Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: I am Sam


I am Sam. Satu lagi tentang kasih seorang ayah kepada anaknya. Namun sedikit berbeda dengan film-film yang lain seperti Pursuit of Happiness, Twilight Samurai, In The Name of The Father, atau Life is Beautiful, konteks film ini menceritakan tentang seorang ayah yang dalam kosa kata masyarakat modern kita abad ini sebut sebagai ‘orang yang mengalami kemunduran mental.

Jadi, Sam sang ayah adalah seseorang yang kecerdasannya tidak lebih dari kecerdasan anak 7 tahun. Ini dimulai ketika Luzy sang anak menginjak umur 7 tahun pula. Pada masa sebelumnya, Sam tidak seburuk saat ini. Ia masih bias membesarkan Lucy sendirian, karena pacar atau istrinya meninggalkan Sam dan Lucy persis setelah ia melahirkannya. Ibu yang gila.

Departemen urusan anak dan keluarga mulai mencampuri urusan Sam dengan Lucy yang sebenarnya tidak ada masalah bagi keduanya. Tapi mereka para petugas Departemen terusa berusaha memisahkan Sam dan Lucy karena alas an mental yang diderita Sam. Mereka berusaha terus, dan di meja hijau akhirnya mereka menang juga. Tapi kukira proses pengadilan itu sendiri cukup konyol.

Hal yang luput disadari oleh Departemen itu adalah Lucy tidak hanya butuh kesejahteraan dan pendidikan yang layak tapi juga kasih saying murni dari sang ayah. Bagaimanapun keadaan Sam, tapi dialah ayah Lucy yang mencintai amat sangat, dan Lucy pun demikian. Mereka para petugas Departemen terlihat konyol dalam kebijakan mereka. Seharusnya mereka melihat ruang dialog dan kompromi dalam kasus ini. Jadi, Lucy tetap mendapatkan apa yang Departemen sebut sebagai kalayakan hidup normal, dan Sam tetap diperkenankan bertemu Lucy seperti tak terjadi apa-apa sehingga antara Lucy dan Sang ayah tetap bisa memberikan kasih sayang satu sama lain.

Tapi Departemen itu hanya mau melihat apa yang mereka mau lihat saja. Mereka hanya memaksa pada pandangan bahwa Sam mengalami kemunduran mental sehingga tak layak mengasuh Lucy, bahkan harus dibatasi intensitasnya.

Kemudian muncul sosok Rita, sang pengacara yang dengan sabar selalu berusaha memahami dan membantu Sam. Pada awalnya, Rita tidak memperjuangkan apapun selain kepentingannya sendiri agar ia mendapat citra yang lebih baik di mata rekan kerjanya. Perlahan Rita kemudian mulai mengalir dan menjadi tulus membantu Sam. Ritalah yang berusaha melihat Sam sebagai seorang manusia. Inilah poin penting yang perlu digaris bawahi untuk dijadikan renungan aku sebagai bagian dari masyarakat yang menyebut dirinya modern. Belajar menghargai manusia sebagai manusia. Seperti pesan yang dibawa dalam film Forest Gump.

Siapapun mereka, betapapun mereka berbeda, dan bagaimana mereka, dalam sistem sosial kita definisikan sebagai bodoh, gila, atau terbelakang, mereka berhak untuk diperlakukan sebagai manusia. Disinilah kesabaran yang sebenarnya akan diuji untuk menjadi cermin bagi diri sendiri seberapa serius aku belajar untuk menghargai MANUSIA.

Dalam film I am Sam mungkin kita melihat nasib yang baik bagi Sam sebagai orang yang terbelakang dalam kosa kata kita. Tapi memang demikianlah yang semestinya dilakukan. Terus berpikir tentang hal baik, dan mempercayainya. Aku tahu nasib Sam mungkin tidak dimiliki banyak orang seperti Sam, tapi itulah pesannya. Ini memang sebuah bentuk idealisasi.

Hal lainnya, mungkin film ini terkesan lambat atau sedikit membosankan. Tapi itu tidak masalah karena film ini bermaksud untuk memberikan pandangan yang baru tentang orang lain di sekitar kita. Kreatifitas dan hal bermanfaat inilah yang aku hargai melebihi kesenangan menonton film. Sama seperti pendapatku tentang film The Other. Bukan alur ceritanya an sich, tapi ide dan kretifitas itulah yang layak untuk diapresiasi.

Thank ya!

27 Oktober 2009
Ayiko Musashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget