Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Ilmu Nama






Manusia sebagai Homonicus-Namanicus
Hadir di dunia yang telah bernama, dan menjadi makhluk pemberi nama. Segala sesuatu telah dijumpainya dalam keadaan bernama dan akan dinamainya. Mulai dari dimensi ruang seperti galaksi, tatasurya, planet, benua, negara, kota, desa, jalanan, dusun, sampai isi ruang di rumah..

Benda-benda dinamai. Dirinya sendiri, anggota badan, pakaian, makanan, pelajaran, buku-buku, penyakit, aktifitas, hingga semua fenomena sejarah dan yang sehari-hari. Ide, pikiran, perasaan, imajinasi, dan segala karya abstrak latihan spiritual, semuanya dinamai. Sampai ke dimensi waktu juga demikian. Dipenggal-penggal, lantas dinamai: ini subuh, ini pagi, ini siang, sore, petang, dan malam. Ini musim panas, musim dingin, hujan, salju, dan musim gugur.

Ilmu Nama
Inilah pengetahuan pertama dalam sejarah manusia. IPN atau Ilmu Pengetahuan Nama. Tuhan sendiri yang berlaku sebagai dosen mengajarkan ilmu tersebut kepada nabi Adam. Wa allama Adama al-asma’kullaha. Dengan pengetahuan inilah manusia diangkat derajatnya, malaikat bersujud hormat, dan sekaligus berhenti mendemo Tuhan terkait skenarionya mencipta manusia sebagai khalifah di bumi.

Para ilmuwan kemudian bekerja memetakan belantara ilmu nama-nama. Muncul Onomastika, bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari asal-usul nama, seperti bagaimana asal-usul nama Indonesia, cerita di balik nama Banyuwangi, Jombang, Klaten, Surabaya, Tulungagung, dan sebagainya.

Ada Toponimi atau kajian ilmiah tentang nama tempat. Jadi, mempelajari mengapa banyak nama tempat di sekitar Kerajaan Majapahit, diawali dengan awalan “Mojo”, seperti Mojokerto, Mojoagung, Mojowangi, Mojodhuwur, Mojosongo; atau banyaknya penggunaan awalan “Ci” untuk nama daerah di Jawa Barat: Cianjur, Cirebon, Cisarua, atau Cibinong; atau juga seperti banyaknya penggunaan awalan atau akhiran “karta” atau “kerto” untuk nama kota, semisal Jakarta, Yogyakarta, Purwakarta, Mojokerto, Purwokerto, atau Kartasura.

Allah memiliki 99 nama indah, Asmaul Husna. Dengan Nama-nama itu Allah senang sekali disebut, dipanggil, dan dipuja. Dan banyak orang Islam menyandarkan kediriannya sebagai hamba (abd) kepada salah satu Nama Indah itu. Abdullah,  Abdurrahman, Abdussalam, Abdurrahim, Abdurrauf, dan banyak lainnya. Tradisi ini disebut Teorofik, atau kebiasaan mencantumkan nama Tuhan di dalam nama seseorang.


Slametan Nama
Ada yang mengatakan bahwa menamai itu berarti membatasi. Sehingga ada beberapa hal oleh beberapa orang dibiarkan tidak bernama, untuk menjaga keluasannya. Ada juga yang kerasukan semangat reformasi, sehingga anaknya dinamai Gempur Soeharto, karena saking jengkelnya kepada Si Presiden. Ada orang Arab menghormati leluhur dengan cara menghafalkan nama-nama mereka semua. Jadi, Saya adalah Fulan bin Ini bin Anu bin Itu bin Ono bin Iki bin Iku bin Sopo, dan seterusnya.

Ada orang-orang yang nama daerahnya lebih dikenal daripada nama aslinya seperti Sunan Ampel, Giri, Drajat, Bonang, Muria, Gresik, Sunan Bayat; atau cendikia seperti al-Bukhari, al-Khawarizmi, atau al-Ghazali. Semuanya terambil dari nama tempat yang mereka diami, bukan nama asli.

Ada juga yang nama singkatannya justru yang lebih populer, seperti SBY atau Buya HAMKA, yang itu adalah kependekan dari Haji Abdullah Muhammad Karim Amarullah. Ada juga nama yang nyingkat asal-asalan tapi kreatif, seperti JURUS TANDUR-nya Slank yang kependekan dari ma(JU) te(RUS) pan(TAN)g mun(DUR), atau juga seperti yang pernah saya jumpai, warung MIYABI, yang jebulnya adalah kependekan dari “(MI)e a(YA)m (BI)ntoro.” Hehehe.

Dan masih banyak lagi. Setiap bayi yang lahir, belajar mengeja dan mengenal nama-nama. Ada tanya: Bisakah kiranya manusia hidup tanpa nama-nama?



Ayiko Musashi,
12 April 2011






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget