Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Seven


SEVEN. Cerita tentang pembunuhan yang diilhami oleh 7 hukuman bagi 7 pendosa. Film ini mempunyai kemiripan dengan Bone Collector atau Oxford Murderer. Sang pembunuh bukanlah seorang psikopat seutuhnya. Pikirannya hanya terobsesi akan sesuatu. Tipe pembunuh yang menyukai teka-teki. Ia selalu meninggalkan petunjuk di setiap pembunuhannya, dan itu sengaja dilakukan. Ia ingin diburu.

Dua detektif mencoba membongkar kasus pembunuhan berantai ini. Mereka melacaknya dengan segala intuisi detektif yang ada hingga kepada pelacakan intelektual. Karena pembunuhnya memang orang yang berpendidikan. Mereka hamper saja menangkap sang pembunuh, hanya dia lolos dalam pengejaran.

5 pembunuhan telah terjadi, dan tiba-tiba si pembunuh dating ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Ia meminta kedua detektif ikut dengannya untuk menunjukkan 2 mayat lain—untuk melengkapi tujuh. Berangkatlah mereka ke sebuah lapangan terbuka. Tidak seperti yang dibayangkan, dua mayat yang ditunggu adalah istri dari sang detektif muda yang emosional dan si pembunuh itu sendiri.

Pada akhir cerita, baik sang detektif (yang tua terutama) ataupun sang pembunuh adalah orang-orang yang cerdik. Tapi sang pembunuhlah yang menang. Ia mampu memaksa sang detektif muda menembak dirinya dengan membawa paket berisi kepala istri sang detektif muda. Karena keputusannya yang emosional dan terperangkap jebak sang pembunuh, dtektif muda ini ditangkap polisi, dan tinggallah detektif tua yang tenang.

Beberapa catatan yang bisa ditulis adalah kontradiksi di akhir cerita film itu. Asumsi awalnya, sang pembunuh hanya akan membunuh korbannya yang termasuk melakukan salah satu dari tujuh dosa. Ia membunuh dengan kejam untuk memberi peringatan atau contoh kepada orang lain agar jera. It’s ok. Kelima korban yang dibunuh sebelumnya adalah orang-orang yang oleh sang pembunuh karena tamak, pemalas, pelindung kejahatan, atau prostitusi. Akan tetapi bagaimana halnya dengan istri sang detektif muda? Ia sama sekali bukan seorang pendosa seperti yang ada dalam 7 daftar itu. Bahkan terkesan sang pembunuh membunuh istri sang detektif hanya untuk memancing emosi sang detektif untuk membunuhnya. Kemudian bagaimana halnya sang pembunuh menyusun rencana untuk membunuh dirinya sendiri?! Dengan demikian 2 korban pembunuhan terakhir ini nampaknya terlaluy mengada-ada dan hanya ada untuk melengkapi bilangan tujuh saja. Tidak ada kaitan sama sekali dengan bentuk ‘penghukuman’ bagi 7 pendosa.

Hahaha.

Tapi untuk sebuah film detektif, ini cukup bagus. Mengingat bagaimana setiap kasusnya disusun, suspensi, dan klimaksnya. Yang perlu digaris bawahi adalah film ini bukan termasuk Thriller yang menyuguhkan adegan penjagalan yang nggegirisi, tapi seperti film Conan, ini adalah cerita detektif. Soal teka-teki, motif,  menyusun pola, dan mengakhirinya. Itu saja. Thanks.

251009 │  Ayiko Musashi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget