Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Rain Man


Rain Man.

Biola Tak Bedawai
Pengasuh - Dewa
Tak bisa bicara atau mendengar
Beautiful Mind
Istri – John Nash
Schizophrenia
I am Sam
Pengacara – Sam
‘Retarded’
Forest Gump
Forest Gump sendiri
‘Keterlambatan Mental’
Radio
Radio –Pelatih
‘Retarded’
Rain Man
Adik – Raymond
Autis

Ah. Akhirnya dapat juga. Imam bilang Ubed punya film Rain Man, dan kemudian ia bawakan filmnya ke kos. Sebelumnya aku sudah cari di rental film Universal yang reputasi kelengkapannya cukup diakui di JOgja, tapi tidak ada.

Rain Man. Satu lagi film tentang sisi lain kehidupan. Melengkapi koleksi film yang setema seperti dalam table di atas. Maaf, tulisan ini kubuat pagi hari, karena tidak sempat tadi malam segera setelah film usai seperti biasanya. Tapi tidak masalah. Tadi malam pun sebenarnya aku sudah sharing comment sama lien soal film-film sejenis ini.

“Aku suka film-film seperti ini. Tema tentang abnormalitas mental. Aku seolah belajar banyak sekali dengan menontonnya. Bagaimana kita mesti bersikap terhadap mereka? Bahwa yang sangat mereka butuhkan adalah cinta yang tulus, dan kasih sayang. Kita juga bisa lihat apa dan bagaimana jalan pikir, emosi, serta mimpi mereka. Aku merasa semakin yakin bahwa manusia dan hidupnya itu adalah sesuatu yang sangat layak dihormati dan dirawat penuh kasih sayang. Kehidupan itu suci.”, kataku pada lien.

Standar hidup modernitas hari ini adalah sesuatu yang aneh. Sebuah Roh Zaman yang menggiring manusia di dalamnya untuk terus mengejar popularitas, menjadi superstar, public figure, dan dipuja banyak orang. Suatu kebudayaan narsistik konyol yang aneh tapi nyatanya aku sendiri juga tersihir mengikutinya. Kesempurnaan menjadi dambaan setiap orang, bahkan kalau bisa jangan ada satupun jerawat yang nongkrong diwajah. Pantatpun harus diasuransikan.

Jika sudah demikian, ketika massa contagious abad ini berlari mengejar itu semua, bagaimana dengan sisi kehidupan yang sama sekali minor bahkan tak pernah muncul di telivisi, koran, atau majalah? Mereka yang oleh standar modern dikatakan ‘terbelakang’ atau tidak normal? Siapa yang peduli kepada mereka? Siapa yang bersedia menemani mereka? Siapa yang akan memanusiakan mereka? Bukankah manusia modern sangat jijik dengan ketidak sempurnaan? Karena sedemikian lama dibiasakan mengejar kesempurnaan (ala manusia modern itu sendiri), dan diajari bahwa yang cacat mesti dibuang agar tidak memalukan. Jangan-jangan mereka menganggap manusia-manusia ‘tidak normal’itu seperti jerawat di kulit wajah artis cantik yang mulus?

Dalam konteks seperti inilah film Rain Man memiliki posisi pentingnya, yakni menyuguhkan sisi kehidupan yang luput ada dalam kosa kata manusia modern. Film Rain Man memotret cukup bagus kehidupan seorang autis dalam kedirian seorang Raymond (sebuah nama yang pengucapannya terdengar seperti RainMan oleh Bobbit, sang adik). Dengan keterbukaan selubung sisi lain kehidupan dalam Film RainMan seolah ada pesan tak tertulis seperti dalam lirik Slank. ….kita hidup bersama mereka, kita hidup di antara mereka…


31 Oktober 2009
Ayiko Musashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget