Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Vantage Point


Vantage Point. Film action yang lumayan bagus penggarapan visual dan penyajian ceritanya. Film ini sebenarnya bercerita tentang satu waktu, satu peristiwa, dan satu tempat yang disuguhkan dengan beragam frame melalui silang sengkarut keterkaitan dan kepentingan banyak orang yang terlibat di dalam satu kejadian tadi. Hal yang menarik adalah efek flashback dari setiap penuturan cerita. Jadi, setiap permulaan ditampilkan melalui frame satu orang. Dari sini, struktur ceritanya mampu menciptakan pertanyaan dan teka-teki baik bagi salah satu pemain ataupun bagi penontonnya itu sendiri.

Setiap kali selesai satu frame yang tidak lengkap, jam digital akan diputar ulang pada jam 12, tapi menyorot kejadian dan peristiwa yang dialami orang lain. Begitu setersnya yang terjadi. Sehingga perlahan-lahan teka-teki di awal cerita menjadi terurai sedikit demi sedikit—dengan mulai lengkapnya kepingan-kepingan frame yang lain.

Nah! Sampai disini film ini sudah cukup kreatif dalam menciptakan efek tertentu dengan manipulasi struktur cerita. Akan tetapi yang lebih menarik lagi adalah, cara sang sutradara ketika mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain, antara satu orang dengan orang yang lain, antara satu kepentingan dengan kepentingan yang lain. Bonjorno! Disinilah kompleksitasnya mulai terasa menggigit, karena semakin lama penonton semakin mengerti bahwa beberapa sudut yang ditampilkan mulai saling menjelaskan satu sama lain.

Aku pikir teknik ini juga bisa diresapi sebagai sebuah renungan filosofis tentang bagaimana sebenarnya cara kerja dan fakta mengenai kebenaran dan kenyataan. Yah.. tidak jauh seperti yang dialami oleh para tokoh dalam film tadi. Masing-masing orang ternyata hanya tahu sedikit saja dari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kita benar-benar tidak menyadari dan menyangka bahwa begitu ruimitnya jalinan kehidupan satu dengan yang lain. Segala hal di dunia ini memang terkait. Dengan memahami dan menyelami keterkaitan inilah kita bisa menemukan jalan untuk tahu dan sadar akan sesuatu secara baik, tidak sempit.

Terlepas dari segala kelebihan dan kreatifitas tadi, sayang sekali ending film ini terasa hambar. Ketegangan dan titik kulminasi teka-teki dan ketegangan yang sudah dibangun sejak dari awal menjadi lumer karena berhenti begitu saja, dan berakhir happy ending ala sinetron. Padahal, jika film ini berakhir dengan tetap meninggalkan teka-teki yang baru, hasilnya pasti akan berkesan. Seperti film Bourne.

Kritikku yang kedua adalah terkait tema terorisme yang masih lekat dengan idiom Barat, yang masih belum bisa lepas dari steriotipnya terhadap masyarakat muslim. Jadi, rasanya tetap saja ndak enak. Beda dengan film Bourne yang berani bicara soal borok sendiri (CIA). Menurutku ini lebih gentle, karena orientasinya adalah introspektif dan inspiratif bagi penonton di Timur. Singkatnya, menurutku garapan film-film yang menempatkan Barat sebagai pahlawan itu tidaklah lebih dari hasrat narsistik akut yang tidak disadari.

Demikian.

051109 Ayiko Musashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget