Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Ilmu Waktu


Menghidupi sepertiga akhir dari malam memang unik. Ada banyak teman yang menuturkan bagaimana mereka atau sanak famili atau teman yang awalnya sering sakit-sakit, kemudian secara sengaja atau tidak sengaja—membiasakan diri bangun pada sepertiga akhir malam, kemudia secara “misterius” menjadi merasa lebih sehat. Entah bagaimana mekanismenya. Bagi saya yang mewakili kaum awam, tahunya kan hasil dari suatu aktifitas, tanpa bisa mengerti apa dan bagaimana sebenarnya proses yang mendahului akibat “sehat” tadi.

Sementara ini saya mencoba mereka-reka, bahwa mungkin sehat itu dikarenakan ada energi malam yang berkolaborasi dengan tubuh manusia, atau sebaliknya, tubuh mendapatkan harmoni dengan aktif hadir mengisi sepertiga malam tadi. Jadi, intinya, dalam penerawangan saya ini, ada energi yang entah apa yang bereaksi ketika tubuh manusia dan siklus alam bertemu dalam suatu momentum.

Mungkin menggelikan, tapi setidaknya kan memang ada waktu-waktu tertentu yang kita istimewakan—seperti juga lokasi-lokasi tertentu yang sangat mendukung dalam sebuah pencapaian tujuan tertentu. Misalnya, kenapa Islam muncul di Arab, sebuah gurun gersang dengan masyarakat pagan, yang diapit oleh dua peradaban besar pada saat itu, yakni Kerajaan Persia yang beragama Majusi, dan Kerajaan Romawi di satu sisi, dengan agama Kristennya. Kenapa juga misalnya orang-orang bertapa selalu mencari lokasi tertentu, seperti di puncak gunung, di gua, di pantai, di hutan, dan macam-macam. Contoh-contoh ini tidak lain mengisyaratkan bahwa memang ada lokasi-lokasi tertentu yang memiliki energi yang mendukung tujuan dari aktifitas kita.

Memang benar bahwa dunia itu relative. Tapi ini bukan berarti semua tempat menjadi sama saja, dan biasa-biasa saja. Tentu tidak dong. Setiap tempat memiliki nuansanya sendiri-sendiri, memiliki nuansa sendiri-sendiri. Perasaan Anda tentu berbeda kan ketika sedang berada di hotel atau mall mewah, dengan ketika sedang berada di tengah kuburan?! Pasti beda. Itu makanya, ada pengetahuan tersendiri untuk mengukur tepat dan tidaknya sebuah tempat dijadikan untuk ini dan itu.

Dulu ada dokter, filosof, sekaligus seniman Islam yang bernama Al-Farabi, yang ketika akan mendirikan sebuah gedung rumah sakit, ia berkeliling untuk menemukan lokasi yang pas. Metodenya unik tapi sangat ilmiah dan akurat. Pertama-tama, ia menilai sekian lokasi dengan memperhatikan lingkungan, akses, dan kebutuhan ini-itunya dulu. Lalu muncullah sekian opsi. Setelah sekian lokasi diseleksi, didapatlah nominasi-nominasi. Kemudian untuk memilih satu di antara sekian banyak lokasi terpilih tadi, ia meletakkan sepotong daging di setiap tempat yang sudah dipilih tadi. Pemilihanpun dimulai. Metodenya: tempat mana yang pembusukan dagingnya lebih lama, itu berarti tempat yang pas untuk mendirikan rumah sakit. Asumsinya apa? Tempat yang pembusukan dagingnya tadi lebih lambat, berarti relatif lebih steril daripada tempat yang pembusukan dagingnya berlangsung cepat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sudah sering melihat metode seperti ini. Bagi seorang ahli bahasa dan kaum bijak, mereka punya kaidah: li kulli maqaamun, maqalun; wa li kulli maqaalun, maqaamun. Ini singkat, tapi indah dan bermanfaat. Setiap tempat itu ada tata cara bicaranya, dan setiap pembicaraan itu ada tempatnya. Jadi, tidak bisa di-gebyah-uyah, tidak bisa dipukul rata. Ini namanya, kontekstual. Ini yang disebut muqtadh al-hal. Sesuai dengan keadaan.

Demikian juga dengan kalangan pebisnis. Ketika membangun sebuah toko atau lapangan usaha, mereka analisis dulu, tempat mana yang—dalam bahasa mereka, istilahnya—strategis. Tempat yang kira-kira tepat untuk didirikan usaha, sehingga tidak rugi. Sehingga apa yang dijual laku.

Begitulah. Akan ada banyak contoh lain yang bisa digali. Anda bisa menambahkan contoh-contoh di atas tadi dengan pengalaman Anda sendiri. Intinya, ada keistimewaannya sendiri-sendiri di setiap tempat. Itulah kuncinya.

Nah, kalau tadi saya berusaha mencoba meraba-raba di tataran ruang (space), maka demikian juga halnya dengan yang terjadi pada tataran waktu (time). Ada saat-saat tertentu yang memiliki energi khas dan istimewa. Jadi, untuk memahami keistimewaan sepertiga akhir dari malam, bisalah kita runut dari kebiasaan-kebiasaan sehari-hari dalam kehidupan kita. Ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: “Emang apa sih keutamaan sepertiga malam? Kan ya sama sajalah seperti waktu-waktu yang lain, kan? Jangan-jangan yang membuat malam menjadi istimewa itu karena pikiran atau kepercayaan kita saja?!”

Bisa saja demikian. Tapi saya berpendapat bahwa selain karena pikiran dan kepercayaan kita yang sifatnya internal, sepertiga malam itu sendiri juga memiliki keunikan energi tersendiri—sebagai wakil dari pihak eksternal (di luar diri manusia).

Kita akan mulai dengan fakta-fakta berikut ini. Anda dan siapapun saja pasti banyak yang sepakat bahwa yang paling enak ketika makan pecel atau soto itu pas pagi. Jadi, ketika hawa masih sejuk, dingin, perut lapar, asyik sekali rasanya makan pecel yang pedas dan hangat kepul-kepul, atau pasti ngiler merasakan enaknya kuah soto yang gurih campur sedikit asem, bercampur dengan sensasi pedas. Apalagi ditambah minum kopi. Walah..!

Kemudian, ketika siang sedang meradang, pas tubuh sedang kelelahan karena aktifitas yang sedemikian rupa, keringat menetes, hawa yang panas, maka terasa segar sekali minum es teh, es jeruk, atau es jus. Demikian seterusnya ketika sore, petang, dan ketika malam. Ada sajian dan menunya sendiri yang pas.

Kita bisa melihat kan, bagaimana tidak kita sadari, ada pola-pola tertentu di dalam siklus makan kita. Ada aturannya sendiri-sendiri. Ini adalah contoh kerangka yang akan kita pakai dalam memahami keistimewaan sepertiga malam. Tadi itu kan kita baru mempertemukan dua variabel saja, yakni antara variabel “waktu” dan variabel “mbadog” atau makan. Ini saja sudah bisa melahirkan penelitian tersendiri yang cukup menarik. Bayangkan saja sebuah penelitian berjudul “Waktu dan Pola Makan Manusia”. Cukup menarik, bukan?! Lha, apalagi kalau kita mengaitkan antara “waktu” dengan “aktifitas manusia” yang notabene lebih luas cakupannya.

Waktu itu memang sangat penting untuk dimengerti. Karena kehidupan yang muacam-macam ini sebenarnya hanya berada di dalam dua dimensi, yakni dimensi ruang dan dimensi waktu (space and time). Itu kenapa al-Qur’an banyak sekali memakai unsur waktu di dalam menyebut, atau mengawali sebuah pembicaraan. Misalnya dalam kasus “Qasam”atau sumpah di dalam al-Qur’an. Biasanya yang dijadikan sumpah itu adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Nah, sebagian besar dari yang penting tadi adalah hal-hal yang terkait dengan waktu: wa adh-Dhuha (waktu Dhuha), wa al-Laili (malam), wa an-Nahari (siang), wa al-Ashri (waktu asar atau masa), wa al-Fajri (saat fajar), dan macam-macam hingga ada yang disebut Lailah al-Qadar, satu momentum yang sengaja dirahasiakan kehadirannya.

Ini menunjukkan betapa al-Qur’an ingin mengingatkan bahwa dimensi waktu itu penting disadari dan direnungkan oleh manusia. Waktu itu bagai pedang, kata Sayyida Ali. Jika kau tak pandai menggunakannya, kau sendiri yang nanti tersabet olehnya. Juga ada sekian banyak hal yang dinasihatkan oleh para bijak bestari, betapa waktu adalah modal yang sangat besar. Betapa waktu adalah hal berharga yang tak ternilai bagi usaha manusia. Begitu berharga sampai manusia harus waspada dalam menggunakannya. Karena—masih menurut Ali—kalau toh kita tidak mendapat rezeki hari ini, tenanglah saja. Bisa kita harapkan ia dating esok hari. Akan tetapi bersikap bijaklah terhadap bebarapa hal yang tak pernah bisa ditarik kembali, yakni anak panah yang sudah kita lesatkan dari busurnya (ucapan yang sudah kita lepaskan dari mulut juga sering diibarat sebagai anak panah yang melesat, ia tidak pernah bisa dicabut kembali), dan kedua, adalah waktu.

Maka benar sajalah ketika Nabi Muhammad berpesan kepada kita untuk menjaga 5 hal sebelum datangnya 5 hal lainnya. Ightanim khamsan qabla khamsin. Benar juga bahwa waktu adalah dasar dari segala perubahan. Siang menjadi malam, muda menjadi tua, hidup beralih mati, menang berganti kalah, hingga kembang berubah menjadi buah.

Waktu juga yang sudah menginspirasi perubahan banyak tokoh. Ada seorang ulama yang bernama Ibnu Hajar. Namanya unik, Ibnu Hajar, yang jika di Indonesiakan maka berarti “Anak Batu”. Apakah ini karena beliau ndableg sehingga dinamai anak batu?  Apakah ia keras kepala? Ternyata bukan sama sekali. Beliau dinamai “Anak Batu” karena ia mendapatkan inspirasi perubahan dari fenomena cekungan pada batu yang keras yang diakibatkan oleh tetes-tetes air lembut yang terus-menerus sekian waktu. Awalnya, beliau ini adalah seorang murid yang hamper putus asa, karena seberapa ia keras berusaha belajar, tetap saja ia tidak bisa menguasai ilmu yang dipelajari. Dalam kesedihan dan hati yang putus asa, ia berniat pergi, pulang meninggalkan tempatnya belajar. Dalam perjalanan pulan, beliau diselamat oleh sesuatu yang beliau lihat. Waktu itu ada sebongkah batu besar, yang padat dan keras. Tapi menariknya, ada cekungan di bagian batu itu. Lalu, apa menariknya sebuah cekungan? Menjadi sangat menarik karena pembuat cekungan itu adalah tetesan air yang justru sifatnya sangat lembut dan sangat terkesan tidak berdaya jika dibandingkan dengan kokohnya batu itu. Tapi, apa gerangan sehingga tetesan air mampu melubangi kekokohan batu? Itu adalah karena ke-istiqamahan yang dijalani oleh tetes-tetes air tersebut. Keajegan, ketenangan yang terus-menerus, kegigihan yang tanpa henti, pada akhirnya akan selalu membuahkan hasil. Dari pengalaman yang remeh, yang hanya berlangsung sekian detik inilah, Ibnu Hajar langsung merevolusi, merombak total apa yang selama ini ada di pikirannya. Ia terbakar lagi oleh semangat membara-berkobar-kobar. Ia segera bergegas kembali ke tempatnya belajar. Beliau ambil lagi buku-bukunya. Dibaca lagi, ditelaah lagi, dengan semangat yang baru, dengan pikiran yang baru, dan kayakinan yang baru: bahwa jika tetes air saja mampu mengalahkan kokohnya batu, maka apalagi semangat dan kegigihan dalam merobek selimut kebodohan. Maka, Ibnu Hajar merasa pasti bisa! Ia pasti paham! Tidak mungkin tidak! Selama ia berlaku seperti tetes air yang lembut tapi istiqamah dalam melubangi padat kokohnya sang batu.

Istiqamah, itu adalah kunci yang bisa kita ambil dalam sejarah biografi perjuangan dan kegigihan Ibnu Hajar. Dan istiqamah itu berarti Anda berusaha mengakrabkan “usaha” Anda dalam meraih sesuatu dengan sang “waktu”. Usaha Anda digabungkan dengan kelanggengan waktu.

Kemudian, cerita yang lain datang dari salah satu Nabi yang sering kita sebut “misterius”. Misterius karena penampilannya selalu nyleneh. Baliau sering tampil sebagai tukang ojek berambut gondrong, seorang pemuda dengan celana sobek-sobek, menjadi pengemis, pedagang, dan macam-macam. Untuk menemui beliaupun ada tempat-tempatnya sendiri. Seperti yang dialami oleh nabi Musa ketika beliau diperintah Allah untuk menemui salah satu hamba-Nya yang lebih pintar daripada nabi Musa. Maklumlah, nabi Musa itu memang kuat dan memang pintar, sampai kemudian beliau bicara di depan banyak orang: “Ayo, tunjukkan padaku siapa yang lebih pintar di antara kalian daripada aku, Musa”. Nah, setelah ungkapan itulah, nabi Musa kena batunya. Beliau diperintah untuk menemui nabi bernama Khidhir.

Cara menemui nabi Khidhir adalah, berjalan menyusuri pinggiran sungai hingga pantai, sambil membawa ikan yang sudah digoreng (artinya: mati). Jika, pada suatu tempat nanti, ikan yang sudah digoreng itu hidup, dan meloncat ke air, maka disitulah kira-kira nabi Khidhir berada. Nah, unik, kan? Hehehe!

Anda pasti sudah maklum bagaimana kelanjutan kisah ini, singkat cerita, dari pertemuan itulah nabi Musa disadarkan bahwa ada makhluk lain yang lebih hebat dari dirinya. Apakah kamampuan yang tidak dimiliki oleh nabi Musa tapi dipunyai oleh nabi Khidhir itu?

Ialah soal waktu. Ada tiga peristiwa yang bisa dicermati baik-baik: (1) Nabi Khidhir menenggelamkan kapal nelayan,.(2) Nabi Khidhir membunuh seorang anak kecil, dan (3) Nabi Khidhir membangun kembali rumah roboh yang ada di tengah masyarakat yang kikir terhadap nabi Khidhir dan nabi Musa.

Terhadap tiga peristiwa ini, nabi Musa selalu gagal dan tidak bisa memahami tingkah yang dilakukan oleh nabi Khidhir. Musa bingung kenapa kapal nelayan yang membantu menyebrangkan mereka malah dilubangi oleh Khidhir. Musa juga mencak-mencak protes ketika Khidhir membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa. Musa kembali keki ketika Khidhir malah berbuat baik dengan memperbaiki salah satu rumah yang roboh dari masyarakat yang justru pelit memberikan makanan dan minuman kepada mereka. Musa menganggap aneh semua tingkah Khidhir. Dan demikian juga kita kebanyakan pasti setuju dengan protes nabi Musa. Tapi justru, pikiran yang belum bisa melihat kewajaran tingkah Khidhir itu yang justru aneh, dan membuat Musa gagal menjalani tes dari Allah tadi.

Ini tidak lain karena keterbatasan cara berpikir nabi Musa dan jangkauan waktu yang bisa dicapai olehnya. Sedangkan Khidhir dikaruniai Allah kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang terjadi pada masa “sekarang”, mada “lalu”, dan masa “depan”.

Ketika melubangi kapal, itu dilakukan Khidhir karena itu tahu saat itu ada perompak yang akan membajak kapal itu jika kapal itu tidak ditenggelamkan. Ini adalah pengetahuan tentang masa kini atau “sekarang”.

Kemudian, Khidhir membunuh anak kecil tak berdosa, karena beliau tahu bahwa jika dibiarkan besar nanti, anak ini akan menjadi orang kafir dan menyakiti kedua orangtuanya, makanya Khidhir membunuhnya, untuk menyelamatkan orangtuanya dan si anak itu sendiri, karena jika seorang manusia meninggal saat usia kecil, belum baligh, ia akan masuk surga tanpa hisab. Yang ini menunjukkan ilmu Khidhir terkait dengan hal-hal di masa “depan”.

Dan terakhir, Khidhir membangun rumah yang roboh, karena beliau tahu, di bawah rumah itu dulu ada harta karun yang dipendam oleh orangtua dari si anak yatim, agar nanti bisa dimanfaatkan ketika ia dewasa. Nah, yang ini adalah ilmu khidhir tentang masa “lalu”.

Demikianlah nabi Musa dikalahkan keilmuannya oleh Khidhir dalam bidang jangkauan keilmuannya terkait soal waktu. Nabi Khidhir ini adalah nabi yang dipilih oleh Allah untuk mengabarkan ilmu-ilmu yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan mengenai ilmu waktu, yakni masa sekarang, dulu, dan masa depan. Segala tingkah nabi Khidhir tentu saja tidak bisa kita tiru, karena nabi Khidhir sudah diizinkan oleh Allah untuk tahu soal 3 dimensi waktu tadi (sekarang, lalu, dan depan). Dan nabi Khidhir ditunjuk berperan demikian hanya dalam rangka mengingatkan nabi Musa bahwa “Di atas langit masih ada langit”. Di atas orang pandai, masih ada yang lebih pandai. Di atas yang hebat, masih ada orang yang lebih hebat. Maka, pelajaran lain yang bisa kita petik dari kisah ini adalah teladan untuk bersikap rendah hati. Jika tidak mau berendah hati, maka bersiap-siaplah dikejutkan oleh Khidhir-Khidhir kehidupan.

Baik,jika Ibnu Hajar tadi mengajarkan tentang “ilmu durasi waktu”, maka nabi Khidhir mengajarkan “ilmu dimensi waktu”. Dan akan ada banyak lagi ilmu-ilmu yang bisa kita temukan, jika kita mau merenungkan “waktu”. Cobalah pasangkan “waktu” dengan geografi, sosiologi, hokum, ekonomi, medis, matematika, antariksa, astronomi, fisika, biologi, Kimia, ilmu perdukunan, ilmu mancing, ilmu nelayan, dan segala macam ilmu lainnya, pasti akan anda temukan ilmu-ilmu baru yang sama sekali tidak kita pikirkan selama ini.


Bersambung…





Ayiko Musashi,
Yogyakarta, 15 Februari 2011






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget