Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Lupa #1





Freidrich Nietzsche itu sering dikesankan sebagai filosof Jerman yang angker dan kurang ajar. Bagaimana tidak, jika ternyata dialah yang mengumumkan “kematian” tuhan. Tapi hidup itu memang sarat ambiguitas dan layar lebar kemungkinan-kemungkinan. Sehingga kemudian Muhammad Iqbal, pemikir Pakistan yang pendiam, itu mengaku bahwa guru sufinya adalah justru si edan Nietzsche itu.

“Got is Tot! God is Dead! Tuhan telah Mati! Dan kitalah para pembunuhnya!”. Demikian petikan dari novelnya, Thus Spoke Zarathustra, yang sering dikutip. Celaka! Kalau tuhan meninggal, kira-kira bakal dikubur dimana ya?! Terus, berarti akan ada acara peringatan 7 hari, 40 puluh hari, dan seribu hari kematiannya dong?!

Mungkin tidaklah terlalu penting membahas ungkapan literalnya, tapi justru asik jika menelisik alasannya. Tuhan telah mati, dan kitalah yang membunuhnya, karena dalam setiap lini kehidupan yang terselenggara ini tuhan tidak pernah dihadirkan disana. Tuhan telah kita eliminasi. Kita pinggirkan dan tak pernah diperhitungkan. Seolah hidup ini berjalan semata-mata karena ada usaha manusia, rutinitas, hukum kausalitas, materi, dan waktu.

Lupa. Itulah titik yang menentukan sesuatu ada dan tiada. Dan sengaja melupakan, menurut Nietzsche, adalah sebuah pembunuhan. Tapi, bagaimana kronologinya sehingga kita bisa sampai tega mengalpakan tuhan dengan sengaja?

Hm. Mungkin karena kita over confidence. Keblinger setelah berhasil menciptakan mesin-mesin yang mampu memproduksi sesuatu secara massal dalam waktu singkat, menjelajahi penjuru bumi, menyelami lautan, menyambangi bulan, menyedot minyak dan gas alam di perut bumi, merekayasa genetika, merekonstruksi tubuh, melipat dunia, menyihir orang banyak melalui iklan, mengalihkan perhatian, mengarahkan opini publik, menyabdakan wahyu-wahyu mode dan gaya hidup tak berkesudahan, menggelontorkan hasrat keabadian dan dahaga abadi terhadap sesuatu yang baru, menata realitas-realitas semu, serba tak utuh, dan baaaanyak lagi lainnya.

Mungkin kebiasaan berpikir bahwa saya berpikir, maka saya ada itulah biang keladinya. Maka kemudian lahir adigium-adigium lain yang serupa seperti: saya belanja maka saya ada, saya kaya maka saya ada, saya ganteng maka saya ada, saya terkenal maka saya ada. Hingga yang paling seru adalah ungkapan diam-diam bahwa saya update status facebook, maka saya ada. J

Saya melihat karena mata saya bekerja. Saya mendengar karena telinga saya bekerja. Yang begini memang sudah cukup benar. Tapi ada yang lebih benar. Saya bisa melihat bukan hanya semata karena mata saya bekerja, dan ada obyek yang bisa saya lihat. Melainkan juga karena ada medium. Ada situasi dan kondisi yang membuat alat dan obyek tadi bekerja, yakni cahaya. Tanpa cahaya mustahil mata melihat dan suatu benda terlihat. Demikian halnya dengan telinga beserta yang didengarnya. Karena diperantarai (gelombang) udaralah proses mendengar bisa terjadi.

Hal-hal seperti cahaya dan udara tadilah yang sering luput diperhatikan. Logika kausalitas yang sudah kadung sering saya pakai ternyata cekak. Karena luput merangkum keberadaan, peran, dan kontribusi aktif Dzat yang mengizinkan segala piranti hidup saya dan kehidupan ini dapat bekerja.
Jadi, jika disederhanakan, semuanya yang terjadi ini bisa terjadi juga karena berada dalam kerangka izinNya. Bukan semata-mata murni usaha manusia. Karena ada sesuatu yang berada di luar pengetahuan, kehendak, dan rekayasa manusia. Seperti menata situasi, kondisi, atau bahkan seperti contoh tadi, yakni mencipta cahaya. Manusia itu cuma tinggal numpang melintas di jalur hukum yang sudah ditatakan olehNya.

Pendeknya, ada pelajaran untuk berlaku proporsional. Mengakui kerjasama manusia dengan tuhannya. Sandi-Nya adalah kun fayakun. Dan kita yang makhluk-Nya belajar menghayati budaya sangkan-paraning-dumadi dalam kredo inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Maka sekarang saya tanyai diri sendiri: kalau kamu bukan “pembunuh tuhan”, ayo, mana buktinya?



Ayiko Musashi,
12 Juli 2010

    


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget