Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Dunia Titik






Titik itu kecil, tapi berperan banyak dan tidak kecil. Makna sebuah kalimat bisa berubah hanya karena posisi titik. Dalam geometri, garis adalah sekumpulan titik, dan titik memiliki derajat lebih mendasar dari pada garis. Kalau garis adalah objek berdimensi satu, maka titik adalah objek ‘berdimensi nol’. Titik itu objek spesifik yang tidak melibatkan volume, luas, panjang, atau analog-analog lainnya pada dimensi yang lebih tinggi. Dalam matematika, titik bisa berperan memilah bilangan puluhan, ratusan, ribuan atau jutaan. Ia juga berperan sebagai representasi desimal, simbol perkalian, dan seterusnya. Di dalam seni lukis, grafis, atau nirmana, titik adalah elemen dasar dari sebuah gambar. Demikian juga dalam dunia fotografi atau percetakan, ada istilah pixel. Itu adalah jumlah kepadatan titik dalam sebuah gambar. Maka kemudian ada satuan ukuran ppi (pixel per inch) dan dpi (dot per inch).

Budaya Jawa punya Batik. Ada yang mengatakan, nama batik itu adalah gabungan dari suku kata terakhir dari dua kata ini: amba (menulis) dan titik (titik). Yang kemudian diartikan sebagai “Manghamba pada Titik”, dan memang titik merupakan desain dominan pada batik. Dalam dunia komputer, titik itu delimiter yang biasa disebut dot, seperti dalam lookup DNS dan nama berkas: www.wikipedia.org, document.doc, 192.168.0.1. Dan nanti, kata titik bisa dikombinasikan dengan kata lain untuk membentuk sebuah makna baru, seperti titik balik, titik koordinat, titik kulminasi matahari, titik temu, titik terang, titik episentrum, titik impas, titik magnetik, titik pangkal, titik pusat, Titiek Puspa, dan macam-macam.
Dalam tradisi sufi, ada fenomena Titik Ba’ yang merangkum segala realitas yang dipadatkan, dimampatkan. Logikanya begini. Seluruh yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini sudah terangkum dalam kitab suci al-Qur’an. Lalu seluruh al-Qur’an sudah terangkum isinya dalam surat al-Fatihah—dan itulah mengapa ia disebut Ummul Kitab, karena ia mengandung seluruh isi dan tema dari surat-surat selainnya. Kemudian, surat al-Fatihah juga sudah terkandung di dalam Basmalah. Dan seluruh kandungan Basmalah masuk di dalam huruf Ba’. Sampai akhirnya, kandungan huruf Ba’ itu sendiri menggumpal lagi ke dalam Titik Ba’.

Jika astronomi memiliki teori Bigbang yang menjelaskan awal mula semesta raya, bahwa semesta ini bermula dari satu titik kecil dengan massa yang padat-pejal sedemikian rupa, lalu meledak dengan kekuatan yang luar biasa, hingga dari ultra-supernova itu merekahlah alam semesta yang terus mengembang ini [lihat juga al-Ahzab:31], maka melalui fenomena Titik Ba’ di atas tadi, semua yang mengembang itu dirangkum, dimampatkan, dan dipejalkan kembali ke dalam satu titik luar biasa padat isi, yakni Titik Ba’ tadi.

Huruf mim juga sering dipakai sebagai simbolisasi maqam di dalam tasawuf. Mim adalah huruf yang mempunyai titik di tengah. Titik itu adalah titik putih dalam lubang huruf Mim, yang menjadi simbolisasi sikap "Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya". Sehingga muncul ungkapan: Aku Ahmad tanpa Mim—yang berarti Ahad.

Titik punya peranan yang sangat penting dalam sejarah ortografi teks al-Qur’an, khususnya, dan perkembangan huruf Arab pada umumnya. Nuqthah (titik di dalam bahasa Arab) itu secara fungsional terbagi menjadi dua, yakni  Nuqthah al-I’jam, tanda titik yang membedakan antara huruf nun, ba’, ta’, tsa’ dengan ya’;  ra’ dengan za’; tha’ dengan zha’; antara jim, ha’, dan kha’. Kemudian yang kedua adalah Nuqthah al-I’rab atau titik yang berperan sebagai harokat (syakal) suatu huruf. Ini adalah sistem ortografi yang digagas oleh Syeikh Abu al-Aswad ad-Duali, yang kemudian disempurnakan oleh Syeikh al-Khalil bin Ahmad menjadi lambang fathah-kasrah-dlommah seperti yang kita lihat sekarang ini di mushaf-mushaf al-Qur’an itu.

Dan Masih banyak lagi sebenarnya tentang titik-titik ini.


Ayiko Musashi,
Jogja, 15 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget