Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Silk


Silk. Yap! Tadi baru saja aku selesai lihat film ini di Metro TV. Ini film soal hantu. Sepertinya kok horror, tapi pasti ada sisi menariknya sehingga Metro menayangkan film ini. Hehehe. Pertimbangku sederhana: Metro TV selalu mencitrakan dirinya sebagai stasiun televise yang mendidik bangsanya maju. Peduli dengan informasi dan tayangan yang bermutu. Maka pasti ada nilai yang coba disuguhkan Metro dalam film Silk sehingga ia masuk dalam program World Cinema.

Tebakan dan harapanku tidak meleset. Film ini cerdas penggarapan isi ceritanya. Suspense-nya juga bagus. Meski nuansanya tetap horror tapi ia tidak memanjakan sensasi kejutan-kejutan yang sudah pop dalam genre film horror biasanya. Jadi, seremnya yang tetap serem. Wong namanya juga film hantu. Masak nuansanya ceria dan rame?! Hehehe.

Garis penting yang membuat aku ngeh dengan film ini adalah persinggungannya soal kehidupan. Perspektif yang digunakan adalah dunia hantu tapi kemudian itu hanya digunakan sebagai komparasi dan setting untuk menilai kembali kehidupan yang kita jalani. Jadi, ini bukan film bercerita tentang hantu, tapi film tentang sudut kehidupan yang frame untuk menuju konklusinya berjalan berputar melewati sebuah fenomena hantu.

Ada dua tokoh disana. Yang satu merasa hidup ini terlalu menyusahkan. Ia selalu berhasrat untuk mati karena tidak tahan dengan ketidak sempurnaan hidup yang ia jalani, dan beban yang harus ia tanggung karena tidak sempurna tadi. Ia memandang bahwa kematian adalah jalan mengakhiri semua itu. Tapi belum cukup begitu. Ia meneliti hantu yang berujud anak kecil. Sekian lama ia tekuni, amati, dan kemudian ia merasa iri dengan sang hantu. Ia merasa bahwa menjadi hantu itu lebih mudah. Mulailah ia merancang kematiannya yang tepat: mati disertai kebencian yang memuncak. Sebab, dari hasil observasi, ia menyimpulkan bahwa “enaknya” hidup sang hantu tadi adalah karena ia memendam kebencian yang sangat kepada ibunya.

Nah, berbeda dengan tokoh yang satunya lagi. Pacarnya cuakep. Anggun. Bicaranya lembut. Suit-suit! Hehehe. Bukan itu maksudku. Ia bergulat dengan dunia hantu yang sama dengan tokoh sebelumnya karena ia sendiri memang rekanan. Tapi konklusinya berbeda dengan rekannya tadi. Ia malah menyimpulkan bahwa hantu sang anak yang diobservasi tadi bertahan di dunia sekian hari[1] justru karena cintanya kepada sang ibu. Dari sini sang tokoh paham bahwa ibunya yang kritis tetapi tidak kunjung meninggal bukanlah sebab ibunya membenci, tapi justru ibunya masih teramat cinta untuk meninggalkan anaknya. Sehingga ia tidak kunjung meninggal, dan kemudian disalah artikan sebelumnya oleh sang anak bahwa ibunya sangat menderita karena koma tersebut, dan sempat terpikir untuk membunuh ibunya sendiri demi mengakhiri penderitaan sang ibu. Tetapi ini semua adalah perkiraan dan rasionalisasi yang keliru.

Dua tokoh ini sebenarnya adalah orang yang keliru menafsirkan sesuatu. Keterbatasan data yang terbaca dan pengolahannya-lah titik masalahnya. Wah! Ini bisa kita perbncangkan lebih jauh sampai epistemology jika begini. Hehehe. Masalahnya, mereka berdua menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang tampak oleh indera mereka. Jadi, nuansa analisa dan corak berpikir kedua tokoh ini digambarkan sebagai positivistik dan menganut paham empirisme. Bedanya, tokoh pertama terburu menyimpulkan dan ternyata salah. Sedangkan tokoh kedua awalnya salah karena sebab yang sama, tapi untung masih punya peluang menemukan kepingan puzzle lain yang melengkapi analisanya dan kemudian merubah konklusinya secara ekstrim.

Lantas apa yang mereka lupakan? Apa yang luput mereka pertimbangkan dalam menganalisa masalah? Jawabannya adalah: keberadaan dan peranan cinta kasih ibu-anak, dalam kasus ini. Yap! Inilah daya kehidupan. Inilah yang membuat seseorang mampu bertahan, meskipun hantu sekalipun. Hehehe.

Begitulah. Aku mungkin kurang bisa merunutkan sistematika dan koneksi satu clue dengan lainnya dalam tulisan ini. It’s ok. Ini sekedar rekaman dan bentuk apresiasiku untuk menghargai film yang cukup inspiratif. Kreatif dalam membidik masalah dari ruang, sudut, dan dimensi yang lain.


NB: hal yang paling menjengkelkan ketika nonton film horor adalah capek ketika emosi terus diteror dengan bunyi-bunyian sunyi dan kaget mendadak yang tiba-tiba. Hehehe. Tapi aku punya trik. Aku lihat filmnya sambil bawa gitar. Nah. Setiap kali mendekati adegan yang tegang, aku selalu mainkan riff lagu funk yang cenderung ceria dan rame. Hahaha. Aku gak mau dihipnotis. Aku gak mau dikondisikan oleh backsound filmnya. Jadi aku lawan dengan suara gitar funk-ku. Hasilnya? Bagus! Aku lebih bisa menakar perasaanku. Emosiku juga relative tenang. Tidak hanyut tegang, apalagi kaget. Hehehe. Nakal, ya? Ah enggak juga. Aku kan mau nikmati content dan pesan filmnya. Aku nonton bukan untuk di-bego-bego-in. Dikaget-kaget-in. hahaha! Enak aja!

Tapi satu pelajaran yang sangat penting. Suara berperan lebih besar daripada penglihatan. Buktinya, aku masih bisa tenang melihat adegan-adegan serem tetapi dengan backsound yang ceria, daripada mendengar suara-suara serem meskipun tanpa visualisasi. Nah! Apa coba?!

Ini penting! Bukan main-main. Sabrang Noe, vokalis Letto, juga pernah menulis tentang peranan penting backsound dalam membangun suasana dan nuansa di film Naruto. Dan lagi, penyebutan telinga selalu mendahului mata di setiap kali ayat al-Qur’an menyebut keduanya. Urutan ini tentu punya makna dan mengisyaratkan letak-peran kedua indera tersebut. Aku hubungkan lagi dengan penelitianku belakangan ini tentang Seni Visual Al-Qur’an. Dari hasil sementara, aku bisa melihat, dengan membandingkan hasil riset yang sebelumnya tentang Musikalitas al-Qur’an, fungsi dan letak mukjizat al-Qur’an masih bersifat divine-given dalam aspek suaranya, tapi dalam bentuk susunan huruf dan kemasan mushaf (sebagai representasi visualnya) bisa dikatakan lebih banyak diisi oleh peran olah pikir dan kreatifitas sang manusianya. Lihat juga uraian dua artikel Cak Nun mengenai hal ini. Suara dan telinga.

Ah, menarik sekali. Ya Allah, saya mau pelajari ini. The Art of Listening.


[1] Menurut film ini, arwah seseorang yang mati tidak akan bertahan lebih dari semenit di dunia ini. Ini akan menghilang “sebesar apapun engkau mencintai dunia. Sebesar apapun dunia mencintaimu”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget