Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Montase





“Bukan dalam kebebasan kutemukan kemerdekaan, tapi bukan pula dengan kemerdekaan itu kudapatkan kebebasan. Karena kutemukan tak berarti menikmati. Itu memerlukan keterampilan lain. Dalam kemerdekaan dan kebebasan aku semakin jauh tersesat. Seorang budak sepertiku lebih bahagia terikat dan terdera, karena disitu kudapatkan kesempatan BERONTAK.” Kata seorang tokoh cerita dalam karya Putu. Tentu juga masih ingat bagaimana mitos Sisifus diceritakan. Dewa menghukumnya untuk mendorong batu besar ke atas gunung. Belum sampai puncak, batu itu menggelinding kembali ke bawah. Karena batu itu besar, gravitasi sangat kuat, dan tenaga Sisifus tidak cukup untuk itu. Maka Sisifus harus mengulangnya lagi. Mendorong batu ke puncak, untuk nanti menggelinding ke bawah lagi.

Terus demikian. Mestinya konyol, tapi Sisifus tidak kunjung menyerah. Dikisahkan ia menjalani sisa hidupnya untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, yang ia sangat sadar bahwa batu itu akan turun menggelinding ke bawah lagi. Sepertinya sia-sia. Tapi Sisifus punya sudut pandang yang lain. Ia bahkan berikrar untuk mengabdikan hidupnya mendorong batu. Dewa boleh saja menghukumnya karena mentang-mentang punya otoritas, tapi tidak dibiarkan mereka berbahagia dengan melihatnya sedih dan menyerah. Itu yang diperjuangkan Sisifus.

Portugis, Belanda, dan Jepang datang menjajah. Hidup rakyat Indonesia menjadi susah, tapi masih juga bermakna. Mereka dirampas haknya, tapi justru darinya muncul banyak kebaikan-kebaikan. Ada setting yang membuat mereka mampu merasakan begitu lezat dan mewahnya nasi putih, ubi, ketela, tebu, ikan sungai, ayam dan burung-burung, yang hari ini terasa sama sekali tidak istimewa. Sama rasa melahirkan perasaan bersaudara. Bernasib sama. Punya cita-cita sama. Berjuang bersama. Satu model konsolidasi yang justru lahir karena dijajah. Warna kulit, ragam bahasa, varian budaya disingsingkan sebagai asesori. Maju berjuang. Yang mati, matinya syahid. Yang hidup, hidupnya gagah.

Kini, bersiaplah untuk mendaki gunung tinggi di dirimu! Sekarang tidak mudah menjadi seperti itu. Hidup tak tahu untuk apa. Cita-cita tak punya. Kemarin-kini-dan esok sama saja. Tidak ada yang istimewa. Lapar segalanya. Memakan semuanya. Tak paham siapa musuh dan kawanya. Kacau ukuran syahidnya.

Abracadabra! Kabut tebal luas tak berbatas. Silang persimpangan jalin-menjalin berkelindan. Dulu, mulia jika berani mati. Kini, mulia jika berani hidup. Ada mati syahid, juga ada hidup syahid. Yang dilawan adalah kegamangan-kegamangan. Musuhnya berujud anonimitas-anonimitas. Ujiannya menjawab soal: Siapa Aku? Dari mana? Dan akan kemana? Sebagai budak, ia bertanya: siapakah majikan hakiki hidupnya? Penjajahnya adalah penjajah budaya, cara pikir, gaya tutur, pakaian, dan mode. Medan laganya terhampar dalam diri dan ketubuhannya sendiri. Syahidnya ditempuh dengan khusyuk bersetia menjaga akal budi, nurani, keheningan, kejernihan, dan tidak larut edan. Syahidnya adalah kerelaan terbuang dalam kerumunan kawanan. Mati dalam dirinya, dan hidup oleh Kebenaran.

Banyak yang menganggur, tidak tahu untuk apa waktu-waktu luangnya. Kerjanya tidur, dan otaknya hilang secuil-secuil. Yang kelewat sibuk juga tidak kalah bingung. Kalau sudah ngotot kerja, punya uang banyak, terus mau apa?! Maunya terkenal. Minta diperhatikan dan didengarkan. Punya apa saja. Dituruti sekarang juga. Maniak sempurna. Anti semua yang cacat. Tak tergerak tuk bertindak. Sebab yang tak cacat adalah perbuatan yang belum dilakukan, karena belum dicoba.

Hidup terus bergerak. Jantung berdetak. Ada sisa hidup, dan amanat yang menumpuk. Menyetiai proses. Mengawani Sepi. Di sela kebenaran yang masih dikejar. Masih menggapai-gapai. Tidak tergenggam. Dan memang menggenggam bukan tujuan hidup itu sendiri. Melainkan kisah dalam usaha menggapainya. Kalau betul, boleh diterima. Kalau salah dan tidak setuju, dibuang saja. Tidak ada paksaan. Kita hanya ngobrol.


Ayiko Musashi
Klaten, 10 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget