Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Zakaria, Yahya, dan Maryam




ZAKARIA, YAHYA, DAN MARYAM
(Tugas Ujian Studi Komparatif Al-Qur’an  dan Kitab Suci Agama-agama)

Oleh: Abul Haris Akbar (SQH A)




Abstrak


Makalah ini mencoba untuk memperbanding kisah nabi Zakaria, Yahya, dan Maryam, di dalam Al-Qur’an dan Bible. Sumber utama dan menjadi model penyajian makalah ini didasarkan pada situs bibleandkoran.net dengan tema “Zacharias, John, Mary/ Zakariya, Yahya, Maryam” dalam folder “Koran and Bible Side by Side”. Bahan ini kemudian dipanjang-lebarkan uraiannya dengan menambahkan hal-hal yang belum ter-cover dalam uraian di situs terbut.

Tiga tokoh yang menjadi subyek kajian makalah ini memiliki kedekatan hubungan keluarga. Terlahir sebagai orang-orang yang saleh, dan kisah mereka diabadikan dalam kitab suci Islam maupun Kristen. Bagaimanakah kedua kitab suci ini merekam kisah hidup mereka? Inilah yang menjadi bahasan makalah ini.

Hasil kajian makalah ini menunjukkan, lebih banyak kesamaan yang ditemukan di antara kedua kitab suci. Pada substansinya, baik Bible maupun Al-Qur’an menempatkan posisi Zakaria—dan utamanya pada—Yahya, Maryam, dan Isa sebagai tokoh-tokoh suci yang menjadi teladan umat manusia. Poin penting dari hasil kajian ini adalah pada titik kesamaan substansial yang dapat menjadi modal, menjadi ruang dialog, dan alasan bagi umat Kristen dan Islam merasa sebagai saudara.

Kajian ini juga menyertakan lampiran—dalam file terpisah—untuk melihat bunyi ayat yang dikutip dalam penyajian makalah ini secara lengkap.


Zakaria, Yahya, dan Maryam

Pertama-tama, dalam usaha studi perbandingan kisah Zakaria, Yahya, dan Maryam ini penulis menggunakan sistematika dan pemilihan tema yang terdapat dalam situs bibleandkoran.net yang menggunakan penyajian side by side.  

A.     DAFTAR TEMA
Berikut ini adalah daftar tema perbandingan beserta ayat yang dikutip:[1]

Al-Kitab


Al-Qur’an
Kehamilan Elizabet
Lukas 1: 5-7, 11-13, 15-16, 18-22, 24-25
Elizabet dan Maria
Lukas 1: 26-27, 30-31, 34-37 39-42 46, 48
Bayi untuk Elizabet
Lukas 1: 57,59-60,67,76
Yahya Sang Pembaptis – Hidup dan Mati
Lukas 1:80
Matius 3:1-2,4-6
Markus 1:7-11
Matius 14: 8-11



Zakariya dan Anaknya, Yahya
Maryam [19], 2-7
Maryam [19], 8-11
Al-Anbiya’ [21], 90
Zakariya dan Masa Kecil Maryam
Ali ‘Imran [3]: 35-37
Namanya adalah Yahya
Maryam [19], 7
Yahya, Nabi yang Saleh
Al-An’am [6], 84-89
Maryam [19], 12-14
Maryam [19],35
Ali ‘Imran [3]: 39
Maryam [19],15



B.    TOKOH-TOKOH
Beberapa tokoh kunci yang terkait adalah Zakaria = Zacharias, Yahya = John = Yohanes, Maryam = Maria atau Mary, Isa = Jesus. Seperti yang nanti digambarkan dalam skema di bawah, antara Zakaria dengan Yahya adalah hubungan ayah dengan anak. Zakaria dengan Maryam adalah paman dengan keponakan. Yahya dengan Maryam, saudara sepupu. Sedangkan Yahya dengan Isa adalah hubungan paman dengan keponakan.

C.    BEBERAPA KESAMAAN DENGAN SEDIKIT PERBEDAAN
Zakaria, Yahya, dan Maryam adalah tiga tokoh yang sama-sama diceritakan, baik oleh al-Quran maupun Alkitab—dengan beberapa persamaan dan perbedaan. Berikut ini adalah plot utama dengan beberapa perbedaan kecil di dalamnya::

1.      Pengisahan tentang keajaiban: memiliki anak di usia (suami-istri) senja atau mandul, yakni istri Nabi Zakaria. Di dalam Alkitab, sang istri bernama Elizabet, sedangkan di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan secara eksplisit—dan ini adalah gaya Al-Qur’an, jarang menyebut nama wanita. Al-Qur’an lebih sering menyandarkannya kepada sang suami. Misal, tidak menyebut Elizabet tetapi “Imra’atu Imran” (istrinya Imran); tidak menyebut Zulaikha tetapi Imra’atu al-Aziz (istri Sang Raja) [seperti dalam surat 12:30]; tidak menyebut Asiyah tetapi Imra’atu Fir’aun (istrinya Fir’aun) [28:90]. Demikian seterusnya seperti Imra’atu Luth (istrinya Lut) atau Imra’atu Nuh (istrinya Nuh).

Hal yang perlu dicatat adalah, Zakaria memiliki saudari perempuan bernama Hannah. Zakaria memperistri Elizabet, dan Hannah diperistri oleh Imran dalam versi al-Qur’an. Kedua keluarga ini sama-sama belum dikaruniai keturunan hingga mereka berdua lanjut usia.[2] Namun kedua keluarga ini tidak putus asa,[3] hingga Tuhan memberi kabar gembira keduanya. Zakaria dan Elizabet dikaruniai anak laki-laki bernama Yahya,[4] dan Hannah bersama Imran dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Maryam—yang di kemudian hari akan melahirkan nabi Isa.[5]

Al-Qur’an tidak memerinci perihal kegiatan istri nabi Zakaria saat hamil, dan tidak memotret usia kehamilannya, sedangkan Alkitab menerangkan hal tersebut, seperti yang tercantum dalam Lukas 1:24, Lukas 1:26.

Mengenai motivasi nabi Zakaria untuk memiliki keturunan, versi al-Qur’an menyebutkan demi lahirnya generasi penerus perjuangan nabi Zakaria untuk mengingatkan Bani Israil agar menyetiai agama yang dibawa nabi Musa. Lihat surat Maryam: 5. Sedangkan versi Al-Kitab menyebutkan motivasinya sebagai “menghapus kehinaan”. Lihat Lukas 1:25.

1. Gambar Silsilah Nabi Zakaria, Yahya, Maryam, dan Isa


2.      Berita tentang kelahirannya sama-sama disampaikan oleh malaikat.
Baik Al-Qur’an maupun Alkitab menceritakan bahwa berita gembira berupa kelahiran (di usia senja) itu disampaikan melalui malaikat dengan tanda “tidak bisa bicara selama tiga hari” bagi Zakaria.

Perbedaannya adalah, Alkitab menandai “tidak bisa bicara”-nya Zakaria sebagai hukuman karena Zakaria sempat tidak percaya dengan kabar yang disampaikan malaikat. Lihat Lukas 1:20. Zakaria memang sempat bertanya: “Bagaimana mungkin aku masih bisa punya anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku mandul?!” Pertanyaan inilah yang dinilai sebagai tidak percaya atas berita melaikat, sehingga Zakaria dihukum tidak bisa bicara selama tiga hari.

Versi Al-Qur’an juga merekam bagaimana kondisi psikis Zakaria yang gembira sembari juga terkejut mendapatkan kabar bahwa dia akan mendapat keturunan. Zakaria bertanya keheranan karena begitu bahagianya: “Bagaimana mungkin aku masih bisa punya anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku mandul?!” “Itu mudah bagi Tuhan-mu”, dan Zakaria meminta diberikan tanda untuk meneguhkan hatinya. Tuhan mengiyakan permohonan Zakaria, dan tanda kebenaran berita tersebut adalah Zakaria tidak bisa bicara kepada siapapun selama tiga hari.

Jadi, “bisu”-nya Zakaria adalah hukuman, menurut Alkitab; sedangkan menurut Al-Qur’an “kebisuan” itu justru memang tanda yang diminta oleh Zakaria sendiri untuk meneguhkan hatinya agar tidak bimbang.

  1. Kesamaan Al-Qur’an dan Alkitab dalam menjelaskan Yahya sebagai seseorang yang saleh.


D.    BEBERAPA PERBEDAAN
Beberapa perbedaan antara Al-Qur’an dan Alkitab terletak dalam penggambaran nabi Yahya.

  1. Ekspos detil kehidupan nabi Yahya tidak banyak disinggung oleh al-Qur’an, dan sama sekali tidak dijelaskan perihal kematian nabi Yahya, sedangkan Alkitab menjelaskan dengan lebih rinci mengenai hidup dan meninggalnya nabi Yahya.

  1. Di dalam Alkitab, nabi Yahya disebut sebagai “Yahya Sang Pembaptis”, karena memang nabi Yahya-lah yang membaptis Isa sebelum ia menjadi tuhan. Peran nabi Yahya yang demikian ini tidak ada di dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menggelari nabi Yahya sebagai anak Zakaria dan seorang nabi yang saleh.

Bagi al-Qur’an, Yahya bukan pembaptis, tetapi Nabi istimewa dengan 10 keutamaan (Lihat surat Maryam: 12-14, dan Ali Imran: 39) Beliau digambarkan oleh al-Qur’an dengan kualitas-kualitas: (1) diberi hikmah sejak masih kecil, (2) memiliki belas-kasih (3) orang suci, (4) bertakwa, (5) berbakti kepada dua orang tuanya, (6) bukan orang yang sombong dan durhaka, (7) membenarkan kalimat Allah, (8) yang menjadi panutan, (9) orang yang mampu menahan diri, dan (10) seorang Nabi yang saleh. Jadi, al-Qur’an lebih mendudukkan nabi Yahya sebagai seorang tokoh teladan daripada sebagai tokoh yang memegang jabatan (pembaptis).


E.     BEBERAPA CATATAN MENARIK
1.      Mengenai Maria atau Maryam, ia adalah tokoh perempuan yang diistimewakan oleh al-Qur’an. Seperti yang telah disebutkan, al-Qur’an jarang sekali menyebutkan nama perempuan, dan nama Maryam adalah bagian dari perkecualian itu—bahkan ia dijadikan nama dari surat ke sembilanbelas di dalam al-Qur’an.

Versi al-Qur’an sedikit berbeda dengan Versi Alkitab dalam hal pencantuman keterangan bahwa Maryam atau Maria telah bertunangan dengan Yusuf keturunan Daud saat mengandung Isa. Lihat Lukas 1:27.

Perbedaan lainnya adalah, Versi al-Qur’an mencatat interaksi Maryam lebih banyak bersinggungan dengan nabi Zakaria, yang saat itu menjadi wali atau pengasuhnya saat Maryam masih kecil. Ini berbeda dengan Versi Alkitab yang banyak menayangkan slide di mana Maryam banyak berinteraksi dengan Elizabet (istri nabi Zakaria)—seperti yang tercantum dalam tema “Elizabet dan Maria” di bawah nanti.

2.      Jika Alkitab menerangkan rekaman terbunuhnya Yahya, al-Qur’an cenderung untuk tidak menampilkannya. Meskipun demikian, al-Qur’an menyebutkan soal “tragedi pembunuhan terhadap nabi-nabi” yang dilakukan oleh Bani Israil. Ada 6 ayat yang menerangkan tragedi tersebut: 2:61, 2:91, 3:21, 3:112, 3:181, 4:155. Rata-rata, pelaku yang melakukan pembunuhan itu adalah kaum Yahudi. Ironisnya, yang mereka bunuh adalah nabi mereka sendiri, dari kalangan mereka sendiri. Banyak nabi telah mereka bunuh.. Nabi Yahya mereka bunuh, kemudian nabi Zakaria juga mereka bunuh dengan modus mutilasi.

3.      Alkitab memberikan citra Yahya sebagai sosok yang dihormati juga oleh Isa atau Jesus, karena Yahyalah yang membaptisnya sebelum menjadi tuhan. Al-Qur’an juga memberikan kesan demikian—meskipun tidak karena soal baptis-membaptis. Ini tersirat dari bentuk ucapan salam yang khas bagi dua nabi ini. Dua salam ini terkandung dalam satu surat yang sama, yakni surat Maryam. Komposisi lafalnya hampir serupa, hanya penuturnya saja yang berbeda. Untuk nabi Yahya, Allah sendiri yang memberikan salam tersebut, sehingga salam itu berbunyi:
N»n=yur Ïmøn=tã tPöqtƒ t$Î!ãr tPöqtƒur ßNqßJtƒ tPöqtƒur ß]yèö7ム$wŠym
Kesejahteraan atas dirinya (Yahya) pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (Maryam: 15)

Sedangkan untuk Isa, ucapan salamnya ia ucapkan sendiri, dengan bunyi:

ãN»n=¡¡9$#ur ¥n?tã tPöqtƒ N$Î!ãr tPöqtƒur ÝVqãBr& tPöqtƒur ß]yèö/é& $|ym
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (Maryam: 33)


Dari bentuk salam dan penuturnya ini, al-Qur’an mengesankan bahwa dalam beberapa hal, Yahya, sang paman, lebih diistimewakan oleh al-Qur’an, karena ucapan salamnya berasal dari Tuhan langsung.  

Salah satu buku Nabi-Nabi Allah, yang mengisahkan nabi-nabi dalam agama Islam, menuliskan persona nabi Yahya sebagai berikut.


“Sebagaimana nabi Khidhir a.s. (alahi as-salam) mendapatkan anugerah berupa ilmu langsung dari sisi Allah, Yahya a.s. juga mendapatkan karunia yang berupa [sifat] hanan dari sisi-Nya. Jika ilmu adalah pemahaman, maka hanan adalah ilmu menyeluruh yang tercermin dalam bentuk cinta dan kasih sayang yang mendalam terhadap alam. Seolah-olah hanan adalah salah satu tinkatan perasaan cinta yang lahir dari alam.”[6]


4.      Sebagai Informasi tambahan, Syauqi Abu Khalil dalam buku Atlas of The Qur’an menuliskan keterangan bahwa nama nabi Yahya disebutkan hanya lima kali di dalam al-Qur’an, yakni: Ali Imran: 39; al-An’am: 85; Maryam: 7,12; al-Anbiya’: 90. Buku tersebut juga menyebut Masjid Umawi di Damaskus yang disebut sebagai monumen nabi Yahya. Syauqi menandai beberapa tempat yang terkait dengan nabi Yahya: Damaskus, Palestina, dan Sungai Jordan—yang sering dikatakan sebagai tempat nabi Yahya membaptis nabi Isa.[7]


Daftar Pustaka

Ahmad Bahjat, Nabi-Nabi Allah, (Jakarta Timur: Qisthi Press, 2008)
Hilmi Ali Sya’ban, Nabi Zakaria, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2011)
Shauqi Abu Khalil, Atlas of The Qur’a, Places, Nations, Landmarks, An Authentic Collection of The Qur’anic Information with Maps, Tables, & Pictures, (Riyadh: Darussalam, tt) hlm, 136-139.



[2] Lihat uraian historis dari Hilmi Ali Sya’ban, Nabi Zakaria, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2011)

[3] Pernyataan optimistik Nabi Zakaria ini terekspos dalam surat Maryam ayat 4: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.

[4] Merujuk pada Al-Qur’an surat Maryam [19]: 2-7, surat Al-Anbiya’ [21]: 90,

[5] Merujuk pada Al-Qur’an surat Ali Imran [3]: 35-37
[6] Lihat Ahmad Bahjat, Nabi-Nabi Allah, (Jakarta Timur: Qisthi Press, 2008), hlm. 436.

[7] Lihat Shauqi Abu Khalil, Atlas of The Qur’a, Places, Nations, Landmarks, An Authentic Collection of The Qur’anic Information with Maps, Tables, & Pictures, (Riyadh: Darussalam, tt) hlm, 136-139.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget