Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: V For Vendetta


V FOR VENDETTA itu film kartunal yang bagus. Kompleksitas yang dibawanya cukup tinggi. Nuansa teatrikalnya juga terlihat dari karakter tokoh, jalinan cerita, kostum, dan pilihan kata sang V yang metaforis dan liris.

Dari satu sisi, film V For Vendetta itu se-tipe dengan film trilogi Bourne, In The Name of The Father, Flash of Genius, atau novel 1984 milik George Orwell. Jadi tiran itu pada dasarnya lahir dari kekuasaan. Biasanya demikian. V For Vendetta memberikan pesan bahwa jenis kejahatan itu juga bias berupa Kejahatan Pemerintah.

Ini, meminjam istilah Putu Wijaya, adalah sebuah terror mental. Penonton digelitik bertanya. Selama ini sudah terbangun opini yang mapan bahwa pemerintah adalah pihak yang benar, menegakkan keadilan, dan menangkap yang jahat; dan yang jahat ada di luar pemerintah. Jika pun terbukti ada yang terlibat kejahatan di antara personalnya, maka langsung diantisipasi dnegan menyatakan bahwan “itu adalah oknum”. Pemerintah seolah institusi yang anonym. Jadi kenyataan bahwa yang disebut pemerintah itu sebenarnya juga adalah person-person yang bekerja dalam sebuah system menjadi terabaikan. Pemerintah itu sudah anonym.

Nah, terlepas dari diskusi soalk anonimitas, nalar logosentrisme tadilah yang dibongkar oleh film V For Vendetta. Kejahatan juga bias dilakukan oleh pemerintah. Ini tentu saja terdengar absurd, tapi memang begitulah. Kekuasaan adalah sihir yang sangat melenakan. Apapun bias diusahakan untuk melestarikannya, meskipun dengan menukarkan kebebasan rakyat yang dinaunginya, atau dengan menciptakan ketakutan massal yang sedemikian canggih hingga tak tersadari.

Dengan politik yang didasarkan pada ketakutan, rakyat digiring untuk merasa butuh dan tergantung kepada pemerintah. Faktanya adalah rakyat telah dikondisikan dan dikendalikan sedemikian rupa. Wow! Tidak percaya? Coba lihat bagaiamana teori konspirasi bekerja. Lihat film ini dan beberapa novel seperti 1984.

Setelah itu semua, media adalah peranti utama yang mengendalikan setiap pikiran, emosi, ketakutan, harapan, dan gejolak yang ada di setiap jiwa rakyat biasa. Scenario yang besar, bukan?!

Tapi tenang, wamakaru wa makarallah.. hahaha!


NB:
Setelah lihat film ini, aku kaget ternyata pemeran Evey yang cantik itu ternyata si Natalie Portman. You know what, dud?! Tadi malam aku lihat film Closer, dan bintang yang aku sukai, si Alice, ternyata Natalie Portman. Jadi setengah tidak sengaja aku ketemu dia dua kali dengan jeda yang singkat dalam peran dan karakter yang berbeda. Hahaha. Saluto.

211009
Ayiko Musashi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget