Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Simbol Pohon




Manusia, agama dan pohon memiliki hubungan yang unik. Kalau Natal-an, ada pohon cemara yang hampir selalu disertakan. Ini simbol. Pohon cemara itu tumbuh di semua musim, daunnya selalu hijau, dan tidak pernah rontok. Maka ia dijuluki “tetumbuhan hijau abadi”. Ada proses fotosintesis yang unik di sana. Model hidup cemara yang sedemikian “evergreen” inilah yang kemudian ingin dihayati dan ditiru. Selalu hijau, tumbuh di semua musim, dan tidak pernah rontok daunnya.

Hindu punya pohon yang bernama “Banyan”. Kita di Indonesia menyebutnya “Pohon Beringin”. Dalam Bhagavad Gita, Krisna mengatakan: “…Di antara semua pohon, aku adalah pohon Banyan..”. Pohon ini unik karena akarnya justru naik ke atas, sedang cabangnya menjuntai ke bawah. Lagi-lagi ini simbol, bahwa dunia materi adalah refleksi dari dunia spiritual. Dunia materi hanyalah bayangan realitas sejati. Di dalam bayangan, tidak ada kenyataan atau substansi, tapi melalui bayangan jualah kita paham bahwa ada substansi dan kenyataan yang sejati. Pohon Banyan ("Vat Vriksha" dalam bahasa Sansekerta) sakral bagi umat Hindu. Ia adalah simbolisasi sempurna akan keabadian, karena sifat pohon ini yang seperti tidak berhenti membesar. Ada yang mengatakan bahwa Pohon Bodhi, tempat Siddharta mendapatkan pencerahannya, adalah ya Pohon Banyan ini.

Kita yang orang Indonesia juga sangat akbrab dengan Pohon (Beringin) ini, hingga ia dimasukkan sebagai salah satu Perisai Garuda kita—selain bintang, rantai, kepala banteng, serta padi dan kapas. Pohon Beringin menjadi simbol sila ketiga: Persatuan Indonesia. Karena pohon beringin memiliki banyak akar yang membentuk satu batang pohon kokoh. Ini juga yang ingin diasosiasikan dengan Indonesia: banyak etnik, suku, bahasa, dan ragam budaya, yang menyatu menjadi satu bangsa kokoh bernama Indonesia.

Di dalam Islam, ada pohon bernama “Sidrat al-Muntaha” atau “Sidratul Muntaha”. Beberapa mengartikannya sebagai “Pohon Kehidupan”, beberapa menyebutnya sebagai pohon bidara yang menandai akhir dari Langit atau Surga Ketujuh, sebuah batas dimana makhluk tidak dapat melewatinya, tempat diputuskannya segala urusan yang naik dari dunia di bawahnya, maupun segala perkara yang turun dari atasnya. Nama pohon ini ada di surat an-Najm [53], tepatnya pada ayat 14. Satu pohon yang menjadi tujuan akhir Isra’ Mi’raj nabi Muhmmad saw., sekaligus juga menandai kejadian-kejadian penting, dimana Nabi melihat wujud malaikat Jibril yang sebenarnya, kemudian Nabi melihat Allah, dan menerima perintah shalat lima waktu.

Yang menarik soal pohon Sidrat al-Muntaha ini adalah ulasan yang disampaikan oleh Cak Nur. Beliau memulai dari terjemahan Muhammad As’ad atas “Sidratul Muntaha” sebagai “The Lote-tree of The Farthest Limit” atau “Pohon Lotus pada Batas yang Terjauh”.

Pohon Lotus, dalam bahasa Indonesia adalah pohon Teratai atau Seroja. Dalam tradisi Timur Tengah, sejak zaman Mesir Kuno, pohon tersebut dianggap sebagai lambang kebijaksanaan. Sehingga, Sidrat al-Muntaha adalah lambang kebijaksanaan tertinggi dan terakhir yang dapat dicapai manusia pilihan, yang tidak teratasi lagi, karena tidak ada kebijaksanaan yang lebih tinggi dari itu. Nabi menerangkan bahwa “di balik pohon Sidrat itu ada misteri yang hanya Allah saja yang tahu.”

Makna simbolik yang kedua adalah, kata Sidrat (juga disebut Sidr) berarti “kerindangan dan keteduhan”. Perlambang “kedamaian” dan “ketenangan”. Jika Nabi telah sampai pada Sidrat al-Muntaha, maka berarti beliau telah mencapai tingkat kedamaian, ketenangan dan kemantapan batin yang tertinggi, yang paling puncak, yang tidak didapat oleh siapapun yang lain. Karena itu, sesudah mengalami Isra’ Mi’raj, beliau mencapai kemenangan demi kemenangan—tepatnya setelah berhijrah ke Madinah.

Makna ini juga paralel dengan kronologi sebelum Nabi di-Isra’kan. Tahun kesepuluh kenabian disebut dengan ‘Am al-Huzn (tahun duka cita). Abu Thalib, paman pelindung utama beliau, dan Khadijah, istri yang setia menemani perjuangan nabi Muhammad, meninggal dalam waktu yang berdekatan. Allah kemudian membesarkan hati dan menghibur beliau dengan cara meng-Isra’-kannya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan me-Mi’raj-kan beliau untuk menemui Allah di Sidrat al-Muntaha.

Demikian. Dari semuanya, yang menarik bagi saya bukanlah membicarakan benar dan salahnya, tapi mencermati bagaimana asyik dan kreatifnya manusia memaknai sesuatu, bagaimana manusia berefleksi tentang diri dan kehidupannya melalui pohon. Interpretasi dan simbolisasi-simbolisasi di ataslah yang menarik untuk direnungkan. At least, manusia meneropong kehidupannya melalui mahluk yang bernama pohon.


Ayiko Musashi,
Klaten, 12 Januari 2012
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget