Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Tentang Sejarah Huruf Arab



Berbicara tentang sejarah teks Arab yang menjadi bahan utama pengolahan seni kaligrafi, beberapa sumber yang bisa kurujuk sampai hari adalah:

Dari Teks Klasik Sampai Ke Kaligrafi Arab
C. Israr
Jakarta: Yayasan Masagung, 1985

Buku ini memiliki data yang cukup bagus dalam menguraikan sejarah huruf Arab; mulai dari pembagian system penulisan pictogram dan ideogram; kemudian merunut silsilah huruf Arab dari Hierogliph Mesir, kemudian Phunisia yang melahirkan sistemn alfabet, lalu turun kepada Arami dan Musnad, dan lebih dekat kepada perkembangan bentu yang sudah lebih mirip dengan apa yang kita ketahui saat ini.

Poin plus yang lain adalah penekanan yang diberikan oleh C. Israr ketika membicarakan Mushaf Al-Qur’an yang ternyata benar-benar harus dihayati perjalanan sejarahnya yang cukup panjang. Rentang waktu yang diperlukan dalam kodifikasi al-Qur’an berjalan selama hamper 25 tahun atau setengah abad, sebelum kemudian sampai kepada kita seeprti saat ini. Rinciannya adalah sebagai berikut:

Pada masa Abu Bakar berlangsung selama     :   2,5 tahun masa jabatan
Pada masa Umar bin Khattab selama             : 10 tahun masa jabatan
Pada masa Usman bin Affan selama              : 12 tahun masa jabatan

Perhitungan ini tentu saja belum mencakup usaha penyempurnaannya yang dimulai pada periode kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dengan memberikan tanda diakritis yang di-handle oleh sang maestro gramatika Arab, Abul Aswad ad-Du’ali.

Menyusul kemudian sejarah pembuatan Tasykil pada periode Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh seorang gubernur bawahan Abdul Malik bin Marwan bernama Al-Hajjaj ibn Yusuf al-Tsaqafi dengan mempercayakan proyek tersebut pada dua murid Abul Aswad ad-Dua’li, yakni NAshr ibn ‘Ashim dan Yahya ibn Ya’mur. Dan kemudian dipungkasi oleh Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi.

Sekali lagi, ini bukanlah titik final. Karena ceritanya masih bergulir panjang lagi ke belakang ketika membicarakan usaha penyempurnaan-penyempurnaan dan ornamentasi mushaf, mulai dari pemberian tanda waqaf, penghitungan ayat, percetakannya, hingga dekorasi di dalamnya. Luar biasa! Sejarah panjang ini yang menurutku perlu dihayati dan akan dimaknai sebagai apa bagi kita yang saat ini hidup, tinggal enak, terima jadi, dan tiba-tiba menjadi pewaris usaha yang tekun dan penuh kesungguhan para pendahulu kita tadi. Apa makna sejarah ini bagi kita? Sense of historiae­ dari diriku perlu diasah dan dihidupkan lagi, kupikir.

Hal menarik yang lain adalah cetusan ide yang tertangkap olehku tentang bagaimana tulisan atau lebih tepatnya kemampuan literer (literasi) pada awalnya adalah suatu medium yang digunakan terbatas untuk hal-hal yang agung, dan karenanya pula distribusi pemakaiannya lebih sering berputar di kalangan agamawan atau kerajaan saja. Aku pikir, saat bahasa Lisan masih dominant, literasi adalah suatu kemampuan yang sangat eksklusif dan berlaku seperti harta oligarkis. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah petikan yang mendeskripsikan hal tersebut:

“Pada zaman dahulu, kepandaian menulis dan membaca adalah milik khusus bagi golongan tertentu yang tidak boleh diajarkan kepada setiap orang. Tidak saja pada bangsa Mesir Purba, tetapi juga pada bangsa lainnya seperti Hindu, kepandaian tulis-baca hanya dimiliki oleh para pendeta dari Kasta Brahma” (hal. 22)

Hal ini cukup berbeda dengan yang terjadi dalam sejarah Islam. Literasi memang hal yang baru bagi masyarakat Arab yang saat itu kental dengan budaya dan bahasa Lisan. Kemampuan baca-tulis lebih diorientasikan kepada penulisan al-Qur’an. Yap. Ini masih mengindikasikan bahwa tulisan adalah medium untuk mengungkapkan sesuatu yang agung. Akan tetapi sifat literasi di dalam sejarah Islam tidak berlaku eksklusif. Terbukti dari catatan sejarah bagaimana Nabi Muhammad, seseorang yang ummi, malah terus mendorong umatnya agar belajar tulis-baca. Ini dijalankan melalui baik kebijakan-kebijakan yang beliau ambil, maupun dari motivasi agama (al-Qur’an) yang secara terang menyebut aktifitas tulis-menulis serta elemen-elemen yang terkait dengannya, seperti pena, tinta, dan kertas. [Baca buku Ilham Khoiri dan artikel Sirojuddin A.R yang berjudul…. Untuk keterangan lebih lengkap]

To be continued…
Ayiko Musashi. 09:27
                                                                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget