Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Agama itu Mudah





Kesempurnaan Islam dan Iman
Betapa mudah dan sederhananya menjadi Islam. Menikah dinilai sebagai pemenuhan setengah beragamanya seseorang. Sudah asyik, diganjar telah memenuhi separo keislamannya lagi. Imam Bukhari meriwayatkan hadis lain, juga masih terkait soal kesempurnaan berislam. Min husni islamil mar’i, tarkuhu maa laa ya’niihi. “Termasuk hal yang dapat menyempurnakan keislaman seseorang itu adalah kerelaannya untuk meninggalkan apa yang tak berguna.” Lagi, hadis dari Imam Bukhari: Al-muslimu man salimal muslimuuna min lisanihi wa yadihi. “Yang disebut orang Islam itu ya orang yang bisa mengamankan saudara-saudaranya sesama Islam dari keburukan yang ditimbulkan oleh lisan dan tangannya.”

Satu kali nabi ditanya: “Ya Nabi, Islam yang bagaimana yang bagus itu?” Nabi menjawab—Islam yang bagus itu adalah—“Memberi makan orang lain dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang kau kenal atau tidak.”

Kemudian, soal kesempurnaan iman, kita bisa menilik hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang isinya menyatakan bahwa seseorang dianggap telah menyempurnakan iman jika mampu menggenapkan tiga hal dalam dirinya, yakni: (1) Jujur terhadap diri sendiri (al-inshofu min nafsih), (2) menebarkan salam kedamaian pada seluruh dunia (badzlus salam lil aalam), dan (3) mendermakan apa yang menjadi kebutuhan umum (al-infaqu minal iftiqar).

Penyempurna iman yang lain ada di hadis yang lain lagi: “Belumlah sempurna iman kalian hingga kalian mampu mencintai saudara-saudaramu selayaknya kalian mencintai diri kalian sendiri.” (laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi maa yuhibba linafsih).

Jadi, melalui hadis-hadis ini, kita seolah diingatkan bahwa berislam itu tidak hanya soal syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji saja; atau juga beriman itu tidak hanya urusan percaya kepada Allah, Nabi, Kitab-kitab suci, Hari akhir, serta Qadha’ dan Qadar saja. Tapi juga ada ruh-ruh penyempurnanya, yang itu sifatnya terkait dalam bingkai kemanusiaan. Setiap sesuatu memiliki dua dimensi: syari’at dan hakikat. Jika yang termasuk rukun Islam dan rukun Iman tadi adalah syari’at, mungkin yang disampaikan oleh hadis-hadis di atas adalah hakikatnya.


Soal yang lain
Setiap kita hadir ke dunia tanpa modal sepeserpun. Kepala, mata, telinga, mulut, leher, dada, tangan, kaki, dan sebagainya, semuanya sudah tersedia, tanpa perlu membeli. Misalkan tuhan itu berdagang, maka tentu semuanya yang ada ini tak kan pernah terbeli. Terlalu mahal! Tapi tuhan amat sangat pemurah. “Ongkos” untuk semua fasilitas tubuh, alam, dan semua kondisi yang mendukung kehidupan ini tuhan hanya minta “retribusinya” sedikiiiiit sekali. Nabi menyebutnya sebagai “shadaqah anggota tubuh”.

Setiap tulang manusia ada sedekah atasnya pada setiap kali matahari terbit—Bagaimana bentuk sedekah itu, ya Nabi? Beliau menjawab, “Gampang!”—Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah. Membantu seseorang menunggang kendaraannya atau mengangkatkan barangnya ke kendaraannya adalah sedekah. Kalimat yang indah adalah sedekah. Setiap langkah menuju shalat adalah sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan adalah sedekah. (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

Tersenyum juga sedekah. Dinilai berpahala. Bahkan, dalam sebuah riwayat dikatakan, idkhaalus-suruur atau membuat orang lain bahagia itu lebih utama daripada ibadah untuk diri sendiri seribu kali. Demikianlah etika bersosial yang diajarkan Nabi. Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Ini prinsipnya. Berbuat baik (ishlah), membuat bahagia orang lain, atau berkomitmen untuk selalu memproduksi kemanfaatan-kemanfaatan. Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh yang lain, yakni: (1) iman kepada Allah dan (2) memberi manfaat kepada sesama muslim.[2] Dalam hadis yang lain lebih tegas lagi Nabi me-rating urutan terbaik manusia: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya.” Khairunnas anfa’uhum linnaas.  




Ayiko Musashi,
Klaten, 10 Oktober 2011





[1] Sebagaimana dikutip dalam M. Quraish Shihab, Dia Dimana-mana Tangan Tuhan Dibalik Setiap Fenomena, (Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2006) hlm. 114-115

[2]  Hadis yang dikutip dalam buku Imam Nawawi al-Bantani, Nasha’ihul Ibad Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba—terj., (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005), hlm. 27.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget