Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: The Hurt Locker


The Hurt Locker. Sebuah cerita tentang Irak yang kacau-penuh teror bom pasca invasi Amerika dan seorang penjinak bom bernama James. Ia mempunyai sisa masa tugas 36  hari sebelum rotasi. Deskripsi hari James adalah menjinakkan bom. Seringkali ia berhasil, meski juga ada yang tetap meledak. Setidaknya, dari sekian ratus bom yang telah didatanginya belum membuat James kehilangan nyawa.

Ada banyak korban, baik rekan se-tim atau penduduk sipil. Mayat yang terpencar, darah, dan kematian. Sebuah kondisi sehari-hari yang tentu saja bisa membuat orang menjadi gila. Tapi tidak bagi James. Bukan soal ia tak punya perasaan, tapi hanya itulah yang James bisa lakukan dalam hidupnya. Sesuatu yang ia sukai, yakni menjinakkan bom.

Rekan James selalu heran melihat aksi kenekatannya. Betapa ia tidak terlihat khawatir kehilangan nyawanya. Setiap saat, kesalahan kecil, atau sesuatu yang terselip sedikit saja tentu akan fatal akibatnya. James selalu hanya berjarak se-inci saja dari kematian setiap kali bertugas. Itulah yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tapi mengapa James terlihat sedemikian tenang? Jawabannya adalah karena James hanya melakukannya saja. Tidak berpikir tentangnya.

Bagian lain yang menarik dari film ini adalah saat seorang sipil yang tubuhnya diikat dengan tatanan bom memeluk tubuhnya. Semua personil berjaga, mengamankan keadaan dari radius yang aman. James datang, dan ia pun mulai bertugas. Tapi ia gagal menjinakkannya. Bom terlalu banyak, gembok tidak bisa dibuka untuk melepaskan ikatan bom, dan waktu penghitung mundur hanya tinggal dua menit lagi.

Praktis James harus bertindak realistis. Ia meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan nyawa sipil tersebut, dan kemudian sebuah kamera close-up menangkap seraut wajah yang hanya bisa berpasrah pada takdir dan kematian. Dengan sebuah kepsrahan yang total ia mengucap syahadat dengan sedemikian khusyuk.

Ah! Alangkah puitisnya momen tersebut. Apa lagi yang dimiliki seseorang untuk diucapkan ketika ia tahu kematian hanya tinggal lima detik mendekapnya? Maka menurutku, momen seperti tadi adalah momen yang sangat eksistensial, puitis, dan sebuah kesadaran akan kepulangan yang hakiki.




Ayiko Musashi,
23 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget