Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Ilmu Tashif dan Tahrif




A.     Urgensi Serta Pengertian Tashif & Tahrif
Ini adalah cabang Ulum al-Hadis yang sangat penting untuk mengungkap kesalahan-kesalahan di dalam proses periwayatan sebuah hadis, apakah itu menyangkut sanad maupun matannya. Mekanisme kerjanya hampir seperti pekerjaan seorang editor atau proof-reader di dalam sebuah penerbitan buku.

Banyak buku yang berbahasa Indonesia memberikan keterangan yang serupa mengenai disiplin ilmu ini. Umumnya hanya disampaikan secara singkat saja jika dibandingkan dengan kajian Ulum al-Hadis yang serupa, seperti Ilmu Jarh wat Ta’dil, Ilmu Mukhtalaf al-Hadis. Salah satu definisi yang seirng muncul adalah menjelaskan Ilmu tashif dan tahrif sebagai:
علم يُعرفُ به مَا صُحِّفَ من الاحاديث وما حُرِّف منها
“Ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah diubah titiknya (mushahhaf),
dan bentuknya (muharraf)”

Mahmud at-Thahhan dalam buku Taisir Musthalah Hadits—ketika membahas bab “al-Mardud bi Sababi Tha’ni fi ar-Rawi—menyebutkan hadis Mushahhaf. Beliau menjelaskan, secara bahasa, “Musahhaf” adalah isim maf’ul dari “at-Tashif”, yakni kesalahan dalam lembaran. (al-khatha’ fi as-Shahifah); dan dari kata tersebut muncul istilah “As-Shuhafi” yakni orang yang salah dalam membaca (tulisan di suatu) lembaran, sehingga sebagian makna tulisan tersebut berubah karena kesalahan dalam membacanya tadi. Secara istilah, tashif berarti berubahnya suatu kalimat—baik lafal atau maknanya—di dalam suatu hadis menjadi sesuatu yang berbeda dari apa yang telah diriwayatkan perawi yang tsiqah.[1]

Dalam buku Ushul al-Hadits, Ajjaj Khathib mendefinisikan ilmu Tashif sebagai:
ما وقع فيه التغير فى اللفظ أو المعنى
dan satu definisi lagi yang lebih spesifik, yakni
 .[2]تغير حرف أو حروف بتغير النطق مع بقاء صورة الخط. Contoh Tashif dalam penulisan nama: yang semestinya ((عبدالله)) ditulis ((عبيد الله)), atau ((أبي زياد)) ditulis[3]((أبي زيد))Seperti juga lafal ((العذل)) menjadi ((العدل)). Ada perubahan huruf dalam bentuk khathth yang sama.[4]

Imam as-Sakhawi memberikan definisi yang lebih bisa mencakup banyak perbedaan definisi mengenai tashif yang sudah diajukan oleh para ulama. Ia mengatakan bahwa yang disebut tashif itu adalah تحويل الكلمة عن الهيئة المتعارفة إلى غيرها, perubahan suatu makna kalimat kepada makna selainnya. Definisi-definisi yang lain lebih variatif dan sangat mendetail dalam mendefinisikan tashif, dan berikut ini adalah macam-macam yang penulis kutipkan langsung dari sumbernya:

1.    تغيير في حروف الكلمة مما تختلف فيه صورة الخط : مثاله :
قال الشافعي : " صحف مالك في عمر بن عثمان وإنما هو عمرو بن عثمان ، وفي جابر بن عتيك وإنما هو جبر بن عتيك ، وفي عبد العزيز بن قرير وإنما هو عبد الملك بن قريب وقال أحمد : " صحف شعبة ( مالك بن عرفطة ) إنما هو خالد بن علقمة "

2.     تغيير في نقط أو شكل الكلمة مع بقاء صورة الخط : وهذا أكثر إطلاق المحدثين .
مثاله : تصحيف ابن معين العوام بن مراجم بالراء والجيم ، إلى مزاحم بالزاي والحاء .
"تدريب الراوي" (2/648)

3.     قلب الاسم : قال الحاكم : " سمعت أبا علي الحافظ يقول : صحف فيه أبو حنيفة ، لإجماع أصحاب الزهري على روايته عنه عن الربيع بن سبرة عن أبيه ( وهو إنما قال عن سبرة بن الربيع )

4.    إبدال لفظة مكان أخرى : مثاله :
روى الحاكم حديث المُحرِم الذي وقصته دابته وفيه قول النبي – صلى الله عليه وسلم – (ولا تخمروا وجهه ، فإنه يبعث يوم القيامة ملبيا ) ثم قال : " ذكر الوجه تصحيف من الرواة لإجماع الثقات الأثبات من أصحاب عمرو بن دينار على روايته عنه ( ولا تغطوا رأسه ) وهو المحفوظ

5.     إبدال راو بآخر : مثاله : قال الحاكم : " صحف بقية بن الوليد في ذكر صفية ولم يتابع عليه ، والحديث عن جويرية " انتهى .

6.    تغيير المعنى . قال العراقي "التبصرة والتذكرة" (2/300-301) :
"ومن أمثلة تصحيف المعنى ما ذكره الخطابي عن بعض شيوخه في الحديث أنه لما روى حديث النهي عن التحليق يوم الجمعة قبل الصلاة قال : ما حلقت رأسي قبل الصلاة منذ أربعين سنة ، فهم منه تحليق الرؤوس ، وإنما المراد تحليق الناس حلقا " انتهى .[5]

Seperti yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut, tashif maupun tahrif ini bisa menimpa pada sanad dan matan hadis. Modelnya bervariasi. Bisa sanadnya saja yang tertimpa, bisa matannya saja, atau bisa juga dua-duanya terjadi tashif dan tahrif. Dengan demikian, maka wilayah kajian yang digeluti studi tashif dan tahrif mencakup sanad dan matan.[6]

B.     Ilmu Tashif dan Ilmu Tahrif: Digabung Atau Satu Ilmu
Al-Hafidz Ibnu Hajar membagi ilmu ini menjadi dua bagian. Ilmu Tashif dan Ilmu Tahrif. Sedangkan Ibnu Shalah dan parapengikutnya menggabungkan kedua ilmu ini menjadi satu ilmu. Menurutnya, ilmu ini merupakan satu disiplin ilmu yang bernilai tinggi, yang dapat membangkitkan semangat para ahli hafalan (huffazh). Hal ini karena disebabkan, hafalan para ulama terkadang terjadi salah baca dan salah dengar yang diterimanya dari orang lain.[7] Beberapa definisi seperti yang digagas oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar lebih memilah bahwa yang dimaksud tahrif adalah kesalahan yang terkait dengan harakat atau syakl huruf. Sedangkan tashif lebih terkait dengan urusan pemberian titik.[8] Kedua jenis ini terjadi dalam kerangka bentuk teks yang sama, tidak berubah (ma’a baqa’I shurat al-khathth).[9]

Pengertian Tahrif
Untuk memberikan sebuah pandangan yang lebih luas, penulis jelaskan dahulu mengenai pengertian tahrif. Hadis yang terdapat tahrif di dalamnya disebut hadis Muharraf, yang secara bahasa, ia adalah isim maf’ul dari kata at-tahrif , yang artinya adalah berubahnya sebuah kalimat dari maknanya (yang awal). Istilah tahrif di dalam al-Qur’an seirngkali dilekatkan kepada umat Yahudi yang mengubah makna Taurat dengan sesuatu yang lain, maka Allah menyifati perbuatan mereka: يُحَرِّفُوْنَ الكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ di dalam surat al-Maidah ayat 13.

Secara istilah, tahirf adalah sesuatu yang menjadi berbeda (makna atau referennya) karena berubahnya syakl di dalam suatu kalimat dengan bentuk tulisannya yang tetap sama (ma’a baqa’i shurat al-khathth). Pengertian ini adalah implikasi pemisahan kajian tahrif dari kajian tashif seperti yang dilakukan oleh Ibnu Hajar. Seperti yang Ibnu Shalah pilih, jika keduanya tidak dipisahkan atau berdiri sendiri, maka kajian tahrif sudah otomatis masuk di dalam kajian tashif, yakni setiap perubahan yang terjadi dalam satu kalimat, walau tanpa harus mensyaratkan tetapnya bentuk khathth.[10]  

Model pengertian yang demikianlah yang digunakan oleh al-Askariy di dalam kitab Tashifat al-Muhadditsin, yakni:  إبدال الكلمة بأخرى، أو تغيير الرواية. Jadi, beliau memandang dua hal ini saling berkaitan. Ketika beliau mengatakan “disini terjadi tashif”, maka maknanya adalah “ada yang sudah berubah (bentuknya)” sehingga mengakibatkan tahrif, yakni perubahan makna.[11]

Dalam pendapat yang lain, disebutkan bahwa tahrif  lebih umum cakupannya daripada tashif, karena tahrif adalah apa saja yang berubah dari bentuk awalnya; baik itu karena adanya tambahan di dalam satu kalimat, pengungaran, atau penggantian sebagian kalimat, seperti yang dinyatakan dalam pernyataan berikut.

والتحريف : هُوَ العدول بالشيء عن جهته ، وحرَّف الكلام تحريفاً عدل بِهِ عن جهته ، وَقَدْ يَكُوْن بالزيادة فِيْهِ ، أو النقص مِنْهُ ، وَقَدْ يَكُوْن بتبديل بعض كلماته ، وَقَدْ يَكُوْن بجعله عَلَى غَيْر المراد مِنْهُ ؛ فالتحريف أعم من التصحيف[12]

C.     Sebab Terjadinya Tashif: Musyafah sebagai Metode Belajar
Sebab terjadinya tashif kebanyakan dikarenakan oleh cara belajar yang hanya mengandalkan materi teks saja—lebih tepatnya, teks gundul, yang tidak bertitik dan tidak berharakat padahal yang karakter hurufnya hampir mirip seperti ba’ dengan ta’, tsa’ atau nun—tanpa bertatap muka dengan guru yang ahli di bidangnya, atau juga karena faktor lupa [?] (isti’nas).[13] Dalam sebuah artikel, dikemukakan:
والسبب في وقوع التصحيف والإكثار مِنْهُ إنما يحصل غالباً للآخذ من الصحف وبطون الكتب ، دون تلق للحديث عن أستاذ من ذوي الاختصاص[14]
Ibnu Shalah menulis:
ينبغى للمحدث ألا يروى حديثه بقراءة لَحَّانٍ أو مُصَحِّف ... وأما التصحيف فسبيل السلامة منه الأخذ من أفواه أهل العلم والضبط فإن من حرم ذلك وكان أخذه وتعلمه من بطون الكتب كان من شأنه التحريف ولم يفلت من التبديل والتصحيف[15]

Ajjaj Khathib di dalam buku Ushul al-Hadits, berkenaan dengan masalah tashif ini, menyinggung masalah metode belajar yang tepat untuk menghindari terhadinya tashif. Seperti diketahui, tashif terjadi pada seputar i’jam (pemberian titik) dan syakl (pemberian harakat). Salah satu penyebabnya, menurut Khathib, adalah karena menjadikan tulisan atau kitab sebagai sumber satu-satunya mendapatkan ilmu. Cara yang seperti ini “dilarang” oleh banyak ulama, karena rawan terjadi tashif, salah baca karena persoalan i’jam dan syakl tadi. Maka dari kondisi demikian, muncullah pernyataan-pernyataan seperti:
لا تأخذوا للقران من المصحفين, ولا العلم من الصحفيين
Hal yang dianjurkan, dalam kaitannya dengan periwayatan hadis, adalah berguru kepada seorang syeikh atau ahli di bidangnya secara talaqqi (tatap muka), dan musyafahah (saling mempraktikkan bacaan). Metode ini sangat menekankan pada tradisi lisan, karena mekanismenya banyak melibatkan pengucapan, pendengaran (sima’), dan hafalan.[16]

Sebuah tulisan di dalam salah satu artikel di sebuat web, menyebutkan secara lebih rinci mengenai sebab-sebab terjadinya tashif. Ada enam penyebab, yakni:

  1.  خطأ في قراءة المكتوب، بسبب رداءة الخط، أو غرابته، أو ضعف البصر، أو العجلة في القراءة، أو غير ذلك.
  2. خطأ في كتابة ما يراد كتابته، سواء كان من حفظ أو كتاب أو إملاء الغير، سواء كان ذلك من سبق القلم كما يقولون، أو من غيره.
  3. خطأ في التلفظ، وأكثره من باب سبق اللسان.
  4. خطأ في السمع، أي سمع التلميذ، بسبب بعد الشيخ أو المملي أو ضعف صوته أو ضعف أدائه، أو سرعة كلامه أو مؤثر خارجي أو غير ذلك.
  5.  تغير اللفظة في الكتاب، بعد أن كانت مكتوبة على الصواب، بسبب من الأسباب.
  6.  تغير اللفظة في الحفظ، بعد أن كانت محفوظة على الصواب، بسبب من الأسباب أيضاً.

Enam penyebab di atas, ada kalanya yang terjadi secara disengaja, dan daftar sebab terjadinya tashif bisa lebih banyak lagi jika mempertimbangkan aspek-aspek yang lainnya. Ini adalah salah satu bentuk inventarisasi penyebab tashif yang sifatnya masih terbuka.[17]

D.    Pembagian Tashif
Dengan menggunakan sistematisasi yang dilakukan Mahmud Thahhan, ada tiga jenis Tashif, yang di setiap jenis tersebut dikelompokkan dalam satu segi tertentu. Berikut ini pembagiannya.
1.      Dari segi tempat terjadinya Tashif, maka fenomena Tashif terbagi menjadi dua
  1. Tashif dalam sanad. Contoh: hadis Syu’bah dari
الْعوَّام ابن مُرَاجِم
Yahya bin Ma’in melakukan tashif. Yang benar adalah الْعوَّام ابن مُزََاحِمِ. Jadi, (ز) diganti dengan (ر), dan (ح) diganti dengan (ج)
حَدِيْث شعبة ، عن العوام بن مراجم، عن أبي عثمان النهدي عن عثمان بن عفان، قَالَ: قَالَ رَسُوْل الله: ((لتؤدنَّ الحقوق إلى أهلها…الْحَدِيْث))
  1. Tashif dalam matan. Contoh: Hadis Zaid bin Tsabit
أن النبي صلى الله عليه وسلم
...اِحْتَجَرَ فى المسجد..
Ibnu Lahi’ah melakukan tashif dengan
 ...اِحْتَجَمََ فى المسجد..

2.      Dari segi penyebab terjadinya tashif, juga terbagi menjadi dua:
  1. Tashif Bashar. Inilah penyebab yang paling banyak. Modusnya biasanya antara lain karena bentuk tulisan (khathth) yang serupa, atau karena kondisi teks yang sudah sangat buruk, atau karena tidak ada tanda baca (adam an-nuthq). Contoh:
((مَنْ صام رمضان وأتبعه سِتًّا من شوال....))
Abu Bakr as-Shuli melakukan tashif dengan mengatakan ((سِتًّا)) menjadi ((شَيْئًا))
((مَنْ صام رمضان وأتبعه شَيْئًا من شوال....))

  1. Tashif as-Sama’. Jenis tashif yang muncul karena buruknya pendengaran atau karena jauhnya jarak sang pendengar dari pusat informasi atau semacamnya, sehingga beberapa kalimat terdengar sama karena terbentuk dari wazan sharf yang satu. Contoh
عن "عاصم الأحوال"
عن "واصل الأحدب"
Kalimat di kiri telah mengalami tashif as-Sama’, dan modusnya adalah karena kemiripan wazan sharf di antara kedua kalimat di atas.

3.      Dari segi lafal atau makna, juga masih terbagi menjadi dua.
  1. Tashif dalam lafadz. Inilah yang paling banyak, seperti yang telah tersebut dalam contoh-contoh di atas.
  2. Tashif dalam makna.

E.     Klasifikasi dan Contoh Kasus dalam Kitab Tashifat al-Muhadditsin
Abu Ahmad al-Askariy telah menulis sebuah karya besar berjudul Tashifat al-Muhadditsin yang fokus membahas masalah tashif dan tahrif. Beliau mencatat beberapa model kesalahan yang masing-masingnya dikelompokkan dalam bab-bab tersendiri yang sudah dinamai sesuai dengan jenis kesalahan yang terjadi. Berikut ini adalah daftar model kesalahan tersebut.[18] [sementara ini penulis tidak mencantumkan contoh dan uraian detailnya terlebih dulu dalam format draft ini. Kekurangan ini akan dilengkapi pada saat presentasi mendatang]
·        و مما يغلط فى ضبطه
·        ومما يشكل
·        ومما فيه وجهان
·        و مما يروى على وجهين
·        ومما يشكل ويصحف
·        ومما يصحف
·        ومما يصحف و يشكل
·        ومما يشكل وله وجوه فى ستعماله
·        ومما يشكل شديدا
·        ومما صحفوه
·        ومما يشكل كثيرا
·        ومما يغلط فيه
·        و مما ينبغى ضبطه
·        ومما وجهان أحدهما أرجح
·        ومما اختلفوا فيه
·        ومما قلبواه وصحفوه
·        ومن شديد التصحيف
·        ومما يغلط فيه من أسماء المواضع
·        ومن المشكل
·        ومن التصحيف





F.      Implikasi Tashif terhadap Integritas Intelektual Seorang Rawi
Apakah kejadian tashif bisa merusak integritas intelektual perawi (dhabth ar-rawi)? Tema ini jarang sekali didiskusikan. Mahmud Thahhan menyebutkan dua kemungkinan:
1.      Jika tashif tersebut frekuensinya sedikit atau bahkan jarang terjadi, maka itu tidak akan merusak integritas seorang rawi, karena tidak ada seorangpun yang bisa bebas dari melakukan kesalahan dan sedikit tashif.
2.      Sebaliknya, jika seorang rawi sering melakukan tashif, maka ini bisa menciderai ke-dhabith-annya, dan ini menjadi indikasi lemahnya integritas intelektualnya.[19]

G.    Apakah Hari Ini Sudah Tidak Ada Lagi Tashif?
Sebuah diskusi yang menarik di dalam web adalah—seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu sebab terjadinya tashif adalah karena berguru pada teks saja, yang teks tersebut gundul dari titik dan harakat. Jika demikian, bagaimana dengan perkembangan ortografi yang sudah lengkap seperti zaman saat ini, apakah tashif masih ada? Apakah masih mungkin seseorang menemukan sebuat kalimat ‘aneh’ (syadzdzah) yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan, lantas ia membenarkannya? Ataukah kajian ini sudah selesai, karena setiap hadis yang saat ini ada sudah tidak terdapat lagi tashif dan tahrif?

Jawabannya adalah, tashif dan tahrif masih mungkin terjadi. Hanya saja penyebabnya sedikit lebih sempit, yakni karena ketergesaan dalam menulis (bi sabab al-‘ujlah) dan karena ketidaktahuan (qullat al-ma’rifat) petugas yang menguasai masalah editing atau ilm at-tahqiq para editor—jika konteksnya adalah buku yang diterbitkan.

Kasus yang dicontohkan di dalam diskusi tersebut adalah tashif yang terjadi pada al-Hafizh Abd al-Haqq al-Isybiliy di dalam kitabnya al-Ahkam al-Wustha, ketika menyebutkan hadis:
((يمسح المتيمم هكذا ، فبدأ من مقدم رأسه إلى آخره))
Ibn al-Qaththan memberikan kritik untuk penulisan hadis ini. Dalam kalimat yang bergaris bawah di atas, bisa jadi yang dimaksudkan adalah kalimat ((اليتيم)), tapi tertulis ((المتيمم)). Kemungkinan salah tulis itu semakin menguat ketika didapati bahwa hadis tersebut dican-tumkan di dalam bab tayammum ((التيمم)).[20]

H.    Hukum Membenarkan Kasus Hadis yang mengalami Tashif dan Tahrif
Ada perbedaan pendapat di antara ulama, apabila periwayatan seorang rawi, baik dalam sanad atau matan hadis, terjadi tashif atau tahrif: apakah boleh dibetulkan (tashih at-tashif dan dhabth at-tahrif)?[21]

Pendapat pertama: sebagian ulama berpendapat bahwa pembetulan seperti di atas tidak diperbolehkan. Jadi, dibiarkan saja sebagaimana adanya dalam tulisan (yang salah) itu. Pada pendapat ini tidak dijelaskan alasan mengapa tidak diperbolehkan melakukan pembetulan.

Pendapat kedua justru membolehkannya, merubah (dalam arti mengoreksi), membetulkan, serta meriwayatkan versi yang sudah dibetulkan. Ini adalah pendapat yang disandarkan pada Ibnu al-Mubarak dan al-Auza’iy. Pembetulan atau koreksi (hadis mushahhaf dan muharraf) di dalam kitab juga dibolehkan oleh sebagian ulama.

Sedikit menengahi di antara dua pendapat di atas, Imam Nawawi lebih memilih untuk membiarkan saja kesalahan tersebut sebagaimana aslinya teks yang salah tadi, tapi tetap memberikan koreksi dan menjelaskan versi yang benar darinya di tempat lain, yakni dalam Hasyiyah kitab.[22]


I.       Referensi Yang Bisa Dirujuk
Beberapa kitab yang disarankan untuk dirujuk sebagai referensi antara lain: kitab At-Tashif karya Daruquthniy, kitab Ishlah Khatha’ al-Muhadditsin, karya Khathabi, dan kitab Tashifat al-Muhadditsin karya Abu Ahmad al-Askariy.[23] Selain itu, tema tahsif dan tahrif ini juga bisa dicermati dalam kitab-kitab berikut:[24]

Pengarang
Kitab
أبي هلال العسكري
شرح ما يقع فيه التصحيف والتحريف
الصفدي
تصحيح التصحيف وتحرير التحريف
السيوطي
التطريف في التصحيف وه رسالة
الإمام الحافظ أبو سليمان الخطابى
إصلاح غلط المحدثين
القاضى عياض
ومشارق الأنوار
الخطيب البغدادى
تلخيص المتشابه فى الرسم وحماية ما أشكل منه عن بوادر التصحيف والوهم
ابن ماكولا
تهذيب مستمر الأوهام على ذوى المعرفة وأولى الأفهام
الذهبى
المشتبه

J.      Sisi Lain Ilmu Tashif
Fokus kajian Tashif dan Tahrif ini menunjukkan, secara tidak langsung, ketelitian dan begitu besarnya perhatian pada ulama hadis terhadap hadis Nabi.[25]


[1] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah Hadits, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), hlm. 94-95.
[2] Muhammad Ajjaj Khathib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Mushthalahuhu,  (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hlm. 374.
[3] LIhat contoh dalam web http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=74360 (Akses tanggal 29 Oktober 2011)

[5] Diakses dalam web http://www.islamqa.com/ar/ref/100266 (akses tanggal 29 Oktober 2011)

[6] Lihat http://uqu.edu.sa/page/ar/60271 (Akses tanggal 29 Oltober 2011).
[7] Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 41-42.
[8] Moh.Anwar, Ilmu Musthalah Hadits, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981), hlm. 168-169.

[9] Lihat Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah Hadits, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), hlm. 96.

[10] Diambil dari web http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=121012 (Akses tanggal 29 Oktoer 2011)

[11] Lihat web Diambil dari web http://www.alukah.net/Culture/0/453/ (Akses tanggal 29 Oktober 2011)
[12] Diambil dari web http://majles.alukah.net/showthread.php?p=130287#post130287 (akses tanggal 29 Oktober 2011)
[13] Diambil dari web http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=74360 (Akses tanggal 29 Oktober 2011)

[14] Dikutip dari web http://uqu.edu.sa/page/ar/60271 (Akses tanggal 29 Oltober 2011)
[16] Muhammad Ajjaj Khathib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Mushthalahuhu,  (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hlm. 373-374.
[17] Diambil dari web http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=74360 (Akses tanggal 29 Oktober 2011)
[18] Lihat Al-Askariy, Tashifat al-Muhadditsin, (Kairo: al-Mathba’ah al-Arabiyyah al-Haditsah, 1982)

[19] Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah Hadits, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), hlm.96.

[20] Diambil dari web http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=74360 (Akses tanggal 29 Oktober 2011)

[21] Maksud tashih at-tashif adalah membetulkan dengan cara membenarkan pemberian titik yang benar atas satu atau beberapa huruf, sedangkan dhabth at-tahrif adalah membenarkan kesalahan dari sisi pemberian syakl. Istilah ini merujuk pada pendefinisian tashif dan tahrif ala Ibnu Hajar al-Atsqalaniy.

[22] Diambil dari web Diambil dari web http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php? t=121012 (Akses tanggal 29 Oktoer 2011)

[23] LIhat Hasbi as-Shiddiqiey, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980) hlm. 160.  Lihat Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 41-42. Lihat juga Endang Soetari, Ilmu Hadis, (Bandung: Amal Bakti Press, 1994) hlm. 215-216. Lihat juga Mahmud at-Thahhan, Taisir Musthalah Hadits, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), hlm.96.

[24] Lihat dalam http://www.ahlalhdeeth.cc/vb/showthread.php?t=74360 (Akses tanggal 29 Oktober 2011).

[25] Muhammad Ajjaj Khathib, Ushul al-Hadits Ulumuhu wa Mushthalahuhu,  (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hlm. 375.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget