Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Artinanti





Silahkan bayangkan bagaimana jadinya tubuh ini, andaikata setiap dosa yang kita lakukan langsung diganjar seketika dengan, luka, borok, cacat, atau bahkan kematian. Jadi misalnya setelah mencuri, tangan langsung prothol; begitu berzina, kelamin langsung terbakar; atau begitu telat shalat, langsung kena panu?! Pasti saya tidak akan kemlinthi, berani-berani melakukan dosa. Paling tidak, pikir-pikir dulu-lah.

Pola demikianlah kira-kira yang diterapkan Tuhan kepada umat-umat terdahulu. Begitu mereka ingkar, membangkang, atau mungkir dari perintah Tuhan, langsung dihukum. Seperti kaum Tsamud (umat nabi Sholeh), yang diguncang gempa; kaum Aad (umat nabi Hud) dihempas angin topan; kaum Madyan (nabi Syuaib) digulingkan gempa; umat nabi Nuh ditelan banjir besar; umat nabi Luth remuk dihujani batu; Qarun ditenggelamkan ke perut bumi; Fir’aun lenyap di tengah laut; Abrahah leleh terhujani batu panas; atau kaum lainnya yang terkutuk menjadi kera. Tidak main-main, bukan?!

Berbeda dengan mereka, umat nabi Muhammad ini reward & punishment-nya ditangguhkan nanti di hari akhirat. Jadi, semuanya ‘hanya’ dicatat oleh malaikat Raqib-Atid, diakumulasi, dan baru nanti diperhitungkan masing-masingnya. Lumayan santai sepertinya menjadi umat nabi Muhammad ini.

***

Kata kunci yang menjadi penekanan disini ialah tentang penangguhan. Masalahnya kemudian, manusia itu mahluk yang tidak sabaran. Mahluk yang tidak bisa berteman akrab dengan sesuatu yang berjarak, sesuatu yang tak kasat mata, sesuatu yang ‘jauh’ disana, dan ‘nanti’. Manusia cenderung kepada sesuatu yang ‘kini-disini-dan-kasatmata’.

Lihat saja misalnya obsesi nabi Musa yang ngotot ingin melihat Tuhan, hingga ia akhirnya pingsan sendiri karena tidak kuat. Atau nabi Ibrahim yang sungguh-sungguh melakukan observasi-kritis untuk menemukan Tuhan. Fase yang beliau jalani bermula dari sesuatu yang materi dulu, yakni pada bintang, bulan, matahari, baru kemudian menemukan Tuhan yang immateri, Allah.

Dalam keseharian, saya sendiri lebih termotivasi dengan model reward & punishment yang langsung. Misalnya, saya takut telat masuk kerja, karena jelas, bos bisa marah, gaji saya dipotong, atau takut nanti dipecat. Contoh yang lain, ketika masih kuliah, saya selalu tepat mengerjakan tugas membuat makalah. Karena saya tahu sanksi jika tidak melakukannya: dimarahi dosen, tidak dapat nilai, atau mengulang pelajaran tahun depan.

Ini adalah beberapa contoh dari pola reward & punishment yang langsung dan konkrit. Berbeda misalnya dengan ketika terlambat shalat, kok ternyata tidak terlalu banyak kekhawatiran ya?! Rasanya biasa-biasa saja. Rasanya tidak terjadi apa-apa. Welah! Tiba-tiba masalah kerja (hubungan saya dengan bos), atau soal tugas kuliah (hubungan saya dengan dosen) menjadi lebih nyata daripada hubungan saya dengan Tuhan. Ini sangat lancang sekali! Bagaiamana tidak? Jika dipecat bos, saya mungkin hanya kehilangan kerja saja. Tapi kalau Tuhan yang memecat saya?! Kan, berabe betul ini urusannya!!

Lantas, apa makna penangguhan Tuhan itu tadi ya, kalau nyatanya malah sering menggelincirkan kita menyembah tuhan-tuhan materi (bos, dosen, orang tua, polisi, atasan, istri, dan lain-lain)? Atau apakah justru sebaliknya. Kita harus ber-positive thinking bahwa sebenarnya Tuhan sangat memercayai potensi generasi kita untuk mampu melampaui segala sifat ke-materian hidup ini? Seperti halnya Ibrahim yang telah lulus hijrah dari segala tuhan wadag. Atau jangan-jangan, ini adalah ujian untuk naik kelas, dari level islam (ibadah formal-materi-kasat mata) menuju level iman (laku hati - sikap percaya), hingga puncaknya, ihsan (penghayatan, merasakan kehadiran Tuhan, seolah-olah kita melihat Tuhan atau Tuhan sedang melihat kita)?



Ayiko Musashi,
08 Juni 2010



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget