Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Setelah Tahu





Kemarin malam saya punya obrolan yang menarik dengan seorang teman. Tentang tahu-beraksi-ikhlas. Ternyata tiga hal tersebut adalah sebuah proses berkesinambungan yang berundak. Seperti tangga, yang jika digambar, maka di anak tangga terbawah ada manusia, kemudian naik satu tingkat ke atas ada level yang bernama tahu. Naik satu anak tangga lagi sampai di level beraksi. Dan kemudian anak tangga tertinggi adalah level ikhlas.

Undakan tersebut menyiratkan bahwa antara tahu, beraksi, dan ikhlas bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis, melainkan sesuatu yang membutuhkan perjuangan gradual pada tiap levelnya. Maksud saya, ketika orang tahu akan sesuatu, itu tidak lantas membuatnya beraksi melakukan apa yang diketahui. Maka pengetahuan itu satu hal, dan aksi melakukan apa yang diketahui itu adalah hal yang lain.

Saya terhenyak menyadari bahwa tahu dan beraksi itu adalah level yang berbeda. Ini yang pertama kali saya tangkap dari ide filsuf Denmark bernama Søren Aabye Kierkegaard. Hmm. Kemudian saya kroscek diri saya sendiri. Apa yang saya tahu? Saya tahu pentingnya disiplin waktu, mulai dari filosofi atau manajemennya; saya juga tahu bahwa tubuh saya butuh olah raga; saya tahu solat subuh mesti sesuai waktu subuh, bukan dluha, dan saya tahu hal-hal lain yang banyak lagi. Oke. Tapi, dari yang banyak yang saya tahu tadi ternyata baru sedikit sekali yang sudah saya amalkan (aksi). Alamak!

***

Beraksi adalah wilayah after knowledge, apa yang terjadi setelah tahu. Ini penting dibicarakan. Karena orientasi pendidikan kita saat ini menurut saya masih asyik berkutat di wilayah knowledge saja sebagai capaian finalnya. Berarti, di antara tiga ranah pendidikan—kognisi, psikomotorik, dan afeksi—praktis hanya kognisi saja yang baru diurus.

Sehingga, misal, dulu ketika belajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila) semua murid di kelas fasih mengulang barisan kalimat tentang tolong-menolong, gotong royong, membantu ibu, toleransi, tenggang rasa, menghormati aturan, tidak mencuri, tidak berbohong, dan segala macam. Semua kita seolah menjadi anak-anak manis yang baik, bermoral, saleh, dan “tidak berbahaya”, di lembar jawaban ujian. Tapi, mengapa lain kemudian tindak yang berlaku di nyata kehidupan?

Seolah ada gap. Ada jurang antara pengetahuan yang sudah kita simpan di otak dengan laku hidup riil yang terjadi sehari-hari.

Permasalahan seperti ini mungkin bukan hanya soal pendidikan saja, tapi, seperti yang pernah Kierkegaard sampaikan, juga soal momen-momen otentik hidup yang sifatnya sangat pribadi. Setiap kita, setelah tahu, akan selalu masih mempunyai pekerjaan dan keharusan untuk memutuskan: sikap dan tindakan seperti apa yang akan kita pilih dalam menghadapi beragam kenyataan hidup ini. Jika untuk tahu, kita mendayagunakan akal, maka pada momen memilih sikap dan tindakan seperti ini, hati dan nurani kitalah yang kemudian bekerja menentukan.

Jadi, setelah tahu itu ada undakan beraksi. Dan ternyata belum selesai di situ. Satu undakan terakhir juga mesti didaki, yakni ikhlas. Nah, sampai di sini pembicaraan menjadi semakin abstrak. Karena kita memasuki bilik yang semakin dalam dari wilayah hati. Ranah yang logikanya masih samar bagi saya. Maka dari itu saya mohon maaf, karena tidak bisa bicara apapun tentang level bernama ikhlas ini. Meski jelas inilah stage final yang harus dicapai untuk menyempurnakan semua tahu dan aksi kita.

Dengan alur demikian, proses belajar (dalam hal apapun) menjadi sebuah proses yang tidak dangkal. Karena pertama, orang harus belajar untuk tahu. Kemudian belajar untuk beraksi. Dan dipungkasi dengan belajar untuk ikhlas. Fa idza faraghta fanshab, begitu kira-kira semangatnya. Persis seperti sebuah pernyataan—entah hadis atau ucapan para sufi—yang berbunyi: semua orang akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu (alimun). Dan semua orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya (amilun). Dan kemudian semua orang yang mengamalkan ilmunyapun akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas (mukhlisun).

Bah! Mantap sekali itu!



Ayiko Musashi,
Sapen, 13 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget