Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Pohon




Pohon adalah tema pembicaraan yang sangat kaya. Penurunan kualitas kehidupan di bumi hari ini sangat erat kaitannya dengan salah satunya juga adalah pohon. Banyak pohon hilang, lantas air mengering di satu tempat, dan meluap menjadi banjir di lainnya. Suhu bumi kian memanas, sebab daun tak ada, karena pohonnya juga tiada. Padahal daun adalah penyeimbang terbesar energi matahari. Ia ikut menjaga keseimbangan suhu bumi agar tetap dapat dihuni. Takdir sejarah seakan menemukan momentum. Mesin-mesin di pabrik, mobil, atau motor terus meniupkan karbon dioksida ke langit; sementara pohon-pohon di hutan, di pinggir jalan, di halaman rumah terus ditebangi. Karbon dioksida massif diproduksi, pohon yang justru bisa meng-convert racun karbon itu menjadi oksigen malah dibabat habis. Ola!! It’s so perfecto!!

Sesungguhnya pohon, atau yang lebih luas lagi, tumbuhan dan tanaman adalah misteri kehidupan. Jika tumbuhan tidak ada, makananpun lenyap, dan energi tidak dapat diproduksi. Perhatikan gerak ganda kerja pohon. Ke bawah menghujam bumi, akarnya menyerap air dan sumber makanan. Ke atas, menjaring sinar matahari untuk berfotosintesis. Masa hidup pohon itu sendiri sejatinya adalah filosofi tentang manfaat-manfaat. Buahnya boleh dimakan siapa saja, ia menjadi tempat berteduh yang nyaman, dedaunannya yang hijau menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan, ia menyeimbangkan panas bumi, mengubah racun (karbon dioksida) menjadi oksigen yang sangat vital bagi nafas kehidupan manusia. Alur hidup yang luar biasa ini akhirnya mempengaruhi kita dalam berbahasa. Banyak kosa-kata milik tumbuhan dipinjam untuk menggambarkan sebuah nuansa proses, seperti istilah “tumbuh”, “bersemi”, “berkembang”, atau “bercabang”.  Pendeknya, pohon menjadi sangat simbolik bagi manusia.

Tumbuhan menyerap energi dari atas (sinar matahari), kemudian menghubungkannya dengan langit dan bumi, serta lingkungannya (melalui manfaat-manfaat yang ia produksi). Demikianlah yang digambarkan al-Qur’an mengenai peran nabi Muhammad. Beliau menerima risalah wahyu dari langit, menghubungkan langit dengan bumi dan kehidupan manusia. Menggandeng manusia isra’ menuju cinta Allah. Perhatikan isyarat ini dalam surat al-Fath [48] ayat 29. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, melalui Abdullah ibnu Umar, nabi Muhammad menggambarkan bahwa hidup seorang muslim itu (idealnya) seperti pohon kurma. Di Arab, kurma adalah pohon kehidupan. Buahnya manis menjadi energi. Dahan dan daunnya dipakai sebagai atap. Batangnya dijadikan pilar yang menopang. Biji dan akar juga turut menyumbangkan guna. Nilai kebermanfaatan inilah yang ingin Nabi citrakan atas pribadi muslim. Penebar manfaat, penyemai maslahat, dan penabur rahmat.

Sedikit bergeser ke Nabi dan pohon. Nabi Adam jatuh ke bumi karena memakan buah dari pohon Khuldi. Nama nabi Musa adalah nama gabungan antara “mu” dan “sa” yang artinya adalah “pohon” dan “air”. Nama ini diberikan, karena Asiyah (istri Fir’aun) menemukan beliau di pinggir sungai dekat sebuah pohon. Sejarah masa kecil nabi Musa ini pararel dengan bagaimana kemudian Allah memanggilnya bercakap-cakap. Di surat al-Qashash ayat 29-32 menceritakan sebuah momen ketika Musa diseru oleh Allah dari arah pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang kayu. “Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam”. Lantas Allah memberitahu nabi Musa tentang mukjizat di tongkatnya, dan di tangannya yang menjadi putih bercahaya. Ayahanda nabi Yahya, yakni nabi Zakariya adalah seorang pencari kayu, yang wafat terbunuh dengan digergaji tubuhnya saat beliau bersembunyi di dalam batang sebuah pohon.  Nabi Nuh diperintah Allah untuk membuat kapal besar. Untuk tujuan ini, diduga kuat nabi Nuh tinggal di daerah yang banyak pohon-pohonnya. Karena kapal raksasa yang mengangkut segala manusia dan hewan itu pasti dibuat dengan jumlah kayu yang juga sangat banyak, sehingga mustahil jika ini dibuat di daerah padang pasir.

Ada banyak keterkaitan antara pohon dengan para Nabi di atas. Bahkan banyak tokoh dan agama yang memiliki hubungan erat dengan pohon. Sebut saja, nenek moyang dulu yang menyembah pohon, lalu mereka dinamai penganut animisme-dinamisme. Al-Uzza, salah satu dewa besar Arab di masa Jahiliyah, bernaung di pohon. Agama Shinto di Jepang mengkeramatkan pohon yang dinamai Sakkaki. Siddharta mendapatkan pencerahan di bawah pohon Bodhi. Beberapa juga menyebutkan pohon Asoka, yang berarti “bebas dari rasa sedih” (a-: tanpa, soka: sedih). Orang Kristen natalan juga ada atribut pohon cemara. Isaac Newton menemukan teori gravitasi setelah mengamati pohon apel. Ada apel jatuh, “lho, kok ke bawah jatuhnya?!” Eureka! Ketemulah teori gravitasi.

Demikianlah. Wallohu a’lam bis showab. Semoga di kesempatan mendatang kita bisa sedikit meraba-raba pohon seperti apakah Sidratul Muntaha itu. Kenapa pula di surat al-Waqi’ah, al-Qur’an menyebutkan pohon pisang, padahal konteks al-Qur’an saat diturunkan adalah Arab yang kering.


Ayiko Musashi,
Klaten, 11 Desember 2011









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget