Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: The Terminal


The Terminal. Ini adalah salah satu film Tom Hanks yang kusukai. Dari penjaga penjaga rental CD kemarin, Tom Hanks itu memang jago main film. Dia punya karakter yang kuat. Dan kurasa memang demikian. Aku sudah pernah lihat Tom Hanks main di film Cast Away, dan Forest Gump.[1] Dua film tadi dan The Terminal ini menceritakan sesosok manusia yang polos, natural tanpa kontaminasi prejudice berlebih, kecurigaan, atau ketakutan apapun, dalam menghadapi kenyataan hidup.

Tom Hanks di Cast Away menjadi orang yang terdampar di pulau terpencil, dan hidup disana selama sekian bulan, sambil terus berjuang dengan cara apapun untuk tetap pulang. Ada harapan disini. Kemudian Tom Hanks di Forest Gump menjadi seorang—yang dalam banyak asumsi manusia modern melabelinya sebagai—idiot. Ia tak bergeming dengan apa yang orang anggapkan pada dirinya. Ia benar-benar datar saja memandang hidup. Forest Gump yang diperankan oleh Tom Hanks  hanya focus pada mimpi yang ingin dicapainya, dan ia memang berjuang untuk itu. Nah!

Pola ini berulang kembali dalam film The Terminal. Tokoh Novorski adalah seorang warga Negara Krakochzia yang akan ke New York untuk menemui seorang pemain Jazz. Malangnya, tidak seperti yang pernah dibayangkan Novorski terjebak di bandara JFK. Dengan segala keterbatasan bahasa, finansial, serta pemahaman atas apa yang sedang terjadi, ditambah masalah-masalah aneh yang dihadapinya, ia terbilang orang yang tenang dan datar-datar saja.

Bagaimana tidak? Ia menerima, menjalani, dan bersedia hidup dan berhagia di Terminal (bandara, maksudnya) selama 9 bulan. Wow! Apa yang sebenarnya dipikirkan seorang Novorski sehingga ia mampu bertahan selama itu—dan jangan lupa, tidak hanya bertahan saja. Tapi juga hidup serta menghidupinya. Ia bertemu teman, mengenal seorang pramugari cantik bernama Amelia Warren, bekerja, dan melakukan apa saja untuk mengisi hari-hari penantiannya (untuk diperkenankan masuk New York). Dari sisi ini, The Terminal punya kesamaan tema dengan film Cast Away, yakni mengisi hidup dan merayakannya.

Novorski adalah orang periang yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang heroik. Tidak ada yang melankolis. Tidak ada dramatisasi. Ya.. hanya sekedar menjalani hidup dan berbahagia itu saja. Yang ia tahu, ia adalah orang yang selalu menepati janji. Dalam rangka itulah Novorski rela akan menunggu sampai ia selesai memenuhi. Hahaha.

The Terminal menjadi film yang menyuguhkan cerita asik karena bobot cerita sederhana, pemain dengan karakter bagus, juga mungkin karena disutradarai oleh Steven Spielberg. Di luar itu semua, tiba-tiba aku merasa cerita-cerita hidup seperti yang disuguhkan oleh The Terminal adalah sebentuk hidup dengan irama blues. Yah! Blues.


231009
Ayiko Musashi


[1] Film lain Tom Hanks yang pernah ku tonton adalah Green Miles, dan Catch Me If You Can.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget