Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Berpuisi itu Serupa Melawan Lupa




Kenapa orang sok serius kalau menulis puisi? Kenapa bahasanya aneh? Tidak seperti bahasa ngobrol sehari-hari. Kok berpuisi itu seperti orang sedang bersolek diri, tapi seringkali wagu-kaku-dan lucu. Bicaranya patah-patah. Gelap dan entah apa maunya. Kenapa begitu ya?

Jangan-jangan, berpuisi itu adalah hasrat untuk tampil (sok) seniman. Jadi, berpuisi itu kemudian jatuh hanya sebagai simbol-mode-atribut “seniman”, seperti celana (di)robek atau rambut gondrong?! Benarkah begitu?

Mungkin saya ini yang tidak peka rasa sehingga tidak bisa menyelami makna berpuisi. Tapi kok banyak orang ngerasa sama dengan saya? Coba saya raba-raba dulu: kenapa sih orang berpuisi? Mmm.. Mungkin memang ada momen-momen di mana makna harus ditiupkan ke dalam kata-kata yang tak biasa. Atau mungkin, biarkan sajalah orang mau berpuisi atas dasar seperti apa saja. Yang penting enggak nyolong! Gitu saja kok repot?!

Tapi sebentar. Kata para guru, puisi itu adalah salah satu kepingan karsa-karya estetis manusia. Puisi itu juga yang mampu mewadahi makna dan perasaan yang tak kuasa diemban kalimat normal dengan sekian aturan gramatika liniernya. Puisi itu bisa mengasah kepekaan dan naluri titen (mengingat) manusia akan momen menep e banyu sing buthek. Jadi, puisi itu sebentuk sublimasi.

It’s ok. Tapi, itu semua adalah puisi di luar diri saya. Konsep yang saya tidak urun rembug di dalamnya. Maka saya ingin kenal puisi secara terlibat dan mengalaminya sendiri.

Dulu saya menyangka, kalau puisi itu adalah kesempatan untuk menyebut keberadaan hal-hal yang sering terlupa (atau sengaja dilupakan) dalam kehidupan. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, mungkin hidup saya sudah kadung nyemplung dalam sebuah rutinitas yang lengkap dengan dunianya yang monoton.

Sehingga, kosa kata hidup saya menjadi sangat-sangat-sangat sempit, dan amat fakir serta miskin. Sehari-hari saya mungkin hanya tahu kopi, komputer, hp, musik, novel, ngobrol, mandi, pecel, desain, ngutang, download, tv, miyabi, nunggu kiriman uang, cewek, atau lainnya.

Lihat, bagaimana saya lupa bahwa hidup dan dunia ini tidak sesempit itu. Alangkah sungguh menyedihkannya hidup sekali yang sedemikian tadi!

Saya lupa bahwa  setiap detik di angkasa raya ada bintang yang bersinar sangat terang karena meledakkan dirinya—yang kemudian kita sebut supernova. Saya lupa bahwa di samudera Atlantik ada palung Mariana yang begitu dalam; belum terselami dan terungkap kehidupan macam apa yang ada di sana. Saya juga lupa bahwa saya hidup bersama ibu-ibu penjual sayur yang sudah bekerja sejak jam dua pagi; masalah pengangguran, anak jalanan, penggusuran, nasib pendidikan, atau tentang semrawut-nya masalah di negara ini.

Bahkan, tidak usah yang jauh dan besar-besar seperti itu, saya ini sering lupa bahwa hidup saya yang seorang ini ternyata ditopang oleh milyaran sel yang bekerjasama secara terorganisir, ikhlas dan tak peduli soal publikasi dan citra. Tanpa ba-bi-bu dan a-i-u, mereka tekun bekerja demi kelangsungan hidup saya

Saya lupa menyebut mata, telinga, lidah, kulit, dan mulut, yang senantiasa setia menjadi pintu diri untuk terlibat dan hadir ke dunia. Bahkan jantung yang terus berdegup tanpa lelah ini hanya sekian kali saja melayang saya sebut sebagai kata.

(ber) Puisi bagi saya kemudian adalah menyebut semua yang sering terlupa. Puisi adalah alat untuk melawan lupa (diri). Puisi adalah salah satu cara untuk mengembang, dan merasakan kehadiran semesta. Segalanya. Jagad angkasa yang luas tak berbatas hingga renik kecil yang belum mampu terdefinisikan volume klimaksnya.

(ber) Puisi adalah salah satu cara meraih posisi sadar. Bahwa saya tidak sendiri. Saya ada bersama bermilyar-milyar “ada” lainnya. Saya perlu menyebutnya dalam kata. Karena bukankah kata juga yang menjadi penanda sesuatu ada?!

Mungkin pada tingkat kelipatan kerja puisi yang seperti ini, puisi itu selaku tarekat melawan lupa akan Ia yang menjadikan segala ada. Dengan begitu, kadang seorang sufi hanya tahu satu kata untuk sebuah puisi yang terindah dalam hidupnya, yakni “Allah….

Mungkin (ber) puisi itu seperti acara mendaki gunung yang dilakukan untuk menyelahi, atau untuk keluar dan nyembul dari rutinitas-formal-seremonialistik keseharian hidup yang sudah sedemikian monoton seperti mesin. Maka, (ber) puisi juga yang bisa menyelamatkan saya dari kutukan mesinisitas hidup dan kembali menjadi manusia.

Semoga demikian. Saya ingin berguru, bagaimana puisi dalam hidup anda?



Ayiko Musashi, 03 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget