Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Serat Sabda Jati


Carilah hingga ketemu\ Pandanglah dengan seksama\ Telitilah, jangan sampai salah\ Endapkanlah dalam hati\ Agar benar menanggapi.

Demikianlah bunyi salah satu bait dari suluk Serat Sabda Jati. Ini adalah salah satu frase yang pernah saya catat di buku harian. Saya catat karena wasiat ini adalah salah satu prinsip dalam belajar. Ada observasi, empirisme, kritisisme, dan sebuah watak bijak.

Catatan lainnya datang dari film V For Vendetta. Sebuah drama teatrikal tentang ‘pahlawan bertopeng’  yang mengingatkan jahatnya pondasi pemerintahan yang dibentuk atas dasar teror dan ketakutan—seperti yang juga pernah dikabarkan George Orwell dalan novel 1984. Sehingga muncul frase: …rasa takut mengambil yang terbaik dari kalian…!

Tentang ketakutan ini, saya jadi tersambung dengan salah satu puisi yang pernah diapresiasi oleh Caknun. Puisi itu unik, karena hanya terdiri dari dua suku kata saja. Tapi jelas nendangnya. Bunyinya adalah: Temor/ Temor/ Temor/ Temor/ Temor/ Temor/ MORTE!!!

Hahaha. Asik, bukan?! Permainan kata yang cerdas. Entah berasal dari bahasa apa. Tapi yang jelas temor itu artinya adalah takut, dan morte adalah mati. Makanya, orang yang selalu menimbun ketakutan-ketakutan, maka kematian adalah hasil penjumlahannya. Persis seperti pengulangan temor yang kemudian berakhir dengan morte di puisi tadi.

The fear that we have to fear is the fear it self.

Nah, mati disini luas. Mencakup mati alami, juga mati sebelum mati. Hehehe. Ruwet, tho?!  Kalau ada ensiklopedi mati, maka mati sebelum mati itu berarti hidup secara fisik tapi jiwanya telah mati. Ya seperti mayat hidup, begitulah. Maka ada benarnya juga apa yang pernah ditulis oleh Wiji Tukhul. Masalah nomor satu hari ini adalah jangan mati sebelum dimampus takdir!

Di ujung kehidupan ada kepastian\ Kek-tokek kita semua pasti pada mampus! Begitu tambah Setiawan Djody & Funky Kopral dalam lagu “Tokek”. Maka ya sudahlah. Tak usah sibuk-sibuk merancang kematian sendiri. Tugas yang hidup adalah menghidupi kehidupan. Yang pasti itu sudah ada di depan mata. Maka sudahlah-sudah keraguan yang tak kunjung sirna. Redalah-reda.

Hidup enggan, matipun segan. Wah, repot ini. Tapi gampang solusinya. Makan sajalah sambal yang banyak. Rasakan sensasi pedasnya. Keringat mengucur deras. Adrenalin menegang, dan pedas membakar yang mengingini air. Hehehe. Lha, orang itu cenderung suka melankolis dan mendramatisir keadaan sih. Maka siapa tahu hal-hal yang sepele bisa sedikit menampar biar sadar?!


Gak usah banyak omong,


Soal pembagian “ada” antara yang faktual dengan yang imajiner. Saya punya tangan dua, kaki, mata, dan di sana ada matahari. Ini semua adalah “ada” yang faktual. Sedangkan ada yang imajiner adalah ya ada-nya bangsa Indonesia ini, atau mudahnya seperti garis katulistiwa. Garis ini tidak pernah ada di kota Pontianak, misalnya. Tapi kita menganggapnya di sana ada garis edar matahari.

Dalam sebuah kesempatan usai membaca artikel tentang alam semesta, saya pernah menulis seperti ini. Kalau melihat gambar galaksi, kemudian ruang hampa yang begitu luas dan terlihat sangat sepi, semuanya yang ada di dunia ini menjadi sunguh-sungguh sangat kecil saja.

Ada milyaran galaksi di alam semesta teramati saat ini. Bayangkan. Milyaran galaksi, rek?! Galaksi Bimasakti kita ini saja diestimasikan memiliki 200-400 milyar bintang. Dan matahari, salah satu bintang yang menjadi pusat dalam tata surya kita ini, hanyalah satu di antara ratusan ratusan milyar tadi. Bussssyet!

Kita coba perdetail lagi. Fakta tentang dunia dan kita. Seberapa jauh manusia mengembara? Sudah sampaikah ia ke ujung dunia? Ke pelosok samudera? Habiskah sudah ruang jelajah dalam bentangan luas dan suntuk menyelami kedalamannya?

Tapi mengapa kosmos alam semesta yang luas ‘tak terbatas’ ini justru terletak pada setiap individu kita? Lho, kok aneh?!



Untuk setiap yang tak pernah lulus terbahasakan. Semua yang belum pernah terbayang. Melintas sekilas dalam kedipan. Tembus cahaya dan suara tak terindera. Segala yang sempat terlupa. Yang meremang ada. Fatamorgana-fatamorgana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget