Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: American Beauty


American Beauty. “Whuh! Keren film ini, dud. Deskripsi betapa berantakan hidup keluarga americanya ngena dan nyampe. Setiap tokoh dengan setiap kelam masing-masing. Aku punya pertanyaan, apa tho yang menjebak mereka dalam situasi itu? Anyway, aku salut sama perjuangan ayahnya Jane untuk menghidupi hidupnya sendiri. Hahaha. Go watch it, dud!”, begitulah sms yang kukirim setelah nonton film American Beauty.

Beberapa scene yang kusukai adalah ketika pacarnya Jane, tetangga sebelah rumahnya, merekam kantung plastik yang berputar-putar terseret angin. Dalam rekaman itu, kantung plastiknya terkesan seolah menari-nari asyik. Meliuk-liuk ke kanan kiri, berputar, dan melompat terbang sambil berputar, dan turun lagi berlari ke kanan dan kiri. Video ini pasti sangat berharga, karena tidak direkayasa. Maksudku, tidak semua orang punya kesempatan berharga untuk menfilmkan momen seperti itu.

Kemudian scene ketika ayah Jane merayu Angela, gadis SMA yang selalu dibayang-bayangkan olehnya. Sampai ketika sang ayah hampir berhasil, justru ia mengurungkan niatnya dan ‘menyelamatkan’ Angela dari perasaan yang selama di awal film tidak terekspos (obsesi untuk tidak menjadi biasa-biasa saja).

Nah, scene yang terakhir adalah, di akhir segala usaha ayah jane untuk sekali lagi menjadi benar-benar hidup, sang istri kemudian menembaknya dari belakang tanpa sepengetahuan ayah Jane. Kejadiannya berjalan begitu cepat. Sang istri sendiri hampir tidak mengerti kenapa ia begitu kalap menembak kepala suaminya sendiri yang sedang memandangi kagum foto keluarga, foto saat mereka bahagia dan tertawa bersama.

Kemudian sang ayah meninggal, dengan posisi duduk di kursi, kepalanya menempel di meja depannya, menghadap ke kiri dengan rona wajah tersenyum tenang. Darah kental meluber di meja dengan halus, dan menetes ke lantai. Momen ini adalah momen berharga, persis seperti momen ketika kantung plastik tadi menari. Sekali lagi, pacarnya Jane mengamati momen itu. Kepekaannya akan keindahan selalu mendorongnya untuk menfilmkan apa saja yang menurutnya bisa mengingatkannya bahwa hidup ini indah. Dan pose serta jalinan cerita yang dikandung momen ketika ayahnya Jane meninggal adalah salah satunya.

Aku pun berpikir sama dengan pacarnya Jane. Aku merasa kematian yang indah itu sangat pas. Sebuah kematian yang puas, bahagia, dan tenang. Seolah ayahnya Jane meninggal tepat setelah ia tahu bagaimana ia harus menghidupi dirinya sendiri. Kebenaran yang selama ini terus dicari dan diperjuangkannya. Indah, bukan?! Setelah segala keruwetan dan rasa ketidak-bergunaan selama sekian puluh tahun. Hahaha. Kita, muslim, menyebutnya husnul khatimah.

Ohya, karakterisasi tokohnya juga dibangun dengan sangat konsisten dan punya kejutan. Seperti ketika dari awal film ayah dari pacarnya Jane yang sok disiplin ala militer itu selalu memaki-maki para homo dan selalu mengingatkan anaknya dengan nada mengancam untuk jangan sekali-kali menjadi homo, ternyata ia sendiri memiliki dorongan kea rah itu. Lha?! Jadi dalam salah satu scene ketika ia sudah menghajar anaknya dan mengusirnya keluar rumah, ia amat menyesal. Ia mendatangi ayah Jane yang sedang fitness di garasi. Ia menangis, berhujan-hujan, kemudian tanpa kata-kata apapun langsung memeluk ayah Jane dengan mesra, kemudian mencium ayah Jane begitu saja. Tentu saja ini mengagetkan ayah Jane. Juga aku. Lho?! Ada apa dengan psikologi orang yang selama di awal film hingga menjelang akhir digambarkan begitu disiplin dan sangat membenci praktik homo, justru ia sendiri yang sebenarnya perlu ia khawatirkan. Bukan anaknya yang jelas-jelas bukan homo. Jadi, aku melihat ada orang yang mengingkapkan kebenciannya dengan begitu sangat tentang sesuatu kepada orang lain, yang sebenarnya tanpa disadari yang dibenci bukanlah siapa-siapa melainkan dirinya sendiri. Ia memaki dirinya sendiri. Kok bisa, ya?! Aneh memang, tapi masalahnya aku juga kadang punya fakta yang seperti ini dengan diriku sendiri. Ini menarik untuk ditekuni sepertinya.

Kemudian kejutan karakter yang kedua adalah pada tokoh Angela. Ia adalah gadis seksi yang mencitrakan dirinya sendiri sebagai cewek sangat diinginkan oleh para lelaki. Angela mengatakan kepada Jane bahwa ia tidak keberatan dipandang, diamati, dan dijadikan fantasi para lelaki untuk hal yang itu. Angela bahkan bilang ke Jane itu adalah hal yang sudah biasa, karena ini sudah Angela rasakan sejak umur 12 tahun. Pokoknya Angela selalu mengesankan dirinya sebagai cewek seksi yang jalang. Dan Angela sepertinya bangga dengan citra ini. Setiap kali bersama Jane, Angela selalu mengajaknya bicara dan bercerita tentang seks dan rekornya dalam hal tersebut.

Tapi coba tebak, apa sebenarnya yang terjadi? Menjelang film usai, baru ketahuan kalau itu semua omong kosong. Angela belum pernah melakukan seks. Angela mengarang-ngarang semua cerita tadi. Angela sedang membuat citra tentang dirinya dengan cerita-cerita dan tingkah lakunya itu. Tujuan Angela dengan pencitraan itu adalah agar ia merasa bahwa ia istimewa, bukan biasa. Jane benci menjadi cewek biasa-biasa saja. Nah, inilah yang selama sekian tahun Jane kerjakan dalam hidupnya. Ia mulai memahami kenyataan ini ketika ia akan melakukan hubungan seks dengan ayah Jane, yang ternyata urung karena rasa kebapakan ayah Jane—dengan menyelimuti Angela yang tadi sudah ia telanjangi sendiri, memeluknya sayang, dan menenangkan Angela dengan beberapa kata dan obrolan ringan.

That’s it. Asta La Vista. Saluto!


Ayiko Musashi, 081109

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget