Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Hutang Kehidupan





Siapa yang tidak pernah berhutang?! Karena umur hutang sama tuanya dengan umur manusia. Jika berbicara jenisnya, ada banyak: ada yang istilah kerennya secured and unsecured debt, private and public debt, syndicated and bilateral debt, atau jenis yang menggabungkan dua atau tiga jenis sebelumnya. Tatacara dan prasyarat-prasyaratnya macam-macam. Ada juga lembaga internasional yang khusus ngurus soal hutang internasional (IMF). Ada juga masalah Negara-negara berkembang yang terbelit hutang tak berkesudahan. Tidak ketinggalan pergeseran pola hutang piutang yang aneh tapi nyata. Dulu, orang yang butuh uang datang kepada orang yang punya uang untuk hutang. Hari ini justru orang yang ber-uang mendatangi orang yang tidak ber-uang untuk dihutangi. Ini unik, sekaligus perlu dikaji, “ada apa?”

Masih soal hutang. Al-Qur’an memandang serius permasalahan hutang-piutang ini. Jika anda perhatikan, ayat yang isinya paling panjang adalah ayat yang berbicara tentang hutang. Satu ayat ini panjangnya mencapai satu halaman sendiri. Tidak ada ayat lain lagi yang sepanjang ini di dalam al-Qur’an. Silahkan cek dalam surat al-Baqarah ayat 282.

Kita beralih ke lanskap dunia hutang lebih luas lagi. Ada dua jenis hutang dalam hidup ini: (1) hutang yang bisa dibayar, dan (2) hutang yang tidak pernah bisa dibayar, forever in debt (selamanya berhutang). Pepatah mengatakan, “hutang uang dibayar uang, hutang budi dibawa mati”. Pararel dengan hal itu, dalam bahasa Arab, ada dua kata yang komposisi hurufnya sama, hanya berbeda satu harokat saja, yakni دِيْنُ  (diinun) dengan دَيْنُ (dainun). Yang pertama berarti “hutang” dan yang kedua biasa diterjemah sebagai “agama”. Dalam salah satu teori kebahasaan Arab, teori Isytiqaq (teori bentukan kata), jika ada dua kata atau lebih yang memiliki struktur komposisi huruf dan harokat yang bermiripan, maka pasti ada kaitan makna yang menghubungkan satu sama lainnya. Dan benar demikian. Baik diin maupun dain bertemu pada makna asalnya, yakni “hutang”. Bedanya, jika dain adalah hutang yang bisa dibayar, maka diin adalah hutang (kita atas rahmat-rahmat Allah) yang tidak pernah bisa kita bayar untuk dilunasi.

Jadi, seseorang itu beragama, ber-diin adalah dalam rangka bertatakrama kepada Allah yang telah menghutanginya tangan, kaki, mata, telinga, hati, akal-budi, menghutangi hidup, setiap hal, segalanya dan semuanya. Atas semua ini, kita akan selalu berhutang, karena kita tak bisa membayarnya. Satu kenikmatan mata saja tak mencukupi dihargai dengan uang. Luas biasa mahal. Di jerman, kabarnya ilmuwan mulai mengembangakan serabut retina mata yang harga serabut-serabutnya saja mencapai milyaran dollar. Begitu mahalnya. Padahal baru serabutnya saja, dan belum ada jaminan akan bekerja sebagus pabrikan Allah. Jika seluruh raga-jiwa dan berlangsungnya kehidupan setiap kita ini dikalkulasi, maka alangkah begitu banyaknya. Sedemikian luar biasa tidak terkira ini, lalu manusia tak sanggup membayar. Itulah mengapa status abadi manusia adalah sebagai hamba Tuhan. Sebagai Abdun, sebagai budak.  

Dalam ranah yang lebih kecil, setiap anak juga akan selalu berhutang kepada orangtuanya. Ini juga termasuk hutang yang tak bisa dibayar. Kita berhutang atas jasa ibu; mengandung, melahirkan bertaruh nyawa, menyusui, membelai. Berhutang atas segala curahan kasih sayang. Sesuatu yang semuanya berada di luar kurs harta-benda materiil.

***

Ternyata, semua manusia hadir ke dunia, sampai bisa seperti ini hari ini, segalanya adalah modal berhutang. Dalam kehidupan ini, hampir-hampir tidak ada yang lahir dari usaha manusia sendiri. Tubuh bukan kita yang bikin. Lahir procot atas jasa ibu. Belajar bediri, belajar ngomong, belajar ini dan itu juga atas jasa orang lain. Kesadaran dan penghayatan merasa berhutang ini sepertinya yang bisa mengendalikan diri kita. Apa bisa disombongkan atas diri ini, jika segalanya adalah hasil hutang?! Itupun kita tidak pernah bisa melunasinya.
***

Ada hal yang menarik. Jika hutang harta-duniawi, membayarnya adalah dengan mengembalikan kepada yang meminjami. Tapi tidak demikian dengan hutang kehidupan, membayarnya justru kepada generasi kehidupan selanjutnya. Jika kita berhutang hidup kepada orangtua kita, membayarnya adalah kepada anak-cucu kita. Menyayangi dan membesarkan mereka sebaik orangtua kita dulu menyayangi dan membesarkan kita. Hutang kehidupan itu seperti tongkat estafet. Terus digilirkan kepada generasi selanjutnya. Inilah cara kehidupan menyediakan jalan bagi kita untuk apen-apen mencicil hutang hidup kepada orangtua kita.

Demikianlah yang juga kira-kira yang dimaksudkan oleh Allah. Kita berhutang kepada-Nya. Tidak kemudian kita menyerahkan sesuatu kepada-Nya. Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Tapi hutang rahmat-Nya tetap harus dicicil. Caranya adalah dengan berbuat baik kepada semua mahluk-mahluk-Nya sebaik Allah berbuat baik atas diri kita. Wa ahsin kamaa ahsanallohu ilaika..

Wallahu a’lam.


Ayiko Musashi,
Klaten, 11 Mei 2012




























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget