Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Memuat...

Kamis, 26 April 2012

Film di LIP


Film di LIP. Ada dua, Sonnenalle dan Goodbye Lenin. Keduanya berbicara tentang kehidupan masyarakat Jerman Timur semasa berdirinya tembok pemisah Berlin. Film yang pertama pembawaannya lebih santai dan luwes karena berbicara tentang kehidupan sehari-hari seorang pemuda Jerman Timur. Tentang harapan, musik, cinta, dan mimpi-mimpi mereka. Sedangkan yang kedua juga asik tapi nuansanya humornya tidak terlalu dominant karena memang temanya menghendaki demikian; menceritakan seorang pemuda Jerman Timur yang berjuang mengembalikan segala asesoris kehidupan JErman Timur. Sang pemuda tersebut sengaja menyembunyikan kenyataan bahwa Jerman sudah bersatu mengingat ibunya yang baru saja sembuh dari pingsan selama 8 bulan karena serangan jantung. Ini juga menarik.

Secara umum, film-film tersebut hanya bercerita masa pembagian Jerman dan momen saat tembok Berlin dijebol. Tidak ada cerita paska itu. Memang, runtuhnya temok Berlin sangat emosional dan bersejarah, namun menurutku sendiri sebagai penonton, muncul pertanyaan: “njur piye bar tembok e jebol?! Tambah enak opo sek pancet soro?!”.

Pertanyaan ini menurutku penting, karena seperti dalam penggambaran di film, warga Jerman Timur kaget dengan kenyataan hidup mewah di Jerman Barat, juga kaget dengan kenyataan hidup di Jerman Timur sendiri yang miskin. Sehingga dalam waktu yang sangat cepat imej warga kaya Jer-Tim menjadi bahan tertawaan warga Jer-Bar. Apa yang menjadi barang mewah di Jer-Tim adalah barang biasa bahkan lowakan di Jer-Bar. Nah, situasi ini tidak terkspos dalam film. Adakah semacam rasa inferior ketika warga Jer-Tim bertemu dengan warga Jer-Bar?

Masalah yang kedua adalah, istilah ‘bersatu’. Benarkah jebolnya tembok Berlin adalah simbol persatuan warga Jerman? Atau justru itu adalah simbol kekalahan ideologis? Kita tahu bahwa sosialisme di Jer-Tim nampak melempem dibandingkan dengan kapitalisme di Jer-Bar. Lihat saja mimpi dan kenyamanan yang diburu oleh warga Jer-Tim.

Kalau memang benar bersatu, maka persatuan semacam apakah yang terjadi di Jerman? Satu ideologi mendominasi yang lain? Satu ideologi membunuh yang lain? Atau, dari benturan dua ideologi tadi muncul sebuah sintesa? Nah!

Dalam film yang kedua jelas terlihat bahwa pemersatu bangsa Jerman bukan dimulai dari politik atau ekonomi, tapi melalui hal-hal diluar narasi besar seperti, cinta, musik, atau sepak bola. Bagaimana semua warga Jerman terbawa suasana satu semangat mendukung tim mereka berlaga di piala dunia.

Waktu selesai nonton film pertama, kusairi bertanya, kok yang dijadikan subyek narrator di filmnya selalu dari warga Jer-Tim ya?. Ah. Iya juga. Kenapa begitu? Lalu kemudian kita keluar, ambil snak dan es the, terus sholat.

Ini dulu.

Ayiko Musashi, 091109 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget