Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: My Boss My Hero


My Hero My Boss. Film Jepang ini asik, keren, dan bagus pesan yang ingin disampaikannya. Kesanku sangat menarik. Kemasannya lucu, tapi lucu yang cerdas. Mereka juga sangat ekspresif. Artinya setiap pemeran dalam film ini memiliki artikulasi karakter yang sangat tegas dan mampu menampilkan ekspresi yang khas Jepang. Apalagi untuk peranan Makio, sang boss Yakuza yang sekolah SMA, yang begitu banyak perubahan emosi secara mendadak. Hebatnya adalah dia mampu memerankan kelokan-kelokan emosi tadi dengan baik. Itu tergambar dari mimik muka yang dinamis, gesture tubuh, serta olah jiwa yang sangat menghayati perannya.

Sangat komikal. Yap! Menikmati film ini persis sama dengan membaca manga. Mulai dari angle yang diambil. Ekspresi muka yang dinamis. Sekuensial film yang bernuansa panel komik. Dan aktor utama yang karakter luarnya blo’on tapi anehnya aku sebagai penonton mampu mengidentifikasinya dengan mudah bahwa justru keblo-on-annya sang Makio itu malah menegaskan kebijakan, kebaikan, dan kepahlawanan si tokoh. Sisi pemilihan karakter seperti inilah yang juga muncul di film (kartun) Jepang lainnya seperti Sailor Moon, Naruto, One Peace, Doraemon, dll.  

Oke. Kemasannya sudah sangat menarik. Dinamikanya juga mampu menjaga penonton tetap duduk mencari tahu apa selanjutnya yang akan terjadi. Lalu ilustrasi musiknya juga pas. Setip visual ditegaskan lagi melalui musik. Setiap momen diisi dan dikuatkan oleh ilustrasi musik yang ciamik. Otamatis, strategi audio-visual ini mampu menciptakan nuansa yang sampai kepada penonton. Menyeret dan mengikut-sertakan audien untuk terlibat dalam setiap sesi film. Dari sini, benar juga apa yang sudah ditulis Noe (Vokalis Letto) di majalah budaya Gong tempo lalu tentang peran dan pengolahan ilustrasi musik dalam film Jepang.

Form-nya sudah kita apresiasi. Lantas bagaimana content-nya? Ternyata tidak kalah. Silang sengkarut solilukui, dilema yang dialami oleh tokoh utamanya, kompleksitas ceritanyanya juga cukup menarik melihat bagaimana sang sutradara atau penulis skenario menghubungkan setiap satu dan lain hal menjadi penopang jalannya sebuah cerita utama. Temanya sebanarnya ringan-ringan susah. Soal belajar. Yap! Belajar. Apa susahnya bicara tentang belajar?! Semua orang sudah terbiasa mengucap, mendengar, dan menjalani kata ini. Oh ya?! Bisa jadi memang demikian. Tapi justru karena sudah terlalu umum, kata belajar menjadi kata yang remeh dan dangkal. Semua orang sudah terbiasa, sehingga menerima begitu saja kata ‘belajar’ tanpa menghayati makna apakah yang sesungguhnya dikandung oleh kata ‘belajar’.

Yap! Inilah yang dielaborasi oleh film ini. Sasaki Makio, seorang calon boss Yakuza, sebuah kelompok mafia yang terorganisir seperti Mafioso Itali di Jepang, berniat sekolah kembali di SMA agar ia bisa mewarisi kepemimpinan Yakuza yang saat itu diempu oleh ayahnya sendiri. Ini poin pertama. Seorang Yakuza sekolah?! Ini saja menarik. Melihat bagaimana perangai, cara berpikir, dan menimbang bagaimana cara mereka  mendapatkan apa yang mereka inginkan, lalu tiba-tiba sekolah—dengan sekian tata aturan, tugas-tugas, dan tetek-bengek-nya. Lalu ditambah lagi, saat Makio masuk sekolah SMA ia sebenarnya sudah berumur 28 tahun. Ini jelas peregesekan sosial-psikis yang lumayan alot bagi Makio untuk bergumul dengan bocah-bocah berumur 17 tahunan selama satu tahun ia akan menjalani sekolah. Hehehe. Poin keduanya terletak pada bagaimana Sasaki, sang boss Yakuza dengan segala kosa kata tentang kekerasan dan citra kriminal, menitahkan perintah pada Makio untuk sekolah. Lihat bagaimana seorang bos Yakuza masih memandang perlu sekolah. Lihat bagaimana kepedulian sang bos Yakuza terhadap pendidikan. Kebetulan sang bos juga adalah ayah dari Makio juga.

Hal lain yang menarik adalah nilai solidaritas masyarakat Jepang yang tersirat dalam film ini. Setiap tokoh memainkan peranan masing-masing untuk mendukung jalinan cerita. Dari sini, malah sebenarnya dalam film ini tidak terkesan adanya penonjolan salah seorang tokoh. Karena yang terjadi adalah setiap orang bermain untuk cerita. Aku ingat bagaaimana sang guru, teman-teman kelas, para Yakuza bermain.

Lalu, perhatikan aksi dan reaksi setiap tokoh dalam film ini. Bandingkan dengan wajah kebanyak sinetron di televisi kita. Tidak ada eksploitasi emosi yang berlebihan di film ini. Tidak melankolis. Tidak melodrama lantas menurutkan onani satu emosi berlarut-larut. Tidak cengeng. Tapi ketenangan dan kedewasaan yang sangat tegas. Ini penting, menurutku. Karena film adalah media yang cukup besar peranannya dalam menciptakan nalar asosiatif, logika dan cara pandang dari penontonnnya. Setiap film yang sudah kita tonton akan menjadi semacam proto-type terbayang dan mengendap di kepala sebagai memory dan pilihan untuk bertindak. Bukankah kita lebih sering belajar dengan meniru?! Jika memang demikian, maka carilah tiruan yang benar. Sesuatu yang benar untuk ditiru—kalau belum bisa mandiri, tentunya, hehehe. Jangan seperti yang selalu diucapkan oleh Cak Nun, “Wong Indonesia iki piye…?! Senengane kok nyembah berhala. Wes ngunu salah meneh berhalane?!..”. Tragis dan ironis. Menyembah berhala saja itu sudah lambang kebodohan. Malah ditambah salah mengambil berhala itu artinya adalah kebodohan kuadrat. Hehehe.

At least, manusia Jepang dalam film ini adalah manusia pembelajar, riang, dan bersemangat.


Ayiko Musashi, 29 Desember 2009


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget