Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 26 April 2012

RF: IP Man 2


Ini memang soal hati, pikiran, dan jiwa. Beladiri adalah seni. Ia adalah alat untuk menghidupkan. Cara untuk mengisi hidup dengan semangat, disiplin, kerja keras, dan kejernihan hati. Beladiri bukan untuk membunuh. Bukan jalan untuk mengunggulkan dirimu atas orang lain.

Menjadi jagoan hanyalah suatu pikiran dan sikap mental yang sungguh dangkal. Apakah orang dianggap jagoan karena ia mampu mengalahkan 10 orang? Ternyata tidak. Semua orang akan tua, dan tidak ada orang yang selamanya tidak terkalahkan. Inilah kesadaran yang sedari awal ditanam oleh Yi Wen (IP Man) di benak murid-muridnya.

Harmoni, kedamaian, ramah, tenang, jernih jiwa adalah segala yang lebih penting untuk diperjuangkan. Maka, melalui apapun saja, prinsip ini layak untuk dihayati. Bahkan hingga dalam seni beladiri—yang di dalam benak setiap orang selalu berasosiasi pukulan, memar, campur aduk rasa kalah-menang.

Menang bukanlah tujuan. Kebanggan dan harga diri tidak diukur dari kejayaan di hadapan orang lain yang terkalahkan. Sebaliknya, nilai paling berharga yang mesti dikejar terus-menerus adalah justru harmoni bersama kehidupan. Damai bersama orang-orang di sekitar kita. Lingkungan, alam, dan paling intinya adalah kemenangan menaklukkan diri sendiri. Itulah dasar pikiran ketika YI Wen mengatakan: “Hal terbaik adalah tidak bertarung sama sekali”

***

Aku jadi teringat Khalid bin Walid, sang pedang Allah, yang dalam sebuah pertempuran, dalam laga pertarungan satu lawan satu, ia urung menebaskan pedang ke leher lawannya yang sudah jelas diambang mata, hanya karena dorongan ‘membunuh’ di pedangnya hanya dialiri oleh hawa nafsu. Khalid menyarungkan pedangnya, dan jelas itu membuat sang lawan terheran-heran.
            “Mengapa tak kau bunuh aku?”
            “Jika aku membunuhmu, maka itu hanya karena amarahku yang menguasai diriku saat kau ludahi mukaku. Sedangkan Allah tidak memerintahkan aku membunuh kecuali karena alasan yang haz.”

Alangkah tegasnya. Begitu mulianya pendekar ini. Hingga taraf seperti ini capain mereka. Lawan sejatimu yang lebih berhak kau kalahkan adalah dirimu sendiri. Menguasai nafsumu, dan memperjuangkan kejernihan nurani di dada.

Oh. Sungguh baratayudha sedang bergermuruh di dalam dada, dan kau mesti berusaha memenanginya. Musuh yang menyatu dalam dirimu. Tidakkah itu seperti perang saudara? Atau bahkan mungkin lebih dari itu.

***

Miyamoto Musashi, juga dsemikian. Samurai terkenal dari Jepang ini, pada masa perjalanan akhirnya justru menyimpulkan bahwa kehidupan lebih berarti daripada kebesaran nama yang dipungut dari jiwa-jiwa kalah orang di sekitar kita. Kegagahan pada akhirnya lebih baik disarungkan saja dalam bungkus keindahan. Inilah pencapaian taraf tinggi dari para maestro beladiri yang bisa dipelajari.

Mungkin hanya para amatir tolol yang masih saja membutuhkan pengakuan keberadaan dirinya dari orang lain dengan meninggalkan memar di tubuh dan jiwa.

Semakin dalam kesadaran seseorang, semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan menemu bahwa keindahan dan cinta adalah hal yang paling berharga yang layak untuk diperjuangkan. Nabi Muhammad menamainya dengan rahmatan lil alamin. Atau bisa juga kita pinjam sikap luhur dari Ghandi tentang ahimsa. Atau cukuplah bagi kita menyelami makna salah satu adigium leluhur kita tentang konsep menang tanpo ngasorake. Bagaimana?

***

Kembali ke Yi-Wen. Ia hanyalah pria sederhana, yang tetap saja kalem setelah ‘mengalahkan’ Twister, petinju Inggris, lawannya. Hm. Tidak ada yang heroik dalam soal pukul-pukulan. Yang heroik adalah kemenangan dalam merawat semangat, kemanangan merawat sikap saling menghormati, dan kemenangan memperjuangkan kedamaian. Hanya inilah yang layak dirayakan dengan penuh sukacita. Seperti yang Yi Wen sampaikan melalui translator untuk publik Inggris saat berkata:

“Dia bilang, dia datang kemari hari ini tidak untuk membuktikan mana yang terbaik antara tinju Barat dengan Cina. Semua orang harus bisa belajar dalam hidup. Dia tidak percaya bahwa seseorang lebih hebat dari yang lain. Dia berharap kita bisa memulai untuk menghargai satu sama lain.

Itu saja. Terimakasih.”

(Yip Man, Guru Besar Kung Fu, seklaigus guru Bruce Lee)



NB: jikalau toh tetap dipaksa untuk menyebutkan apa itu kemenangan, maka kemenangan adalah kemampuanmu untuk mengutuhkan. Melampaui dualitas. Melompati logika biner yang kau sudah terbiasa olehnya selama ini. Hehehehe.


Ayiko Musashi
26/10/2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget