Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Dibukanya TIga Rahasia






Selama mengaji Ramadan ini, ada beberapa catatan menarik yang saya tulis. Pertama, setiap selesai shalat Subuh kita biasa membaca surat ar-Rahman, surat yang diniatkan supaya dengan membacanya kita tertulari sifat Rahman-nya Gusti Allah. Dan kebetulan sekali, empat hari sebelumnya, ada ngaji tentang Asma’ul Husna. Nama-nama Allah yang kaya mutiara hikmah dan rahasia.

Salah satu rahasia yang terbongkar adalah soal dua sifat cinta Allah, yakni Rahman dan Rahim. Secara terjemah Indonesia, artinya hampir mirip, Maha Pengasih – Maha Penyayang. Tapi setelah ditelusuri, Rahim itu ternyata cinta pribadi Allah yang hanya dialamatkan kepada hamba yang taat kepada-Nya saja. Cinta ini kemudian mewujud rahmat, inayah, taufik, hidayah, sampai surga. Perlambangan cinta ini diberikan khusus untuk mereka yang taat saja.

Sedangkan Rahman adalah cinta-Nya yang bersifat umum. Allah menurunkan rahmat kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Tidak peduli taat atau membangkang, bersyukur atau berlaku kufur, semuanya mendapatkan jatah cinta Allah. Manusia tetap gratis bernafas, hidungnya tidak terbalik, jari-jarinya tetap utuh sepuluh, jantungnya tidak mogok, dan banyak nikmat lainnya. Semuanya terus dilimpahkan Allah walaupun toh Si Manusia ini banyak melakukan maksiat.

Allah tetap sayang kepada makhluk-Nya. Dan nuansa seperti inilah yang terekam sangat gamblang dalam surat ar-Rahman. Suratnya dinamai ar-Rahman, bukan ar-Rahim. Di dalamnya terdapat pengulangan frasa “Fa bi ayyi aalaa’i rabbikumaa tukadzdziban? (Maka nikmat-nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kamu dustakan?)” setelah ayat-ayat yang menjelaskan tentang nikmat. Ini diulang sebanyak + 31 kali. Pengulangan tersebut menyiratkan betapa dustanya manusia terhadap nikmat-nikmat Allah. Pun begitu, Allah yang Rahman senantiasa melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya. Itulah kira-kira latar belakang kenapa surat ini dinamai ar-Rahman, bukan ar-Rahim. Sungguh penamaan yang sangat top markotop!

Catatan kedua yang saya tulis adalah mengenai Tafsir Harokat. Dalam tulisan yang lalu, sudah pernah dicicil tafsiran mengapa harakat fathah, dhammah, dan sukun berposisi di atas, sedangkan kasrah di bawah. Itu karena tiga harakat yang awal menyiratkan sikap hidup yang positif. Fathah artinya membuka, maka siapa saja yang mau membuka diri, jujur, apa adanya, maka dia mulia, berposisi di atas. Begitu juga dengan dhammah yang artinya berkumpul, kompak, solid. Maka pasti perserikatannya jaya, berposisi di atas. Sukun juga demikian. Ia aman dan selamat karena sukun itu berarti tenang, tidak grusa-grusu. Maka pekerjaannya pasti selamat. Sedangkan kasrah jatuh berposisi di bawah karena kasrah itu artinya pecah, bercerai-berai, maka jelas kacau dan rapuh, sehingga mudah jatuh dan menempati posisi bawah.

Nah, ternyata harakat itu ada yang bersaudara, dan ada yang tunggal. Fathah punya saudara Fathatain. Dhammah punya adik Dhammatain. Kasrah juga punya saudara Kasratain. Sedangkan yang anak tunggal hanya Sukun, dan ia tidak punya saudara bernama sukuntain. Artinya, diam-diam, harakatpun ber-KB rupanya. Hehehe.


Catatan yang ketiga, adalah tentang lafal wal-yatalaththaf dalam surat al-Kahfi ayat 19. Dalam mushaf cetakan lama, hampir selalu dicetak dalam warna merah, dan berlaku khusus untuk lafal itu saja. Ada apa gerangan? Ternyata, menurut beberapa riwayat yang saya tahu, diwarnainya lafal itu dengan warna merah adalah untuk mengenang Sayyidina Ali yang terbunuh oleh pemberontak ketika sedang membaca al-Qur’an. Pedang ditebaskan, dan beberapa percikan darah Sayyidina Ali tepat mengenai lafal tersebut. Ini sebuah ‘kebetulan’ yang luar biasa. Tindak pembunuhan itu adalah perbuatan yang sangat kasar dan biadab. Luar biasanya, darah sebagai saksi kebiadaban tadi justru muncrat mengenai lafal wal-yatalaththaf yang artinya justru “hendaklah ia bersikap lemah-lembut”. Darah itu seakan menstabilo, dan hendak menegur si pembunuh itu langsung setelah perbuatan kasar itu terjadi. Mahasuci Allah yang menciptakan skenario-skenario luar biasa ini!




Ayiko Musashi,
Klaten, 11 Agustus 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget