Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Cinema Paradiso


Cinema Paradiso. Ini  adalah nama sebuah bioskop di Itali pada suatu era dimana televise belum ditemukan. Mirip dengan tanggapan wayang atau ketoprak di Indonesia sewaktu Tv belum masuk. Jadi setiap pemutaran s film selalu menjadi hajatan umum. Artinya, nonton bareng-bareng di satu tempat. Bisa dibayangkan meriahnya saat hiburan masih bersifat publik. Semua orang saling terhubung, bertemu, dan akrab satu sama lain.

Ini sangat berbeda keadaannya ketika TV dan industri hiburan di dalamnya telah mengubah jalur hiburan menjadi wilayah privat. Semua orang tetap berada di rumahnya sendiri. Mereka menonton acara TV. Mungkin mereka masih tertawa, tapi tawa itu tawa yang sepi karena kenyataannya setiap individu adalah orang yang sendirian.

Kemajuan teknologi memang mendatangkan kemudahan. Orang tidak perlu lagi antri beli tiket, berdesak-desakan, atau nge-dumel dalam hati karena teman di sebelahnya rame sendiri sewaktu film diputar. Maka demi kepuasaan dan privasi, terciptalah televise. Bioskop yang bisa dimiliki setiap orang. Tapi apa yang terjadi? Ada kehangatan dan kebersamaan yang memudar. Di era inilah kita terjebak. Kita rindu akan kehangatan berada di tengah banyak orang, tapi apa lacur semua kita telah terkunci di rumah, dan merasa tolol sendiri.

Cinema Paradiso juga bercerita tentang tokoh Salvatore atau yang lebih akrab diapanggil Toto; dari mulai masa kecilnya yang mbeling, dewasa berkenalan dengan cinta (Elena), dan masa tua yang lebih kontemplatif. Toto sangat menyayangi Alfredo, seorang tukang putar film di bioskop Cinema Paradiso, karena hanya Alfredo yang sering menemani Toto.

Kebersamaannya dengan Alfredo menumbuhkan minat Toto pada profesi yang dijalani Alfredo. Ia selalu mencari-cari kesempatan dan memaksa Alfredo untuk mengajarinya memutar film. Sekian lama ia berusaha dan memang berhasil, tapi Alfredo berpesan “Kamu tidak selayaknya disini, Toto. Kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih penting dari pada ini”.

Pesan dan harapan inilah yang bisa Alfredo berikan kepada Toto sebelum ia meninggal. Alfredo ingin Toto menjadi bintang film, bukan seorang pemutar film di bioskop seperti dirinya. Karena pekerjaan seperti itu hanyalah untuk orang bodoh, menurut Alfredo.

Cerita kemudian sampai ketika Toto harus berpisah dengan Elena. Mereka berjanji melakukan pertemuan terakhir. Sayangnya, mereka berdua tak memiliki momentum. Mereka gagal bertemu. Tapi Alfredo punya puzzle yang ia dapat dari Elena yang seharusnya disampaikannya kepada Toto. Itu tidak terjadi karena Alfredo ingin Toto lebih focus di dunia film, dan tidak terganggu oleh sekedar patah hati karena cinta.

Akhirnya Toto pergi meninggalkan Italia. Ia sukses, dan kemudian datang kabar Alfredo nmeninggal. Toto kembali ke Italia, dan bersamaan dengan kepulangannya itulah Toto memaknai kembali tempat ia lahir dan tumbuh dewasa. Ia mulai memahami ibunya dengan lebih baik. Sikap hati yang lebih tertata kepada Elena. Dan segala hal yang menjadi bagian cerita Cinema Paradiso.

Pada akhirnya, film Cinema Paradiso adalah cerita yang kaya. Sebuah biografi yang hidup. Gambaran masyarakat yang hangat. Kisah cinta yang hiyaa. Potongan kehidupan yang lucu. Kebijaksanaan. Atau apapun saja yang bisa membuat kita berkaca pada kehidupan. Salut.

241009
Ayiko Musashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget