Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 31 Mei 2012

Bisnis Allah








Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah menyatakan sebuah maqolah mengenai tiga model orang beribadah. Yang pertama,

إن قوما عبدوا الله رغبة, فتلك عبادة التجار.

Kelompok orang yang  menyembah Allah karena mengharap balasan, maka ini disebut ibadah model pedagang.

Yang kedua,

و إن قوما عبدوا الله رهبة, فتلك عبادة العبيد

Kelompok yang menyembah Allah karena takut akan siksa-Nya. Ini model ibadah hamba sahaya atau budak.

Dan yang ketiga, yang paling disukai, adalah

و إن قوما عبدوا الله شكرا, فتلك عبادة الأحرار

Yang menyembah Allah atas dasar syukur, beribadah sebagai ungkapan terimakasih kepada Allah atas segala nikmat dan rahmat yang diberikan Allah padanya. Model ibadah demikian ini adalah ibadahnya orang yang merdeka, bebas.


***

Yang mana saja di antara tiga model di atas, tidak masalah. Semuanya sah, dan diterima oleh Allah. Hanya tingkatan kualitasnya saja yang berbeda. Terkait dengan ibadah model pertama, ibadah ala pedagang, itu wajar-wajar saja. Bahkan agama Islam adalah agama bisnis. Karena sedemikian eratnya kaitan agama Islam dengan dunia perniagaan, atau dunia perdagangan.

Kita bisa mengamati fakta-fakta sejarah. Nabi Muhammad saw sebelum menjadi Nabi, pernah menjadi saudagar yang luar biasa sukses. Beliau berdagang lintas Negara. Bisnis beliau adalah ekspor-impor, di perusahaan Siti Khadijah Coorporation. Fakta lainnya, para penyebar agama Islam di tanah Nusantara-Indonesia ini juga adalah kelompok pedagang. Datang dari tanah Gujarat, India. Mereka berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam di tanah Nusantara.

Pada masa kemerdekaan, banyak organisasi-organisai besar dengan dasar agama Islam, yang juga menjalankan kegiatan dagang. Sebut saja semisal Serikat Dagang Islam, atau SI, dan Nahdhatut Tujjar, kebangkitan para pedagang—yang di kemudian hari menjadi Nahdhatul Ulama. Ini ya organisasi dagang, juga punya kepedulian terhadap agama Islam.

Dengan melihat fakta di atas, tampaknya sungguh padu antara urusan dunia dan urusan akhirat tergayuh keduanya. Sama-sama berjalan seimbang. Bahkan saling melengkapi satu sama lain. Ini adalah cita-cita kita semua, sukses berniaga dunia dan akhirat.

Jika diteruskan lebih jauh, kita akan menemukan bahwa banyak hubungan muamalah antara manusia dengan Allah diungkapkan dalam istilah-istilah bisnis. Sebut saja semisal istilah “isytara-yasytari” yang berarti membeli. Ketika shahabat Nabi turun berperang membela agama Allah, Allah mengabadikannya dalam al-Qur’an dengan pernyataan:

إن الله اشترى من المؤمنين أنفسهم و أموالهم بأن لهم الجنة

Sesungguhnya Allah membeli jiwa dan harta-benda mereka dengan “tiket” surga.

Istilah lain yang juga sering digunakan adalah “أجر” yang dalam makna asalnya berarti “upah”. Jadi, saya bekerja pada seseorang, lalu saya mendapatkan upah atas pekerjaan yang saya lakukan. Istilah ini kemudian digunakan oleh al-Qur’an untuk menamai pahala dari amal perbuatan baik kita. فلهم أجرهم عند ربهم.

Ada lagi istilah kredit (قرض حسنا), ada istilah jual-beli (بيع), atau juga istilah perniagaan yang bahasa Arabnya تجارة. Salah satu ayat yang menyebutkan istilah ini adalah:

إن الذين يتلون كتاب الله و أقاموا الصلاة وأنفقوا مما رزقنهم سرا وعلانية يرجون تجارة لن تبور

Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah, senantiasa mendirikan shalat, menginfakkan sebagian hartanya, baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan,—mereka semua—mengharapkan sebuah perniagaan yang tidak akan ada ruginya.

Inilah istilah yang juga mewakili karakter bisnis dengan Allah, tijarah lan tabuur. Perniagaan, bisnis yang tidak kenal istilah rugi. Karena Allah kalau membeli sesuatu dari hamba-Nya selalu dengan harga yang berlipat-lipat ganda.

Misalnya, anda mengaji satu ayat: الم. Alif-Lam-Mim. Ini saja Allah membeli tiap huruf yang anda baca dengan sepuluh kebaikan. Alif, sepuluh. Lam, sepuluh. Mim, sepuluh. Dengan demikian, cukup membaca ini, anda mendapat 30 kebaikan. Artinya, jualan yang cuma satu dibeli Allah dengan harga berlipat sepuluh.

Dalam kasus yang lain, kelipatannya justru lebih besar lagi. Simak semisal ayat yang berbunyi:

مثل الذين ينفقون أموالهم فى سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابيل فى كل سنبلة مائة حبة

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah itu seperti sebuah biji. Kemudian dari biji tumbuh berkembang tujuh cabang, yang di setiap cabangnya tumbuh seratus biji-biji lainnya. Jadi, infak satu dibeli Allah dengan harga tujuh ratus kali lipat.

Luar biasa! Inilah kenapa berbisnis dengan Allah itu bisnis yang tidak kenal rugi. Karena Allah Maha Kaya sungguh. Tidak ada bisnis manapun di dunia ini yang seperti bisnisnya Allah. Belinya tidak nawar, malah berlipat-lipat tidak terkira.

***

Ada satu pihak yang dalam bisnis kita dengan Allah selalu ingin menggagalkan. Tentu ia adalah setan. Apapun asosiasi dan pemahaman anda mengenai entitas ini, yang jelas ia selalu ingin agar bisnis ini tidak berhasil.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Al-Ghunyah, menjelaskan bahwa setan akan menempuh tiga strategi untuk ini. Pertama, bagaimana caranya agar bisnis-ibadah tadi tidak jadi. Ada orang mau shalat, setan menggoda dengan datangnya kesibukan-kesibukan, supaya orang ini tidak jadi shalat. Kalau ternyata, masih juga shalat, setan menempuh strategi kedua, bagaimana agar ia tetap shalat tapi tidak dapat pahala. Agar rugi. Digodalah manusia dengan riya’, beribadah niatnya bukan untuk Allah. Nah, kalau nyatanya orang ini tetap shalat, niatnya pun sudah betul, maka strategi yang terakhir dijalankan: bagaimana agar pahalanya tidak full seratus persen. Maka ia menjelma sebagai pikiran-pikiran, sehingga orang tadi shalatnya tidak khusyu’ dalam beberapa detiknya. Jadi, setan sedemikian kerasnya berusaha bagaimana agar bisnis manusia ini rugi.


***

Demikianlah. Semoga bermanfaat. Semoga Allah memberikan kita semua limpahan taufiq, hidayah dan inayah-Nya untuk senantiasa istiqamah dalam bisnis-Nya. Allohumma Amin.

Wallahu a’lam bis showab.





Ayiko Musashi,
Klaten, 16 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget