenarnya agak telat juga, tapi mud sedang bagus, maka hajar saja. Kebetulan, dia ini sedang ingin tahu tema seputar seks dan spiritualitas.

Maka pertama-tama, ia merujuk artikel dari Mbah Gugel, tapi kurang memuaskan. Lalu buku pengantar Kamasutra dibaca. Di buku ini ia baru dong bahwa dalam agama Hindu, seksualitas memiliki perhatian yang lumayan. Ada konsep yang mirip Yin-Yang bernama Lingga-Yoni. Penjelasannya agak kabur, tapi konsep itu cukup menjelaskan kenapa sampai ada candi di Surakarta (?) yang isinya hanya simbol alat kelamin laki-laki dan perempuan saja. Ia juga sedikit nggeh bahwa kamasutra.ternyata tidak melulu ngobrol soal pose, tapi juga pendasaran kesadaran, beda kualitas gradual antara nafsu, cinta, dan kasih. Selain itu, ia ikut menimba ilmu meditasi Yoga, serta pengenalan anatomi tubuh.

Setelah merasa cukup, dia pindah sudut pandang. Tapi kalau ala Barat, sudah bosan. Terlalu komersil, katanya. Sesuatu yang di Timur diatur tata-kramanya, di Barat malah jlab-jleb saja. Semua dibuat dan dijual sebagai komoditas, karena laris manis memang. Bahkan dalam sebuah analisis, bisnis kedua tertinggi setelah narkoba adalah ya film porno itu.

***

Ah, Serat Centhini…! Bukankah ini kamasutra versi Jawa?! Maka cepat saja ia penasaran: apa tho yang ditinggalkan nenek moyang dahulu tentang seks dan spiritualitas. Ia mulai membaca dengan harapan yang sedikit cabul. Ia tunda dulu membaca naskah Arab yang setema, seperti Qurratul Uyun atau Uqudul Lijain.

Buru-buru ia buka jilid pertama, judulnya Empat Puluh Malam Satunya Hujan. Isinya bukan tentang tips dan trik bercinta, tapi malah diskusi sufistik. Cerita tentang pengantin baru bernama Amongrogo dan Tambangraras yang mengisi 40 malam pengantinnya dengan hanya bercengkrama soal-soal ketuhanan dan filsafat jawa. Sampai kemudian pada malam ke 41 baru mereka bergumul.

Masuk kemudian ke jilid kedua, Minggatnya Cebolang. Barulah ia terjengkang-jengkang melihat bagaimana edannya cerita orang yang terjebak dalam kubangan nafsu. Orang Jawa benar-benar liar! Mulai dari kumpul kebo, homo, lesbong, atau dengan hewan semuanya sudah pernah ada di Jawa! Di bagian ini pula dia dapati versi bahwa reog itu adalah sebentuk seni olok-olok atau pemberontakan yang dilakukan penyair kerajaan Majapahit bernama Surya Bumi karena kecewa dengan keputusan Raja Brawijaya untuk masuk Islam. Maka tarian reog dirancang sangat kasar, dan gaya jogednya pun kekanak-kanakan untuk mengejek Raja Brawijaya. Selain data sejarah, bagian ini juga sempat menyinggung alam pikiran Gatoloco atau Zakar Kelana.

Jilid ketiga, Ia yang Memikul Raganya kembali ke gaya sufistik. Disini lebih mengupas soal ide moksa. Lepas dari ketubuhan atau raga. Juga saling-silang sejarah yang kreatif, seperti pertemuan Yudhistira (saudara tertua dari Pandawa Lima) dengan Sunan Kalijaga soal Jimat Kalimasodo, penyebutan Ajisaka sebagai murid langsung nabi Muhammad, hingga sejarah aksara Jawa yang ternyata mengandung cerita unik. Terjemahan kasarnya kira-kira seperti ini: Hanacaraka, ada dua utusan. Datasawala, yang sama-sama tidak mau mengalah. Padajayanya, sama-sama sakti keduanya (bertarung). Magabatanga, (hingga akhirnya) mereka berdua mati.

Bagian terakhir berjudul Nafsu Terakhir lagi-lagi bertutur tentang pesan filosufistik bahwa keterbebasan diri dari raga bisa teraih hanya jika diri sudah mampu melupakan Sang Aku. Inilah patokan yang ternyata tanpa disadari sudah dilakukan oleh seorang abdi bernama Centhini. Ia begitu sibuk melayani tuannya sampai-sampai lupa dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan tokoh Amongrogo yang sedari awal mendapat sorotan paling banyak. Ia begitu berambisi moksa. Keinginannya begitu menonjol, sehingga tata lakunya, tapanya, olah pikir, kendali rasa, hingga petikan pencerahan-pencerahannya malah berakhir berantakan, karena Amongrogo gagal menaklukkan nafsu terakhir yakni nafsu ke-Aku-an.

Secara keseluruhan, Serat Centhini ini benar-benar menarik. Ini karya yang lugas menyadur antara keliaran rendah nafsu birahi dengan keluhuran narasi falsafah sufistik. Kontras dan ekstrimisitas yang elegan. Imajinasi dan asosiasi yang kreatif. Demikianlah kira-kira teman saya menyebutnya.     


   



Ayiko Musashi,
Jombang, 05 Desember 2010






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget