Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Thomas Samuel Kuhn









A.     Intro: dari Augusto Comte, Karl Popper, Hingga Kuhn

Prinsip change & continuity dalam ilmu pengetahuan sangat kental terlihat dalam tradisi filsafat ilmu. Seperti yang telah didiskusikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kaum Positivis Lingkaran Wina membagi secara serampangan atas sesuatu menjadi meaningfull dan meaningless dengan hanya mendasarkan pada “apakah sesuatu itu empiris atau tidak”, “bisa diverifikasi atau tidak”. Para Positivis berpegang pada pendirian bahwa kerja seorang filsuf ilmu hanyalah melakukan konstruksi representasi formal dari ungkapan-ungkapan ilmiah. Dia tidak usah mempedulikan detail dan perkembangan ilmu dan perubahan teori ilmiah.

Popper menolak pembedaan antara ungkapan yang bermakna (meaningfull) dan ungkapan yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kriterium dapat tidaknya suatu pernyataan dibenarkan secara empiris. Popper mengganti pembedaan itu dengan mengemukakan pembedaan baru berdasarkan apakah suatu pernyataan bersifat ilmiah (science) atau tidak ilmiah (pseudoscience). Dasarnya pada ada atau tidaknya dasar empiris bagi ungkapan bersangkutan. Ungkapan yang tidak bersifat ilmiah mungkin saja sangat bermakna.[1] Seperti yang dalam diskusi kelas disebut sebagai sumber inspirasi bagi science.

Sejarah terus berjalan, dan muncul tokoh Thomas Samuel Kuhn yang berganti mengkritisi tradisi filsafat ilmu saat itu dan sebelumnya yang banyak membahas mengenai metode-metode, sesuatu yang dianggap paling penting dalam hal mendiskusikan ilmu pengetahuan. Kuhn menyibak sesuatu yang lebih jauh di balik metode. Kuhn menemukan paradigma. Inilah sesuatu yang lebih penting di dalam struktur ilmu pengetahuan, dan tema ini tidak disadari oleh para ilmuwan Lingkaran Wina atau Karl Popper sekalipun. Kuhn juga tidak sepakat dengan cara Popper menalar perkembangan ilmu pengetahuan yang cenderung linear-kumulatif-evolutif melalui proses falsifikasi. Kuhn lebih percaya bahwa ilmu berkembang secara revolusioner.

Inilah tema yang akan dicoba bahas dalam makalah penulis pada kesempatan ini. Salah satu bentuk kritik terhadap Positivisme secara sistematis; mulai dari Popper dengan teori falsifikasinya, kemudian yang kali ini dibahas, Kuhn dengan Revolusi Paradigmanya, dan berlanjut nanti disusul Feyereband dengan teori Anti-Metode.[2] Untuk memulainya, berikut ini ada sebuah mind mapping dari hasil diskusi kelas pertemuan sebelumnya.





















B.     Thomas Samuel Kuhn: Timeline

1922
Kuhn lahir tanggal 18 Juli di Cincinnati, Ohio.

Kuhn dikenal sebagai Fisikawan Amwerika, dan filsuf yang menulis secaraekstensif tentang sejarah ilmu pengetahuan
1943
Kuhn mendapat gelar BS dalam Fisika di Universitas Harvard.
1946 -49
Kuhn menyelesaikan MS dan Ph.D Jurusan Fisika
1957
Kuhn menerbitkan buku pertamanya, The Copernican Revolution
1961
Kuhn mengajar di University of California, Berkeley sebagai Profesor Sejarah Ilmu Pengetahuan
1962
Kuhn menerbitkan magnum opus-nya, The Structure of Sceintific Revolution
1964
Menjadi professor filsafat dan sejarah ilmu pengetahuan di Princeton University
1977
Buku yang ketiga terbit, The Essential Tension
1979
Buku keempat lahir dengan judul Black-Body Theory and The Quantum Discontinuity, 1894-1912
1979 – 91
Menjadi professor dalam bidang filsafat di Massachusetts Institute of Technology
1994
Kuhn mewawancarai fisikawan besar Neils Bohr
1996
Tepatnya tanggal 17 Juni 1996 meninggal dunia karena menderita kanker.

Hal yang menarik untuk dicermati dari timeline sederhana di atas adalah, sebuah gambaran Kuhn sebagai seseorang yang dikenal sebagai fisikawan, filosof, dan juga ahli mengenai sejarah ilmu pengetahuan—seperti yang tercantum dalam aktifitas-aktifitas ilmiah yang ia geluti di atas. Catatan yang kedua yang juga menarik adalah satu tulisan yang mengatakan bahwa Kuhn tumbuh ketika ilmu telah terindustrialisasikan dan telah ditrasformasikan menjadi karir daripada pengabdian. [3]
C.     Filsafat Siklikal yang Bersifat Open-Ended

Kuhn merumuskan teori, dimana ia menengarai faktor sosiologis, historis serta psikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Dengan demikian, diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya, yang dalam perkembangan ilmu tersebut berjalan secara revolusioner, bukan secara kumulaif sebagaimana anggapan kaum rasionalis dan empiris klasik.[4]

Kuhn menyusun konsep kemajuan (progress) ilmu  pengetahuan dalam gerak siklis; dari normal scince kemudian mengalami krisis karena ada anomali-anomali (menumpuknya hal-hal yang tidak lagi dijelaskan oleh paradigma normal science) sehingga terjadi pergeseran paradigma dalam revolusi ilmu pengetahuan. Dari revolusi ini, muncullah extra-ordinary science yang nantinya akan menjadi normal science baru untuk menggantikan normal science yang lama.

























Pola perkembangan ilmu pengetahuan yang siklis demikian, secara tidak langsung juga mengisyaratkan sebuah sifat ilmu pengetahuan yang open-ended, selalu terbuka untuk diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut dan terus berproses.[5] Strutur yang seperti ini merupakan dobrakan yang dilakukan Kuhn terhadap citra pencapaian ilmiah yang bersifat absolut. Bersamaan dengan itu, konsep science progress ini memungkinkan terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah.[6] Berikut ini adalah ilustrasi mengenai konsep perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat open-ended tersebut.[7]



D.     Obyektifitas Sains?
Umumnya, kalangan positivis, seperti August Comte, memiliki anggapan bahwa ilmu itu dapat dicapai secara obyektif jika pengetahuan tersebut mampu dibuktikan secara induktif dan berpijak pada metodologi ilmiah yang mampu dibuktikan secara faktual, observasi, eksperimentasi dan komparasi. Tetapi bagi Kuhn, ini semua hanyalah ilusi. Setiap ilmuwan dalam meneliti sesuatu dan menciptakan teori tentu ada “paradigma” yang mendasari proses dalam penelitiannya, maka seorang ilmuwan mustahil bisa menolak subyektifitas individu karena paradigma dalam dirinya menentukan arah sebuah penelitian.

Dalam sains, paradigma mengandung unsur asumsi dan prediksi tertentu tentang alam yang dimiliki oleh individu ilmuwan, karena itu pemahaman sesorang terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah obyektif. Ada unsur subyektif individual seorang ilmuwan dalam melahirkan sebuah teori dan konsep praktis. Ketika membicarakan paradigma alam semesta mekanistik Newton yang berbeda dengan paradigma alam semesta relativistik Einstein, Kuhn lebih menyebutnya sebagai “penafsiran” tentang dunia, bukan penjelasan obyektif.[8]

Kuhn tampak mengikuti ide Immanuel Kant ketika menyatakan bahwa alam tidak mungkin menjelaskan dirinya sendiri (noumena). Ia tidak memperlihatkan dirinya menurut formula atau persamaan-persamaa matematis. Ilmuwanlah yang memberikan makna terhadap gejala-gejalanya (fenomena) dengan merumuskan bagaimana ia bisa sesuai dengan konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang ada, dan sejauh mana konsep-konsep dan keyakinan tersebut dimodifikasi dan diperluas untuk mengakomodasikannya.[9] Beberapa fakta inilah yang membuat Kuhn lebih mengakui bahwa sains itu tidak obyektif murni.

E.     Paradigma: Seperangkat Kepercayaan atau Keyakinan
Sesuatu yang paling diagung-agungkan oleh kaum Positivis adalah mengenai obyektifitas sebuah ilmu pengetahuan, sehingga ia bersifat bebas nilai. Kenyataannya, Kuhn menemukan bahwa ilmu sangat terkait erat dengan paradigma subyektif ilmuwan,[10] seperti yang telah disinggung di atas. Kuhn telah mengamati contoh-contoh historis, dan ia mendapati sifat cacat metode ilmiah. Sesuatu dikatakan obyektif dan universal jika ia memenuhi metode ilmiah, seperti proses observasi, eksperimentasi, deduksi, atau konklusi. Nyatanya, ini semua hanyalah ilusi semata, karena jauh di balik itu semua, paradigma yang lebih penentu semua kategori ilmiah tersebut. Paradigmalah yang menggiring ilmuwan untuk mengajukan jenis-jenis eksperimen yang mereka lakukan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yang mereka anggap penting. Tanpa paradigma tertentu, para ilmuwan tidak bisa mengumpulkan fakta.[11]

Ada beberapa pengertian mengenai paradigma. Beberapa di antaranya, paradigma diartikan sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.[12]

Paradigma juga adalah suatu kerangka teoretis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia (world view). Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya, ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut. Lebih jauh, Waryani Fajar Riyanto menulis bahwa paradigma juga: hasil konstruksi sosial para ilmuwan (komunitas ilmiah), yang merupakan seperangkat keyakinan mereka sebagai cara pandang terhadap dunia...” [13]

Untuk lebih mempraktiskan penjelasan mengenai paradigma, berikut ini ada beberapa gambar yang “mendua”. Yang mana saja di antara dua wajah di setiap gambar ini adalah pilihan anda, dan itulah—menurut penulis—contoh reduktif praktis mengenai paradigma dan subyektifitasnya.[14]

Kelinci atau Bebek?
Vas Bunga atau
Dua Wajah?
Kepala Bebek atau
Kepala Kelinci?

Komunitas Ilmiah
Sebuah paradigma—dalam kerangka sains normal—didukung oleh sebuah komunitas ilmiah (scientific community) yang melakukan kerja keilmuwanan untuk mengembangkan ilmunya. Para ilmuwan ini dipersatukan dalam satu komunitas ilmiah melalui pendidikan, interaksi, profesi, dan komunikasi (seperti jurnal), atau yang memiliki interes yang sama terhadap masalah tertentu dan menerima model pemecahan tertentu atas masalah tersebut.[15] Pengertian yang lebih detail mengenai “komunitas ilmiah” bisa dirujuk pada tulisan Waryani yang menjelaskannya sebagai: sekumpulan ilmuwan yang bekerja dalam suatu tempat. Suatu komunitas ilmiah yang memiliki suatu paradigma bersama tentang alam ilmiah, memiliki kesamaan bahasa, nilai-nilai, asumsi-asumsi, tujuan-tujuan, norma-norma, dan kepercayaan-kepercayaan.[16]

Komunitas ilmiah inilah agen yang mempertahankan sebuah paradigma atau jenis ilmu normal tertentu. Tanpa komunitas ini, sebuah paradigma atau ilmu tidak akan ada. Merekalah yang bekerja mengisolasi segala sesuatu yang berada di luar komunitas itu. Masalah-masalah yang penting secara sosial, yang tidak bisa direduksi menjadi bentuk pemecahan teka-teki, dikesampingkan; dan apapun yang berada di luar lingkup konseptual dan instrumental paradigma itu dianggap tidak relevan.[17]



F.      Gerak Ilmu Pengatahuan Itu Revolusioner, Bukan Evolutif

Kuhn menolak pandangan beberapa ilmuwan, seperti Karl Popper, yang menilai pergerakan ilmu bersifat linear-akumulatif-evolutif. Ilmu itu bergerak melalui tahapan-tahapan yang akan bermuara  pada kondisi normal dan kemudian ditolak serta digantikan oleh imu atau paradigma baru. Demikian seterusnya, paradigma baru mengancam paradigma lama yang sebelumnya juga menjadi paradigma baru.[18] Bagi Kuhn, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekuensinya, ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik. Inilah fungsi dari revolusi pengetahuan.[19]

Paradigma adalah elemen primer dalam progresifitas sains,[20] karena seorang ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, yang melaluinya sang ilmuwan dapat memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya.[21] Kuhn menyatakan bahwa teori-teori ilmu pengetahuan selalu sudah berada di dalam sebuah paradigma tertentu. Oleh sebab itu, perubahan radikal di dalam ilmu pengethuan hanya dapat terjadi jika seluruh paradigma yang ada ternyata sudah tidak lagi memadai, dan diganti yang lain.[22]  

Pergeseran paradigma (shifting paradigm) mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknik riset baru, serta jalur-jalur teori dan eksperimen baru secara radikal, sehingga tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama.[23] Untuk memberikan ilustrasi keterangan tersebut, berikut ini adalah skema yang dibuat oleh Newton Smith untuk menggambarkan proses revolusi tersebut.[24]




















Ketika terjadi revolusi, maka hampir semua kosa kata, istilah-istilah, konsep-konsep, idiom-idiom, cara penyelesaian persoalan, cara berpikir, cara mendekati persoalan berubah dengan sendirinya;[25] termasuk juga menyangkut teori, definisi-definisi, pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sah, serta aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan kebenaran suatu teori tertentu juga ikut berubah.[26] Apa yang digambarkan oleh Newton Smith dalam “Ukuran Umum” di atas merupakan bagian dari faktor yang melatar belakangi keputusan seorang ilmuwan individual untuk melakukan pergeseran paradigma, yakni: karena kesederhanaan, kebutuhan social yang mendesak, kemampuan memecahkan proble khusus, kerapihan dan kecocokan dengan permasalahan yang dihadapi, dan lain-lain.[27]

Sedemikian banyak dan menyeluruhnya proses perubahan tersebut, sehingga perubahan-perubahan itu dinamai “revolusi”, dan peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuwan individual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan “Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali), atau juga disamakan dengan “Religious Conversion” (perpindahan agama).[28]



Tahapan Revolusi
Analisis historis Kuhn menunjukkan adanya tiga fase sejarah ilmu pengetahuan:
1)      Tahap pertama, tahap pra-ilmiah, yang hanya terjadi sekali dimana tidak ada konsensus tentang teori apapun. Aktifitas ilmiah dilakukan terpisah dan tidak terorganisir. Ada banyak teori yang muncul, yang pada akhirnya terpilih satu teori atau paradigma yang diterima oleh banyak ilmuwan. Fase ketika paradigma tunggal diterima oleh banyak pihak maka jalan menuju normal science mulai terbuka. [29]

2)      Tahap kedua, Normal Science. Seorang ilmuwan yang bekerja dalam fase ini memiliki teori override (kumpulan teori) yang oleh Kuhn disebut sebagai paradigma. Dalam ilmu pengetahuan normal, tugas ilmuwan adalah rumit, memperluas, dan lebih membenarkan paradigma. Kuhn mengatakan: “Normal science does not aim at novelty of fact or theory and, when succesfull, finds none”. Tahap normal science  tidak bertujuan menemukan hal-hal yang baru. Jika ada suatu penemuan ilmiah, maka hal itu tidak lantas menunjukkan bahwa normal science bertujuan menemukan hal-hal baru, tetapi justru hal-hal baru tersebut menandai berakhirnya tahapan normal science. Penemuan yang seperti itu, oleh Kuhn, disebut sebagai revolusi ‘kecil’. Jarangnya terjadi penemuan baru (discoveries) dikarenakan ekspektasi ilmuwan yang mengaburkan visi mereka sendiri. R. Forster menyebut kondisi ini karena: they tend to see what they expect to see.[30] Di sinilah letak perbedaan Popper dan Kuhn dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan:

Bagi Popper, melalui falsifikasi, ilmuwan akan berhenti mengacu atau membadingkan teori keilmuan tertentu denga fakta-fakta [verifikasi, pen]. Teori keilmuan harus segera ditinggalkan jika ilmuwan menemukan adanya falsifying evidence.

Sementara Kuhn melihat bahwa dalam periode sains normal (normal science) para ilmuwan tidak sibuk dengan falsifikasi, tetapi justru berusaha memajukan ilmunya dengan meningkatkan kemampuan menjelaskan dari ilmu mereka. Bahkan ketika berhadapan dengan keadaan anomalipun ilmuwan tetap menaruh harapan pada paradigma yang mereka anut sebagai yang memiliki kemungkinan menjelaskan. Peralihan teori baru terjadi ketika tidak bisa diandalkan lagi. Di sini, Popper tidak sedang berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan, sementara Kuhn berbicara mengenai perilaku aktual ilmuwan.[31]

Pada perkembangan selanjutnya, muncul beberapa masalah, teori atau fakta-fakta yang ternyata paradigma di dalam normal scince tidak mampu memecahkannya. Inilah yang kemudian disebut sebagai anomali. Terus berlangsung demikian, hingga anomali demi anomali kian menumpuk sampai menimbulkan krisis kepercayaan di kalangan ilmuwan terhadap paradigma mereka sendiri. Dari sinilah mereka kemudian mulai melihat paradigma lain, dengan cara membandingkan dengan paradigma lama, dalam hal kemampuannya menyelesaikan masalah. Dari sini dimulailah tahapan ketiga.

3)      Tahap ketiga, pergeseran paradigma, terjadilah revolusi ilmu pengetahuan, yakni ditinggalkannya paradigma lama, dan digantikan oleh paradigma baru yang mampu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Penolakan paradigma lama dalam revolusi sains akan selalu diiringi dengan penerimaan paradigma baru, seperti yang Thomas Kuhn nyatakan:

The decision to reject one paradigm is always simultaneously the decision to accept another, and the judgement leading to that decision involves the comparisons of both paradigms with nature and with each other…To reject one paradigm without simultaneously substituting another is to reject science itself..[32]

Untuk lebih memperjelas konsep revolusi ilmu pengetahuan dan pergeseran paradigma, berikut ini adalah salah satu skema lain yang sangat bagus dalam menggambarkan proses-proses tersebut.[33]



 
 


















Dalam bentuk yang lain, juga terdapat ilustrasi sebagai berikut.














Ilustrasi tersebut adalah gambaran dari keterangan per-bab secara runtut dari pemikiran Thomas Kuhn tentang “Revolusi Ilmu Pengetahuan” dalam buku The Structure of Scientific Revolution. Dalam ilustrasi tersebut tergambar bahwa sejarah ilmu pengetahuan bermula dari keadaan yang disebut dengan “Pre-Science” atau dalam beberapa keterangan disebut “pra-paradigma”, dimana belum ada paradigma yang sentral dan kukuh. Tapi pada tahap ini, beberapa kelompok akademisi mulai berteori, sehingga muncullah banyak teori dari berbagai kelompok “bersaing” untuk mendapatkan penerimaan sosial (social acceptance) dengan membangun teori yang mampu menjelaskan masalah dengan cara yang paling tangguh.

Teori yang mendapatkan penerimaan sosial itulah yang kemudian menjadi paradigma. Sejarah ilmu pengetahuan memasuki tahapan baru, yakni “Normal Scince”.[34] Terus demikian, sampai kemudian mulai terlihat anomali-anomali. Teori tersebut tidak bisa lagi menjelaskan beberapa masalah yang ada. Kegagalan ini berkelanjutan. Anomali terus terjadi. Pada sisi yang lain, ada teori baru yang lebih bisa menjelaskan masalah yang oleh teori lama gagal dijelaskan.[35] Situasi ini memuncak menjadi krisis sains,[36] yang kemudian mendorong terjadinya “Pergeseran Paradigma” dari paradigma lama yang gagal menjelaskan masalah, menuju paradigma baru yang saat itu mampu menjelaskan masalah tersebut. Inilah yang disebut dengan “Revolusi Ilmu Pengetahuan”.[37] Pada tahap ini, sejarah ilmu pengetahuan sampai pada “New Normal Scince”.[38]

Pada proses pergeseran paradigma, akan ada dua paradigma yang berlawanan yang bersaing. Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama (normal science 1) ke paradigma baru (extraordinary scince atau normal science 2) yang berlawanan itulah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. Oleh karena itu, bagi Kuhn, perkembangan ilmu itu tidak kumulatif dan evolusioner tetapi secara revolusioner yakni: membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan. Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih memberikan janji atas kesempurnaan dalam memecahkan masalah masa depan.[39]

Dalam bagian ini, Thomas Kuhn memiliki sebuah visi yang menarik: sikap dalam diskusi dan adu argumen antara pendukung paradigma yang bersaing tersebut adalah mencoba meyakinkan dan bukan memaksakan paradigma; sebab tidak ada argumen logis yang murni yang dapat mendemonstrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya, yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuwan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma.[40]

Contoh Pergeseran Paradigma
Contoh shifting paradigms dapat ditemui dalam wacana logika dan metafisika. Pemikiran logika telah berkembang dari logika formal Aristoteles, logika matematika Descartes, logika transendental Kant, hingga logika simbolik Pierce. Dalam metafisika juga terjadi letupan ide-ide dari being qua being (rasionalisme), being as a perceived being (empirisme), being nothing and becoming (fenomonologi), being and time (eksistensialisme), hingga being as process (pragmatisme).[41] Kita juga bisa melihat pergeseran paradigma tersebut di dalam ranah ilmu pengetahuan alam, seperti kasus teori yang paling sering dikutip, yakni teori Heliosentris Copernicus yang menggantikan teori Geosentris Ptolemeus yang menyatakan bahwa matahari dan planet-planet lain serta bintang-bintang berputar mengelilingi bumi; atau beberapa "kasus-kasus klasik" seperti (a) Penerimaan teori Biogenesis, bahwa semua kehidupan berasal dari kehidupan, yang bertentangan dengan teori generasi spontan, yang dimulai pada abad ke-17 dan tidak lengkap hingga abad ke-19 dengan Pasteur. (b) Penerimaan teori seleksi alam Charles Darwin digantikan Lamarckism, mekanisme evolusi. (c) Transisi antara pandangan dunia fisika Newton dan pandangan dunia relativistik Einstein. [42]

G.     Aplikasi Teori Ini dalam Kajian Pemikiran Al-Qur’an dan Tafsir

Teori Revolusi Ilmu Pengetahuan milik Kuhn ini sangat berguna untuk melihat gerak pergeseran paradigma yang terjadi dalam dunia tafsir. Sebut saja gagasan Muhammad Syahrur yang mengangkat paradigma “la taraduf fi al-Qur’an”, tidak ada sinonimitas di dalam kosa kata al-Qur’an. Paradigma ini menggeser paradigma lama yang cenderung mengatakan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat taraduf atau sinonimitas. Syahrur menyangkal paradigma ini, karena jika di dalam al-Qur’an terdapat taraduf, maka satu kata di dalam satu kalimat al-Qur’an bisa diganti dengan kata yang semakna. Ini sangat tidak mungkin terjadi di dalam al-Qur’an. Melalui paradigma “la taraduf” ini, Syahrur ingin menunjukkan bahwa diksi al-Qur’an memiliki tujuan, konteks, dan nuansa makna tertentu yang menambah kompleksitas serta efektifitas gaya tutur al-Qur’an. Paradigma Syahrur ini tertuang dalam—salah satunya—buku yang berjudul “Al-Kitab wa Al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah”.[43]

Pergeseran paradigma yang lain dalam dunia tafsir al-Qur’an—yang juga dapat diteropong melalui teori Revolusi Ilmu Pengetahun—adalah fenomena pergeseran paradigma tafsir di Mesir. Setelah era pembaharuan yang dirintis oleh Muhammad Abduh, banyak ulama yang membuka diri dengan tradisi ilmu alam. Ini berpengaruh lebih lanjut terhadap cara mereka menafsirkan al-Qur’an yang cenderung ke arah saintifik. Menafsirkan ayat al-Qur’an untuk dicari korelasinya dengan teori-teori ilmu kealaman yang ilmiah. Gaya tafsir ini dinamai dengan corak Tafsir Ilmi. Salah satu kitab tafsir yang mewakili semangat ini adalah Tafsir al-Jauhari yang ditulis oleh Tanthawi Jauhari.

Pada era Amin Khuli, murid Muhammad Abduh, ia mencanangkan gagasan untuk menolak Tafsir Ilmi. Alasan yang paling kuat di balik gagasan tersebut adalah karena terjadi pemaksaan terhadap ayat al-Qur’an untuk menjadi sesuai dengan teori ilmiah. Amin Khuli mencanangkan pendekatan sastrawi terhadap al-Qur’an. Jenis tafsirnya kemudian disebut Tafsir Adabiy. Ini lebih proporsional, menurut Amin Khuli. Pertimbangannya, audiens pertama al-Qur’an adalah masyarakat yang memiliki sense sastrawi tinggi, bukan masyarakat ilmiah yang akrab dengan teori-teori dan istilah-istilah ilmiah.[44] Pergeseran paradigma dalam mendekati al-Qur’an ini kemudian dikukuhkan oleh murid-muridnya seperti Muhammad Ahmad Khalafullah,[45] dan Aisyah bint as-Syathi’.[46]  

Pergeseran paradigma yang lainnya adalah teori Nasakh yang diajukan oleh Abdullah Ahmed an-Na’im. Ia menawarkan sebuah paradigma Nasakh yang tidak berkaitan dengan hapus-menghapus, akan tetapi sebagai pilihan dalam menyusun prioritas aplikasi hukum syari’ah. Dalam paradigma teori Nasakh klasik, kajian ini bekerja untuk menentukan mana yang menghapus (nasikh) dan mana yang dihapus (mansukh). Sedangkan paradigma Nasakh ala Na’im cenderung pad aide bahwa tidak ada hukum yang bertentangan di dalam al-Qur’an sehingga perlu diselesaikan dengan gaya Nasakh klasik. Ia merevolusi pemahaman dan aplikasi kerja Nasakh dengan memberikan makna dan fungsi baru sebagai penangguhan pemberlakuan satu hukum atas hukum yang lain. Jadi, tidak ada yang dihapus. Hanya saja, hukum yang manakah yang harus didahulukan untuk dipraktikkan saja. Ini lebih menitik beratkan pada prioritas di dalam mengaplikasikan: hukum mana yang lebih maslahah  dalam satu zaman dan satu tempat tertentu. Salah satu buku yang memuat gagasan pergeseran paradigma teori Nasakh ini dapat dijumpai dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dekonstruksi Syari’ah.[47]




H.    Outro: Sebuah Mindmapping
Rangkuman yang dapat penulis berikan dari ulasan di atas adalah sebagaimana yang telah penulis gambar dalam bagan berikut ini.














I.       Daftar Pustaka

Abdullah Ahmed an-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah I & II, (Yogyakarta: LKiS, 2009).
Aisyah Abdurrahman (Bintusy Syathi’), Manusia Sensitivitas Hermeneutika al-Qur’an, terj. Maqal fi al-Insan, (Yogyakarta: LKPSM, 1997)
Amin al-Khuli dan Nashr Hamid Abu Zayd, Metode Tafsir Sastra, (Yogyakarta: Adab Press, 2004)
Muhammad Ahmad Khalafullah, Al-Qur'an Bukan Kitab Sejarah: Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur'an, terj. Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim, (Jakarta: Paramadina, 2002).
Muhammad Syahrur, Prinsip Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, (Yogyakarta: ElsaQ, 2004).
Ricky Rengkung, “Kritik (ideology) Terhadap Cara Berpikir Positivisme atau Scientisme”, dalam situs http://administrasi-ui.com/?p=62 (Akses tanggal 03 November 2011)
Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156.
Sony Yuliar, “Perceraian Sains dan Filsafat”, dalam situs http://aljawad.tripod.com/arsipbuletin/ sains_filsafat.htm (Akses tanggal 04 November 2011)
Syah Reza,”Revolusi Sains Menurut Thomas Kuhn”, dalam http://rezaaceh.wordpress.com/2011/07/10/revolusi-sains-menurut-thomas-kuhn/
Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), (USA: The University of Chicago Press, 1996)
Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral (sebuah Pemetaan Topik-topik Epistemologi bagi Pengembangan Studi-studi Keislaman Perspektif Al-Qur’an), (Yogyakarta: Integrasi Interkoneksi Press, 2011), hlm. 506-516.
Wes Sharrock and Rupert Read, Key Contemporary Thinker Kuhn Philosopher of Scientific Revolution, (UK: Polity Press, 2002)

Bahan dari Situs di Internet
Artikel “Dimensi Dinamis Ilmu” dalam http://kuliahfilsafat.wordpress.com/tag/thomas-kuhn/ (Akses tanggal 04 November 2011)
Artikel “Dimensi Dinamis Ilmu” dalam http://kuliahfilsafat.wordpress.com/tag/thomas-kuhn/ (Akses tanggal 04 November 2011)
Artikel “Latar Belakang Pemikiran Kuhn Tentang Ilmu dan Perkembangannya”, dalam situs http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigma-kuhn/mrdetail/29380 (Akses tanggal 03 November 2011)
Artikel “Latar Belakang Pemikiran Kuhn Tentang Ilmu dan Perkembangannya”, dalam situs http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigma-kuhn/mrdetail/29380 (Akses tanggal 03 November 2011)
Artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)
Artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)
Artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)
Artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)
Artikel “Pemikiran Paul K. Feyerabend Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, dalam http://blogekayusuf.blogspot.com/2008/11/pemikiran-paul-k-feyerabend-terhadap.html
Artikel “Pemikiran Thomas Kuhn”, dalam http://userperpustakaan.blogspot.com /2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011)
http://cliff.uconn.edu/eric/291/kuhndiagram.gif
http://cliff.uconn.edu/eric/291/kuhndiagram.gif (Akses tanggal 05 November 2011)
http://rezaaceh. wordpress.com/ 2011/07/10/revolusi-sains-menurut-thomas-kuhn/, (Akses tanggal 05 November 2011)
http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html, http://kuliahfilsafat.wordpress.com/ tag/thomas-kuhn/
M.Ali Mustofa Kamal, “Revolusi Ilmiah Thomas Kuhn Dan Relevansinya Bagi Ilmu-Ilmu Keagamaan”, dalam http://ustadzmustofakamal.blogspot.com/2009/12/revolusi-ilmiah-thomas-kuhn-dan.html
Malcolm R. Forster, “Guide to Thomas Kuhn’s The Structure of Scientific Revolutions”, dalam situs http://philosophy.wisc.edu/forster/220/kuhn.htm (Akses tanggal 21 Oktober 2011).



[1] Lihat artikel “Dimensi Dinamis Ilmu” dalam http://kuliahfilsafat.wordpress.com/tag/thomas-kuhn/ (Akses tanggal 04 November 2011)

[2] Lihat artikel “Pemikiran Paul K. Feyerabend Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, dalam http://blogekayusuf.blogspot.com/2008/11/pemikiran-paul-k-feyerabend-terhadap.html
[3] Diolah dari berbagai sumber. Antara lain Wes Sharrock and Rupert Read, Key Contemporary Thinker Kuhn Philosopher of Scientific Revolution, (UK: Polity Press, 2002), juga dari situs  http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html, http://kuliahfilsafat.wordpress.com/ tag/thomas-kuhn/, juga diambil dari http://rezaaceh. wordpress.com/ 2011/07/10/revolusi-sains-menurut-thomas-kuhn/, (Akses tanggal 05 November 2011)

[4] Diambil dari “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)
[5] Lihat artikel “Latar Belakang Pemikiran Kuhn Tentang Ilmu dan Perkembangannya”, dalam situs http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigma-kuhn/mrdetail/29380 (Akses tanggal 03 November 2011)
[6] Lihat artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[7] Ilustrasi asli berbahasa Inggris, yang diambil dari web http://epistemic-forms.com/FacSite/ Articles/images/Kuhn-sci-rev.jpg ; http://exopoliticsjournal.com/vol-3/vol-3-1-Webre_files/image003.jpg, atau http://cliff.uconn.edu/eric/291/kuhndiagram.gif

[8] Lihat Sony Yuliar, “Perceraian Sains dan Filsafat”, dalam situs http://aljawad.tripod.com/arsipbuletin/ sains_filsafat.htm (Akses tanggal 04 November 2011)

[9] Diambil dari tulisan Syah Reza,”Revolusi Sains Menurut Thomas Kuhn”, dalam http://rezaaceh.wordpress.com/2011/07/10/revolusi-sains-menurut-thomas-kuhn/
[10] Diambil dari web http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011) PTK
[11] Lihat artikel pada web http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011) PTK

[12] Diambil dari “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[13] Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral (sebuah Pemetaan Topik-topik Epistemologi bagi Pengembangan Studi-studi Keislaman Perspektif Al-Qur’an), (Yogyakarta: Integrasi Interkoneksi Press, 2011), hlm. 506-516.

[15] Diambil dari “Dimensi Dinamis Ilmu” dalam http://kuliahfilsafat.wordpress.com/tag/thomas-kuhn/ (Akses tanggal 04 November 2011)

[16] Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral (sebuah Pemetaan Topik-topik Epistemologi bagi Pengembangan Studi-studi Keislaman Perspektif Al-Qur’an), (Yogyakarta: Integrasi Interkoneksi Press, 2011), hlm. 507..

[17] Lihat artikel “Pemikiran Thomas Kuhn”, dalam http://userperpustakaan.blogspot.com /2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011)
[18] Diambil dari web http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011)

[19] Lihat artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[20] Ibid

[21] Lihat artikel “Latar Belakang Pemikiran Kuhn Tentang Ilmu dan Perkembangannya”, dalam situs http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigma-kuhn/mrdetail/29380 (Akses tanggal 03 November 2011)

[22] Lihat artikel Ricky Rengkung, “Kritik (ideology) Terhadap Cara Berpikir Positivisme atau Scientisme”, dalam situs http://administrasi-ui.com/?p=62 (Akses tanggal 03 November 2011)

[23] Diambil dari web http://userperpustakaan.blogspot.com/2011/04/pemikiran-thomas-kuhn.html (Akses tanggal 05 November 2011) Lihat juga Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral (sebuah Pemetaan Topik-topik Epistemologi bagi Pengembangan Studi-studi Keislaman Perspektif Al-Qur’an), (Yogyakarta: Integrasi Interkoneksi Press, 2011), hlm. 515.

[24] Sebagaimana dikutip di dalam buku Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 156.

[25] LIhat Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral (sebuah Pemetaan Topik-topik Epistemologi bagi Pengembangan Studi-studi Keislaman Perspektif Al-Qur’an), (Yogyakarta: Integrasi Interkoneksi Press, 2011), hlm. 512.

[26] Lihat Syah Reza,”Revolusi Sains Menurut Thomas Kuhn”, dalam http://rezaaceh.wordpress.com/ 2011/07/10/revolusi-sains-menurut-thomas-kuhn/

[27] Lihat artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[28] Diambil dari artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/ 2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[30] Malcolm R. Forster, “Guide to Thomas Kuhn’s The Structure of Scientific Revolutions”, dalam situs http://philosophy.wisc.edu/forster/220/kuhn.htm (Akses tanggal 21 Oktober 2011).

[31] LIhat dalam “Dimensi Dinamis Ilmu”, dalam dalam http://kuliahfilsafat.wordpress.com/tag/thomas-kuhn/ (Akses tanggal 04 November 2011)

[32] Sebagaimana dikutip oleh Malcolm R. Forster, “Guide to Thomas Kuhn’s The Structure of Scientific Revolutions”, dalam situs http://philosophy.wisc.edu/forster/220/kuhn.htm (Akses tanggal 21 Oktober 2011).

[33] Diambil dari web http://cliff.uconn.edu/eric/291/kuhndiagram.gif (Akses tanggal 05 November 2011)
[34] Lihat Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), (USA: The University of Chicago Press, 1996), hlm. 10-22 dalam bab “The Route to Normal Science”, juga halaman 23-42 dalam bab “The Nature of Normal Science” dan “Normal Science as Puzzle Solving”.

[35] Lihat Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), hlm. 53-65 pada bab “Anomaly and The Emergence of Scientific Discoveries”.

[36] Lihat Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), hlm. 67-91 dalam bab “Crisis and The Emergence of Scientific Theories” dan bab “The Response to Crisis”.

[37] Lihat Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), hlm. 92-110 pada bab “The Nature and Necessity of Scientific Revolutions”

[38] Keterangan ini disarikan dari keterangan Bapak Alim Ruswantoro dan hasil diskusi kelas saat makalah ini dipresentasikan pada kesempatan lalu.

[39] Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (third edition), (USA: The University of Chicago Press, 1996), hlm. 111-135, bab “Revolution as Changes of World View”

[40] Lihat artikel “Paradigm Shift Thomas Kuhn” dalam http://loekisno.wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn/ (Akses tanggal 05 November 2011)

[41] Artikel M.Ali Mustofa Kamal, “Revolusi Ilmiah Thomas Kuhn Dan Relevansinya Bagi Ilmu-Ilmu Keagamaan”, dalam http://ustadzmustofakamal.blogspot.com/2009/12/revolusi-ilmiah-thomas-kuhn-dan.html

[42] Ibid.

[43] Lihat terjemahnya dalam bahasa Indonesia, Muhammad Syahrur, Prinsip Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, (Yogyakarta: ElsaQ, 2004).
[44] Ini dapat dicermati dalam ulasan Amin al-Khuli dan Nashr Hamid Abu Zayd, Metode Tafsir Sastra, (Yogyakarta: Adab Press, 2004)

[45] Muhammad Ahmad Khalafullah, Al-Qur'an Bukan Kitab Sejarah: Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur'an, terj. Al-Fann al-Qashashi fi al-Qur'an al-Karim, (Jakarta: Paramadina, 2002).

[46] Lihat praktik penafsiran Adabiy dalam Aisyah Abdurrahman (Bintusy Syathi’), Manusia Sensitivitas Hermeneutika al-Qur’an, terj. Maqal fi al-Insan, (Yogyakarta: LKPSM, 1997)

[47] Abdullah Ahmed an-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah I & II, (Yogyakarta: LKiS, 2009).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget