Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

Hermeneutika


Sekilas Hermeneutika Filosofis Gadamer
(Lingkaran Hermeneutika dan Peleburan Cakrawala)

Oleh: Abul Haris Akbar




Hermeneutika Citarasa Jerman
Pada awalnya,  Hermeneutika diperkenalkan oleh Plato dan Aristoteles, yang mereka maksudkan sebagai “various types of understanding”; kemudian disebut-sebut juga oleh Thomas Aquinas dan Giambattisto Vico yang merujuknya sebagai “meaning theories about how texts should be interpreted in order to best understand their meaning”;[1] berikutnya oleh Baruch Spinoza (atau Benedict de Spinoza); dan selanjutnya bergilir secara estafet menuju para hermeunitakawan babon asal Jerman yang sering dicatat dalam sejarah Hermeneutika. Setiap mereka membawa tawaran, modifikasi serta perombakan terhadap disiplin yang bernama Hermeneutika ini.

Hermeneutika di tangan Fredrich Schleirmacher adalah seperangkat alat untuk mendapatkan kebenaran penafsiran yang obyektif. Seorang penafsir dikondisikan untuk menjadi pasif. Menahan subyektifitasnya, dan mengosongkan kepalanya dari prasangka-prasangka; meneliti struktur gramatika teks (analisis filologis) lantas menelaah kondisi psikis sang pengarang untuk mendekatkan nuansa di mana teks tersebut dituangkan (analisis psikologis). Dalam serangkaian praktik demikianlah, Schleirmacher mengandaikan bahwa hasil sebuah penafsiran adalah tindak reproduksi makna yang memiliki derajat obyektif-ilmiah.[2]

Wilhem Dilthey yang datang kemudian mengkritik metodologi penafsiran yang ditawarkan oleh Schleirmacher. Menurutnya, metode yang dirancang sangat terpengaruh oleh dominasi metodologi ilmu kealaman yang menekankan obyektifitas dengan menanggalkan subyektifitas sang penafsir sama sekali. Dilthey mulai menyadari bahwa antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan memiliki perbedaan metodologi. Jika yang pertama bekerjanya erklaren (menjelaskan), maka kerja jenis  ilmu yang kedua adalah verstehen (memahami). Dengan demikian, menjadi tidak tepat jika metodologi ilmu kealaman diterapkan untuk ilmu kemanusiaan. Seorang penafsir tidak pernah bisa melepaskan subyektifitasnya secara sempurna, karena manusia selalu sudah berada dan tersituasikan dalam historisitasnya masing-masing; terikat oleh dimensi waktu dan kesejarahannya (critique of historical reason). Maka Dilthey menawarkan hermeneutika sebagai metodologi yang tepat untuk ilmu-ilmu kemanusiaan.[3]

Martin Heidegger yang datang setelah Dilthey malah meradikalkan gagasan Dilthey, sekaligus membaliknya. Hermeneutika atau verstehen tadi bukan lagi sebagai metode untuk mendapatkan kebenaran dalam satu jenis keilmuan, melainkan sebagai mode of being. “Memahami” adalah strutur mengada bagi manusia. Hermeneutika adalah karakter ontologism dasein (manusia). Menjadi manusia dan menafsirkan adalah satu—meminjam istilah Donny Gahral Ardian. Disini, perlu dicatat bahwa yang dimaksudkan dengan tindak “memahami” oleh Heidegger memiliki penekanan khusus. “Memahami” merupakan memahami dalam pengertian praktis, dan yang dipahami bukan teks tapi aktifitas. Untuk lebih jelasnya, dapat diikuti kutipan berikut ini.

Indeed, Heidegger's paradigmatic cases of understanding are not texts, but activities, such as opening doors and hammering. In these activities, we do not first see the door or a hammer and then discover its properties. Instead, understanding is, first of all, knowing how--whether knowing how to hammer, knowing how to do what I am doing, or knowing how to be. For Heidegger, we make this sort of knowing how explicit in an interpretation by understanding something as something in the context of our ongoing projects and purposes, as part of a set of functional interrelationships. We see the thing as something, a hammer, a door, and so on.[4]

Dalam bahasa Donny Gahral Ardian, manusia tidak terlempar ke dalam dunia teoretisasi melainkan maknawi. Kerja pertama manusia bukanlah menjejerkan benda-benda untuk diobservasi satu demi satu. Malainkan, menafsirkannya dalam konteks pemaknaan yang diwarisinya. Menafsirkan lebih dahulu daripada mengetahui. Hermeneutika Heidegger ini sering juga disebut sebagai Hermeneutika-Fenomenologis. Tesis utamanya adalah, kenyataan bukanlah kenyataan dalam dirinya sendiri, melainkan teks bermakna yang menyembul akibat kodrat dasein (manusia) sebagai sang penyingkapnya.[5] Istilah “fenomenologi” yang digunakan tentu saja bukan fenomenologi seperti yang digagas oleh Edmund Husler, melainkan lebih dekat dengan istilah “fenomena” ala Immanuel Kant dalam melawankannya dengan istilah “noumena” atau das ding ansich, sesuatu di dalam dirinya sendiri. Eric Lemay dan Jennifer A. Pitts menggambarkannya dalam kalimat yang sederhana:

Setiap pengalaman, bagi Kant, pertama-tama dan terutama adalah pengalaman manusiawi. Kita tidak dapat menyangkal itu bila kita lihat, misalnya sekuntum bunga. Kita melihatnya dengan cara khas manusia. Kita tidak dapat mengerti bunga itu terlepas dari pengalaman kita mengenai bunga itu.[6]

Tesis penting milik Heidegger inilah yang kemudian dipegang oleh Hans Georg Gadamer, bahwa hermeneutika bukanlah metode lagi, karena yang dipandang sebagai metode berarti hermeneutika yang masih terbelit lingkar Cartesian yang selalu berupaya mencari sesuatu yang pasti dan mutlak.[7] Yang perlu diperhatikan, maksud dari peralihan hermeneutika tidak lagi sebagai metode bukanlah sebagai sebuah penolakan atas pentingnya masalah metodologis, tetapi ingin menekankan keterbatasan peranan metode dan prioritas memahami sebagai sesuatu yang bersifat dialogis, praktis, dan aktifitas yang tersituasikan.[8]

Aneka Lingkaran Hermeneutika
Konsep lingkaran hermeneutika (hermeneutic Circle) adalah konsep yang digunakan oleh banyak filosof dengan penekanan yang berbeda-beda satu sama lain, yang pada intinya bermuara pada proses menafsirkan teks. Untuk mengetahui yang “keseluruhan” (the whole) ditempuh melalui pemahaman akan “bagian” (the part), demikian sebaliknya. Untuk memahami “bagian” dicapai dengan cara memahami yang “keseluruhan”. Karakter melingkar (circular) ini menekankan bahwa makna teks  dapat ditemukan dalam konteks kultural, historis dan literernya.[9]

Lingkaran Obyektifis
Spinoza menjelaskan bahwa untuk memahami Bibel, pembaca perlu melihat bagian-bagian teks dengan mempertimbangkan kesesuaian keseluruhannya. Untuk mendapatkan pemahaman yang tepat, seseorang perlu melihat makna ayat per ayat, dan mempertimbangkan bagaimana makna tersebut diinformasikan oleh struktur keseluruhannya. Dengan melakukan ini, gerak maju-mundur antara keseluruhan dan bagian, maka penafsiran yang benar dan obyektif dapat diraih. Dalam dunia penafsiran teks, lingkaran ini juga dipahami sebagai proses menafsirkan keseluruhan teks (sebagai “bagian”) dengan konteksnya di dalam tradisi historisnya (“keseluruhan”).[10]

Tesis lingkaran hermeneutika Spinoza yang hanya berkutat pada bidang tekstual semata ini dilengkapi oleh Schleiermacher. Menurutnya, untuk mendapatkan kebenaran yang obyektif dalam penafsiran, seseorang tidak hanya sekedar mempertimbangkan struktur teks semata, tetapi juga perlu melibatkan pengetahuan konteks dimana teks tersebut lahir dan psikologi sang pengarangnya.[11]

Lingkaran Peralihan
Ambisi obyektivitas yang digagas oleh Schleiermacher adalah obyektivitas yang ilusif menurut Dilthey. Setiap manusia memiliki karakter historisitas.  Ia terjalin di dalamnya, sehingga kerja menafsirkan teks bukanlah dengan menenggelamkan diri di dalam teks, tetapi berusaha menemukan cara berinteraksi yang memungkinkan dengan teks.[12] Metode yang ditawarkan adalah verstehen, memahami—seperti yang telah disinggung di muka. Untuk memahami secara konkret letak penting verstehen sebagai metode keilmuan kemanusiaan, menarik untuk menyambungkannya dengan keterangan Jean Grondin mengenai istilah “inner word” atau “kata-batin”. Menurut Grondin, ada interioritas makna, yakni sesuatu yang diacu sekaligus disembunyikan oleh kata-kata, sementara yang disembunyikan lebih banyak daripada yang dihadirkan kepada kita. Tidak ada metode yang sampai kepada yang-tak-dikatakan ini selain pemahaman.[13]

Lingkaran Heidegger
Lingkaran Hermeneutika Heidegger bergerak pada proses mehamami kenyataan (whole) melalui eksistensi keseharian personal (part). Jadi, aktifitas memahami berjalan di atas pra-pemahaman (“fore-structure” of understanding), yang memungkinkan fenomena eksternal dapat ditafsirkan oleh seseorang.[14] Lingkaran hermeneutika Heidegger ini sebenarnya bukanlah gerakan dari teks menuju konteks, melainkan lebih merujuk kepada gerak dari kehidupan perseorang individual (part) menuju dunianya (whole).[15] Ensiklopedi Filsafat Stanford, menulisnya dengan:
….The ‘hermeneutic circle’ that had been a central idea in previous hermeneutic thinking, and that had been viewed in terms of the interpretative interdependence, within any meaningful structure, between the parts of that structure and the whole, was transformed by Heidegger, so that it was now seen as expressing the way in which all understanding was ‘always already’ given over to that which is to be understood (to ‘the things themselves’—‘die Sachen selbst’). Thus, to take a simple example, if we wish to understand some particular artwork, we already need to have some prior understanding of that work (even if only as a set of paint marks on canvas), otherwise it cannot even be seen as something to be understood.[16]

Kehidupan perseorangan dapat dipahami dalam konteks dunia yang didiaminya.[17] Dalam istilah yang lain, konsep lingkaran hermeneutika Heidegger ini adalah gerak saling mempengaruhi (interplay) antara seorang penafsir dengan sebuah tradisi dalam sebuah dialektika terbuka. Inilah yang diikuti Gadamer dari pemikiran Heidegger: bahwa seorang penafsir dekat sekali terhubung dengan tradisi. Sehingga, jika suatu kali, tradisi berubah, maka hasil penafsiran pun akan menjadi berbeda.[18]

Hal perlu diperjelas di sini adalah, hubungan presuposisi dengan perkembangan lingkaran hermeneutika. Kutipan Paul Tseng berikut ini sangat bagus menjelaskan kaitan tersebut.

…Moreover, Heidegger’s notion of ‘the prestructure’ also contributes  significantly to the development of ‘the hermeneutic circle.’  He raises this  notion with the belief that interpretation is never a presuppositonless grasping of something given in advance.  Therefore it is almost impossible to understand anything without prejudice and presupposition.  For historicity and  temporality may affect the formation of the prestructure of understanding. And since historicity and temporality are deeply related to personal lived  experience, understanding has something to do with human existence.[19]

Lingkaran Gadamer
Gadamer mengembangkan konsep ini dengan mengkonsep ulang lingkaran hermeneutika sebagai proses iterative dimana pemahaman akan realitas keseluruhan dikembangkan melalui eksplorasi detil eksistensi. Gadamer melihat bahwa pemahaman selalu melalui bahasa, yang denganya percakapan atau dialog dengan orang lain, dimana kenyataan dieksplorasi dan persetujuan dicapai, menghasilkan pemahaman baru. Sentralitas percakapan (conversation) dikarakterkan oleh Donald Schon sebagai "a conversation with the situation", percakapan dengan situasi.[20] Dalam keterangan lain, Gadamer memahami lingkaran hermeneutika sebagai gerakan interplay (pengaruh-mempengaruhi) antara pembaca dengan teks, interaksi antara si penafsir dengan tradisi penafsiran.[21] Interaksi adalah kata kunci, karena menurut Gadamer, kita tidak dapat melenyapkan tradisi penafsiran. Tradisi yang sarat dengan presuposisi bukanlah halangan dalam menafsirkan, tetapi justru menjadi jembatan bagi pemahaman yang lebih kaya tentang obyek penafsiran.[22]

Bagi pemikir-pemikir lain, fakta cara kita menjelaskan beberapa kata, sangat jelas menunjukkan bukti bahwa ada sebuah sharing pengalaman di antara sesama manusia. Semisal, setiap orang bisa menunjuk pada matahari, sebagai sesuatu yang ada (exist), dan kemudian menamainya dengan suara-suara, symbol,atau kata yang mewakili atau secara lahir menunjukkan pada keberadaan sang matahari tersebut. Pasti ada beberapa ketidaksepakatan mengenai apakah ‘matahari’ itu sesungguhnya, tetapi jelas ada kesepakatan bahwa ‘matahari’ tadi ada, eksis. Maka, berangkat dari gambaran ini kemudian ditarik kesimpulan, bahwa beberapa konsep dan ide bersifat universal.[23]

Titik Divergensi dan Konvergensi
Hal yang bisa dipadatkan dari periodesasi di atas adalah, bahwa ada titik tekan yang berbeda antara kubu yang diwakili oleh Schleiermacher dengan kubu Heidegger dan Gadamer. Lingkaran Hermeneutika Schleiermacher menekankan pada relasi antara “bagian” (constituent parts) dengan dengan “keseluruhan” teks; sedangkan Lingkaran hermeneutika Heidegger dan Gadamer lebih menekankan pada interplay antara seorang penafsir dengan sebuah tradisi.[24] Yang pertama adalah bentuk penafsiran yang ingin obyektif, sedangkan yang kedua, mengadopsi pandangan historisitas teks, dengan meletakkan seorang penafsir sekaligus teks yang ditafsirkannya di dalam tradisi. Meskipun keduanya berbeda, tetapi oleh Paul Tseng didudukkan sebagai pandangan yang saling melengkapi satu sama lain; karena yang pertama bertujuan mengeksplorasi ‘makna’ (meaning), sedangkan yang selanjutnya menyibak ‘signifikansi’ tekstualnya (significance).[25]

Meskipun ada banyak kesamaan antara Heidegger dengan Gadamer, ada beberapa perbedaan penting antara keterangan Lingkaran Hermeneutika keduanya.
(1)    Heidegger tidak berbicara lingkaran “keseluruhan” dan “bagian”-nya, tetapi lingkaran antara memahami dan cara membukanya dalam proses penafsiran.sedangkan Gadamer jelas menghubungkan ide sirkularitas ini dengan ide “Koherensi (antara) keseluruhan dan bagian-bagiannya”. Lingkaran ini bagi Gadamer menjelaskan proses konstan yang berisi revisi antisipasi (pengetahuan dasar) memahami agar menjadi lebih baik dan meyakinkan. Gadamer melihat, bahwa dalam koherensi antara keseluruhan dan bagian-bagian ini sebagai kiteria pemahaman yang benar. Koherensi antara keseluruhan dan bagian-bagian ini adalah pejabaran dari istilah yang disebutnya sebagai “anticipation of perfection”.
(2)    Heidegger sangat konsern dengan antisipasi eksistensi yang selalu terlibat dalam setiap pemahaman, sedangkan Gadamer lebih mengonsentrasikannya pada masalah batasan penafsiran teks dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.
(3)    Heidegger bersikeras pada fakta bahwa memahami ditujukan ke masa depan (future), sedangkan Gadamer lebih memilih bersikeras pada masa lalu (past) sebagai batasan sebuah pemahaman.[26]

Keterangan yang lain menambahkan bahwa titik perbedaan mendasar Gadamer dengan Heidegger adalah pada beberapa hal: (1) Obyek penelitian hermeneutik Heidegger adalah eksistensi manusia secara keseluruhan, sementara obyek penelitian Gadamer lebih merupakan teks literature; (2) Gaya Heidegger adalah gaya eksistensialisme, sementara Gadamer lebih berperan sebagai seorang filolog yang hendak memahami suatu teks kuno beserta kompleksitas yang ada di dalamnya; (3) Bagi Heidegger, proses menafsirkan untuk memahami sesuatu selalu mengandaikan pemahaman yang juga turut serta dalam proses penafsiran tersebut. Artinya, untuk memahami, orang perlu untuk memiliki pemahaman dasar terlebih dahulu, sementara bagi Gadamer, konsep lingkaran hermeneutis mencakup pemahaman bagian-bagian melalui keseluruhan, dan sebaliknya; (4) Fokus hermeneutika Heidegger adalah membentuk manusia yang otentik, yakni membantu menemukan tujuan dasar dari eksistensi manusia, sementara bagi Gadamer, fokus dari hermeneutika adalah menemukan pokok permasalahan yang ingin diungkapkan oleh teks. Kesamaannya terletak pada satu hal, bahwa proses lingkaran hermeneutik sangatlah penting di dalam pembentukan pemahaman manusia. Gadamer memang mendapatkan banyak sekali inspirasi dari Heidegger, namun ia kemudian mengembangkannya serta menerapkannya pada hal yang lebih spesifik, yakni proses penafsiran tekstual di dalam literatur dan filsafat.[27]

Kebenaran adalah Cakrawala
Heidegger dan Gadamer melihat dan menggambarkan kebenaran sebagai cakrawala (horizon). Jangkauan seberapa luas dan jauh wilayah yang bisa dicapai bergantung pada kapasitas kemampuan mata untuk mengindera. Demikian juga dengan jangkauan kebanaran yang mampu dicapai seseorang bergantung pada kapasitas pengetahuan dan pemahamannya. Dengan memahami kebenaran sebagai cakrawala, maka proses menemui kebenaran diistilahkan Heidegger sebagai “ketersingkapan”. Jadi, kebenaran tidak pernah diringkus. Ini adalah hermeneutika faktisitas (keterbatasan). Seseorang hanya mampu menyingkap kebenaran dalam batas cakrawala. Disini Heidegger menekankan pada dimensi temporalitas kesadaran atau kebenaran. Karena kebenaran dapat saja meluas seiring dengan bertambahnya kapasitas pengetahuan dalam menyibak cakrawala.

Setiap kali memahami kebenaran, seseorang akan selalu sudah memahami dalam struktur presuposisi (fore-structure), yang oleh Heidegger bagi menjadi “Tiga V”, yakni: Vorhabe, pra-pemahaman (fore-having); Vorsich, pra-penglihatan (fore-sight); dan Vorgriff, pra-konsepsi (fore-conception). Inilah yang membuat setiap pemahaman perseorangan adalah sesuatu yang unik. Penulis meminjam cara menjelaskan yang ditempuh oleh Donny Gahral Ardian.

Memahami suatu obyek (martil, misalnya) dalam dunia eksistensial-pertukangan berarti memiliki struktur presuposisi sebagai berikut: peratama, pra-pemahaman: memahami martil berarti telah memiliki pemahaman sejak awal tentang peralatan sebagai satu keseluruhan. Dasein memiliki pemahaman sejak awal bahwa martil bersama dengan paku, gergaji, tang merupakan benda-benda siap pakai untuk pekerjaan pertukangan. Kedua, pra-penglihatan: memahami martil berarti memiliki penglihatan sejak awal wujud sebuah rumah. Dasein memahami martil sebagai alat untuk mewujudkan rumah. Ketiga, pra-konsepsi: memahami martil berarti mengkonsepsikan sedari awal bahwa maksud pemakaian martil dalam membangun rumah adalah demi keberadaan dasein sebagai tukang bangunan.[28]

Ini adalah proses yang terjadi ketika seseorang memahami dunia benda-benda atau dirinya sendiri. Sedangkan ketika seseorang memahami orang lain, maka memahami—dalam istilah Gadamer—adalah sebuah dialog. Karena setiap orang memiliki cakrawalanya sendiri-sendiri, maka ketika seseorang memahami orang lain, proses tersebut sesungguhnya adalah proses dialog antar cakrawala.
Istilah lainnya yang biasa digunakan adalah ‘percakapan’, “a conversation and mutual transformation between text and interpreter which Gadamer calls a fusion of horizons”.[29] Dalam dialog tersebut, tidak ada yang mengeliminir satu sama lain, dan memang tidak bisa. Struktur pra-pemahaman (yang berisi “Tiga V”) tadilah yang membuatnya tidak mungkin terjadi eliminasi satu sama lain.

Yang terjadi dalam dialog tersebut justru peleburan cakrawala (fusion of horizons). Masing-masing saling mempengaruhi (interplay), baik disadari atau tidak. Sehingga, yang dimaksud dengan dialog dalam konteks ini adalah dialog aktif; dan sifat kerjanya bukan reproduksi makna—seperti yang dimaksudkan oleh Schleiermacher—melainkan produksi makna. Peleburan ini adalah suatu cara pengayaan pemahaman atau presuposisi. Hal yang perlu ingat adalah, peleburan cakrawala tersebut tidak pernah terjadi secara utuh, melainkan hanya beberapa saja. Jadi, fusi horizon ini tidak seperti dialektika Hegel: antara “tesis” dan “anti-tesis” bertemu, lalu melebur menjadi satu sebagai “sintesis”.

Gadamer menjelaskan konsep peleburan cakrawala sebagai berikut.

Every finite present has its limitations. We define the concept of “situation” by saying that it represents a standpoint that limits the possibility of vision. Hence essential part of the concept of situation is the concept of “horizon.” The horizon is the range of vision that includes everything that can be seen from a particular vantage point... A person who has no horizon is a man who does not see far enough and hence overvalues what is nearest to him. On the other hand, "to have an horizon" means not being limited to what is nearby, but to being able to see beyond it...[W]orking out of the hermeneutical situation means the achievement of the right horizon of inquiry for the questions evoked by the encounter with tradition.[30]

Setiap masa kini yang terbatas mempunyai batasan-batasannya. Kita merumuskan konsep tentang ‘situasi’ dengan mengatakan bahwa ia merepresentasikan sebuah sudut pandang yang membatasi kemungkinan sebuah visi. Oleh karena itu, sebuah bagian esensial dari konsep situasi adalah konsep tentang ‘horizon’ (cakrawala). Horizon adalah bentangan visi yang meliputi segala sesuatu yang bisa dilihat dari sebuah titik tolak khusus… seseorang yang tidak mempunyai horizon adalah orang yang tidak melihat cukup jauh dan oleh karena itu menilai secara berlebihan sesuatu yang paling dekat dengannya. Sebaliknya, seseorang yang mempunyai sebuah horizon mengetahui makna relatif segala sesuatu di dalam horizon ini, baik dekat atau jauh, besar atau kecil. Dengan cara demikian, pendekatan terhadap situasi hermeneutic berarti capaian horizon tepat dari penelitian untuk persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh pertemuan dengan tradisi.[31]  

Proses memahami seperti yang digagas oleh Heidegger maupun Gadamer menekankan bahwa aktifitas memahami adalah aktifitas yang unik, milik khas perseorangan. Tidak pernah seragam seperti yang dibayangkan oleh para obyektifis dengan kebenaran obyektif-universalnya, atau tidak pula bersifat murni subyektif-relativistik. Inilah yang memang diinginkan oleh Heidegger, bahwa kita perlu berpikir melampaui kategori obyektif dan subyektif. Dalam beberapa catatan menyebutkan bahwa Gadamer sebenarnya ingin menghargai subyektifitas tanpa harus terjebak pada subjektivisme.

Sebuah artikel menggaris-bawahi bahwa fusi horizon Gadamer memang dimaksudkan sebagai konsep dialektis yang ditujukan untuk menolak dua alternative antara obyektifisme dan pengetahuan yang absolut.

"Fusion of horizons" is a dialectical concept which results from the rejection of two alternatives: objectivism, whereby the objectification of the other is premised on the forgetting of oneself; and absolute knowledge, according to which universal history can be articulated within a single horizon. Therefore, it argues that we exist neither in closed horizons, nor within a horizon that is unique. People come from different backgrounds and it is not possible to totally remove oneself from one's background, history, culture, gender, language, education, etc. to an entirely different system of attitudes, beliefs and ways of thinking.[32]

Pertanyaan yang ingin diajukan dalam hermeneutika Heidegger dan Gadamer bukanlah “Apakah sesuatu itu benar atau salah?” tetapi “Bagaimana prosesnya seseorang bisa memahami sesuatu dengan pemahaman ini dan itu?”. Jadi, hermeneutikanya adalah untuk memahami bagaimana seseorang memahami sesuatu. Jika harus menyebutkan jenis kebenaran yang sedang ingin diperjuangkan Gadamer, maka kebenaran tersebut bernama “Kebenaran Kontekstual”, kebenaran di dalam konteksnya, atau “Benar-menurut”.




[1] LIhat artikel “The Hermeneutic Circle” dalam situs http://www.buzzle.com/articles/the-hermeneutic-circle.htm (Akses tanggal.20 April 2012)

[2] Lihat Roy J. Howard, Hermeneutika, Pengantar teori-Teori Pemahaman Kontemporer, Wacana Analitik, Psikososial, dan Ontologis, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2000).
[3] Lihat artikel “Hans-Georg Gadamer” dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, dalam situs http://plato.stanford.edu/entries/gadamer/ (akses tanggal 22 April 2012). “Wilhelm Dilthey broadened hermeneutics still further, taking it as the methodology for the recovery of meaning that is essential to understanding within the ‘human’ or ‘historical’ sciences (the Geisteswissenschaften)

[4] Dikutip dari artikel “Hermeneutic Circle Versus Dialogue”, dalam situs http://www.thefreelibrary.com/The+hermeneutic+circle+versus+dialogue.... (akses tanggal 24 April 2012)

[5] Donny Gahral Ardian, Martin Heidegger, (Jakarta Selatan: Teraju, 2003), hlm. 52-55.

[6] Eric Lemay & Jennifer A. Pitts, Heidegger Untuk Pemula, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 18.

[7] Inyiak Ridwan Mudzir, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, (Yogayakarta: Ar-Ruzz Media, 2008) hlm. 24.

[8] Seperti yang tertera dalam Ensiklopedi Filsafat Stanford, dalam artikel berjudul “Hans-George Gadamer”, di dalamnya ketika menjelaskan bahwa hermeneutika tidak lagi sebagai metode, diikuti dengan keterangan:  This is not a rejection of theimportance of methodological concerns, but rather an insistence on the limited role of method and the priority of understanding as a dialogic, practical, situated activity..

[9] Lihat artikel “Hermeneutic Circle” dalam situs http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutic_circle (akses tanggal 20 April 2012). Beberapa tulisan ilmiah mengarahkan bahwa pemberi nama “lingkaran hermeneutika” adalah Wilhem Dilthey, lihat artikel yang ditulis oleh Paul Tseng, “Hermeneutics: An Introduction into the Origin, the Hermeneutical Circle, the Application, and Metacriticism”, dalam jurnal J.L.A. 1021-2116(2005)14PP.115-129 空大人文學報第 14期(民國 9412月)


[10] Artikel “The Hermeneutic Circle”, dalam situs http://www.buzzle.com/articles/the-hermeneutic-circle.html (Akses tanggal 20 April 2012)

[11] Artikel “Hermeneutic Circle”, dalam situs Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutic _circle (akses tanggal 19 April 2012)

[12] Poespropodjo, Hermeneutika, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), hlm. 53-55.

[13] Jean Grondin, Sejarah Hermeneutik Dari Plato Sampai Gadamer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 10-11. Grondin menambahkan, “Fakta bahwa yang-tak-dikatakan selalu melampaui apa yang bisa dikatakan inilah yang mengukuhkan kenyataan bahwa manusia  adalah mahluk yang terbatas.”

[14] Artikel “Hermeneutic Circle”, dalam situs Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutic _circle (akses tanggal 19 April 2012)

[15]  Artikel “The Hermeneutic Circle”, dalam situs http://www.buzzle.com/articles/the-hermeneutic-circle.html (Akses tanggal 20 April 2012)
[16] Lihat artikel “Hans-Georg Gadamer” dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, dalam situs http://plato.stanford.edu/entries/gadamer/ (akses tanggal 22 April 2012).

[17]  Artikel “The Hermeneutic Circle”, dalam situs http://www.buzzle.com/articles/the-hermeneutic-circle.html (Akses tanggal 20 April 2012)

[18] Paul Tseng, “Hermeneutics: An Introduction into the Origin, the Hermeneutical Circle, the Application, and Metacriticism”, dalam jurnal J.L.A. 1021-2116(2005)14PP.115-129 空大人文學報第 14期(民國 9412月)diunduh dari internet tanggal 23 April 2012.


[19] Ibid.

[20] Artikel “Hermeneutic Circle”, dalam situs Wikipedia,   http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutic _circle (akses tanggal 19 April 2012)

[21] Artikel “The Hermeneutic Circle”, dalam situs http://www.buzzle.com/articles/the-hermeneutic-circle.html (Akses tanggal 20 April 2012)

[22] Donny Gahral Ardian, Martin Heidegger, (Jakarta Selatan: Teraju, 2003), hlm. 58.

[23] Artikel “Hermeneutic Circle”, dalam situs Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutic _circle (akses tanggal 19 April 2012)

[24] Pemahaman akan “tardisi” ini mungkin sedikit lebih jelas jika dilihat sebagai bagian dari urutan berpikir ala Gadamer sebagai berikut: “Being in Time” >> “Being in Tradition” >> “Vorurteil, Prejudice, dan Pre-Undertanding” (yang kemudian lebih dekat dengan pengertian ‘diri dalam budaya tertentu’ atau dipahami tiga hal tersebut sebagai ‘akal budaya’ untuk menafsirkan sesuatu) >> “Human Finitude” atau “keterbatasan manusia”.

[25] Paul Tseng, “Hermeneutics: An Introduction into the Origin, the Hermeneutical Circle, the Application, and Metacriticism”, dalam jurnal J.L.A. 1021-2116(2005)14PP.115-129 空大人文學報第 14期(民國 9412月)


[26] Ibid.

[27] Artikel yang ditulis oleh Fachruddin, “Hans-George Gadamer: Hermeneutik” dalam situs http://fachruddin54.blogspot.com/2011/01/hans-georg-gadamer.htm (akses tanggal 23 April 2012)

[28] Donny Gahral Ardian, Martin Heidegger, (Jakarta Selatan: Teraju, 2003), hlm. 36-37.

[29] Dalam artikel “Hans-Georg Gadamer – The Hermeneutic Circle”, dalam situs http://despairingself. wordpress.com/2011/05/18/hans-georg-gadamer-the-hermeneutic-circle (akses tanggal 24 April 2012)

[30] Hans-Georg Gadamer, Truth and Method. (New York: Continuum, 1997), hlm. 302

[31] Hans-Georg Gadamer, Kebenaran dan Metode Pengantar Filsafat Hermeneutika, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 263-164.

[32] Artikel “Fusion of Horizons” dalam situs http://en.wikipedia.org/wiki/Fusion_of_horizons (akses tanggal 24 April 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget