Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: Munich


Munich. Ini cerita tentang Mossad. Semacam intelejen untuk israel, seperti CIA di amerika, KGB di rusia, atau BIN di Indonesia. 5 orang mempunyai misi untuk menghabisi 11 orang yang disebut sebagai teroris arab yang terlibat dalam kejadian penembakan 2 orang Israel di olimpiade Munich tahun sekian.

Sutradara film ini adalah Steven Spielberg, sutradara piawai yang sering mengangkat tema soal Yahudi. Entah bagaimana ending film ini. Aku baru sampai di tengah, dan sekarang saatnya untuk Pecel Time. Hahaha.

Yang melintas di kepalaku adalah misi, uang berlimpah untuk membunuh; dengan menembak atau meledakkan bom, dan sekelompok orang yang bergerak diam-diam dengan identitas yang sudah dihapus tapi kucuran dana besar-besaran tidak berhenti mengalir. Ah. Hidup di dunia ini sepertinya muter di masalah nasionalisme, unjuk kekuatan, dendam, fanatisme, uang, pistol, bom, dan membunuh. Wuih! Dahsyat.

Ini dulu.

Ayiko Musashi  – 31102009

To bo continued…

Syip. Aku baru saja menyelesaikan film Munich. Bagus. Steven Spielberg cukup bagus dalam memberikan deskripsi dan proporsi masalah yang diangkat. Seperti ketika mendeskripsikan tentang ketegangan Palestina-Israel. Hal-hal yang berkecamuk di kepala masing-masing dipaparkan secara proporsional, tanpa penghakiman. Seolah Steve ini ingin membuat jembatan diantara dua konflik yang selama ini belum kelar. Paling tidak Steve telah memulainya.

Yang kedua adalah sorotan psikologis dan keyakinan seorang Avner, pemimpin dalam misi pembunuhan 11 orang Palestina yang dianggap teroris oleh beberapa pejabat Israel. Avner adalah seorang suami yang mempunyai istri dan seorang anak perempuan yang masih kecil. Motivasi Avner menjadi anggota Mossad dalam misi ini adalah juga untuk menghidupi keluarganya.

Misi dimulai. Avner dihilangkan identitasnya, menjalankan misi dengan dana yang berlimpah. Hamper setiap target yang dibunuh menghabiskan biaya 200 dollar. Puihh, lumayan mahal, bukan?!

Satu-dua-tiga sampai lima target telah Avner habisi. Tiba pada yang keenam dan selanjutnya Avner mulai kehilangan beberapa temannya. Mereka terbunuh diam-diam, dan saat itulah Avner mempertanyakan apa sebenarnya yang telah dan sedang ia lakukan. Ia merasa telah menjadi seorang pembunuh. Bahkan ia pun mengidap paranoid. Ia merasa takut dengan setiap modus pembunuhan target yang ia dan teman-temannya pernah lakukan; mulai dari memasang bom, menyergap, memberondong ketika mereka masih tidur bersama istri, dan lain-lain.

Bagian terbaik dalam film Munich menurutku terletak pada dialog di akhir film. Avner bertemu dengan seorang pejabat tinggi Mossad, dan ia utarakan pikirannya bahwa tidak ada kedamaian setelah target-target dalam misi rahasia tersebut terbunuh. Akan ada orang-orang lain yang lebih kejam yang akan menggantikan mereka. Secara halus, Avner tidak menyetujui misi yang telah ia lakukan. Ia sama sekali tidak merasa bangga atas apapun, meski banyak orang memuji-muji dirinya. Di sisi lain, sang pejabat tadi berkata, jika orang-orang itu hidup, maka orang Israel mati. Nah! Sampai disini aku melihat semacam solilukui bangsa Israel. Geremengan, dan unek-unek yang perlu mereka pikirkan masak-masak. Menarik.

Hal lainnya adalah, aku bias melihat bagaimana seorang Avner hanyalah skrup dalam sebuah sistem  Avner sebenarnya hanyalah alat. Benar apa yang telah dikatakan ibunya, “Kamu telah kehilangan banyak hal, Avner”. Karena kenyataannya, Avner tak pernah tahu apa benar 7 orang yang telah ia bunuh ada keterkaitan dengan peristiwa di Munich. Ia tidak mempunyai akses untuk menjawab pertanyaan itu. Avner seperti peluru yang melaju begitu saja ketika seseorang telah menekan picu. Avner seperti peluru, tapi kemudian ia rindu menjadi seorang suami, menjadi seorang ayah, menjadi manusia.

Keren!

Ayiko Musashi
011109

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget