Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Mutiara-Mutiara Benjol Gus Mus


Membaca tanpa berpiki, seperti makan tanpa mengunyah…

*

Betappaun dahsyat badai, tak mampu mengguncang gelombang di relung sumur

*

Orang yang berniat baik dan keliru, lebih baik
daripada orang yang berniat buruk dan benar

lebih baik semalam-malaman aku tidur dan paginya menyesal,
daripada semalam-malaman aku beribadah dan paginya membanggakan diri

*

Semua yang baru diinginkan
dan semua yang sudah dimiliki membosankan

[ini mirip sekali dengan gejala yang oleh seorang filsuf Perancis bernama Roland Barthes sebut sebagai gejala neomania. Kecenderungan untuk mengejar sesuatu yang serba baru. Ada mode pakaian baru, beli. Ada tipe hp baru, beli. Ada gaya mobil baru, kredit. Dan macam-macam.

Tapi hidup ini terbatasi oleh begitu banyak keterbatasan. Baik batasan material maupun waktu, sehingga jika dipikir-pikir sejenak, maka menurutkan untuk menggapai-gapai semua yang selalu baru adalah sesuatu yang meskipun sekilas mengasyikkan tapi sungguh melelahkan dan tidak masuk akal. Bayangkan saja bagaimana rasanya mengejar bayangan diri sendiri. Sebuah pekerjaan yang absurd dan tidak perlu, sebenarnya.

Kondisi psikis dari gejala neomania adalah kebalikan dari nuansa tenteram syukur. Yang terjangkiti neomania pasti tak sempat punya waktu untuk memahami benar apa yang sudah dimiliki. Belum sempat menghayati kehadiran yang sudah ada, tapi cepat beranjak memburu sesuatu yang sebenarnya disadari bahwa akan ditelantarkan juga.

Lalu, apa motivasi dibalik gejala neomania? Jawabannya bisa beragam. Tapi disini aku punya dua perspektif setidaknya. Pertama, dari sisi dalam, ini yang perlu kita ketahui bersama bahwa betapa “hasrat memiliki” (possessiveness) itu begitu kuat, sampai-sampai membuat seseorang kehilangan kontrol. Semacam hasrat yang menenggelamkan kedaulatan diri seseorang.

Kemudian, setelah hasrat tadi, bertemu dengan senyawa lain yang mengobarkannya, yakni uang. Ada betulnya juga apa yang sudah pernah dikatakan oleh Karl Marx: “…uang adalah sumber dari keterasingan manusia (alienasi)…. Siapapun saja yang menggenggam uang di tanganya, pasti berpikir tentang akan dibelanjakan untuk apa uang ini? Akan dikemanakan? Sederhanya, jika ada uang, orang pasti terkondisikan untuk berpikir belanja.

Gayungpun bersambut. Nun jauh diluar diri manusia, pabrik-pabrik terus meraung-raung. Menghamburkan sejuta produk jualan. Komoditas dimana-mana. Over produksi dimana-mana, dan saat itulah muncul sekawanan manusia yang berkumpul bermusyawarah bagaimana caranya orang-orang mau membeli barang-barang yang telah dicetak ini. Bagaimana caranya meyakinkan orang lain bahwa ia membutuhkan barang-barang ini. Bahwa barang ini berguna bagi mereka. Bahwa yang sebenarnya tak perlu dan tak penting disihir sedemikian rupa agar menjadi tampak seperti sesuatu yang penting untuk dimiliki, untuk dikonsumsi. Maka lahirlah berjuta-juta iklan, propaganda mode, pencitraan, gaya hidup ini dan itu, dan muacem-macem. Inilah gambaran dari konstruksi konsumsi yang maha hebat, sehingga tak banyak orang merasakan bahwa dirinya sedang disihir.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget