Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Munasabah





Setiap elemen al-Qur’an berasal dari Allah. Ia tidak tunduk pada aturan-aturan manusia. Ia bukan syair. Bukan pula mantra-mantra dukun. Tidak ada definisi yang tepat, jika itu datang dari manusia. Al-Qur’an sendirilah yang pada akhirnya menjelaskan siapa dirinya kepada manusia. Ia adalah kalam suci Allah; wahyu untuk nabi Muhammad saw.

Deviasi (penyimpangan gaya) adalah satu karakter yang khas al-Qur’an; baik dalam komposisi estetika, ide-gagasan, atau juga sistematikanya. Yang terakhir inilah, obrolan kali ini. Al-Qur’an tidak disusun seperti susunan penyajian buku-buku yang selama ini akrab dikenal dalam budaya manusia manapun, dan memang tidak selayaknya demikian. Ia tidak disusun tema pertema atau bab per-bab—seperti yang biasa terlihat dalam daftar isi buku. Maka akan anda temukan bahwa dalam satu surat, ayat-ayatnya berjalin-kelindan antara ayat tauhid, ayat hukum, ayat kisah, dan lain sebagainya.

Dari sisi sejarah, ia juga tidak disusun secara kronologis berdasarkan urutan turunya wahyu. Tidak tartib nuzuli. Maka surat yang pertama justru al-Fatihah, bukan al-Alaq yang isinya terkandung ayat-ayat pertama turun untuk Nabi. Dari sisi kuantitas, ia tidak disusun urut berdasarkan dari surat yang ayatnya paling banyak menuju surat yang ayatnya paling sedikit, atau sebaliknya. Sistematika yang digunakan justru tartib mushafi, sistematika seperti yang terlihat dalam mushaf (Usmani). Ketetapan ini bersifat tauqifiy, kebijakan langsung dari Allah. Tidak ada campur tangan malaikat Jibril, Nabi, sahabat, atau siapapun saja. Allah menghendaki firman-Nya disusun dengan gaya terakhir ini, rupanya.

Dengan demikian, dalam studi ilmu al-Qur’an, segala klasifikasi jenis ayat al-Qur’an dapat bercampur dalam satu surat; baik itu antara ayat berjenis Makkiyah dengan Madaniyyah, antara ayat yang Hadhari dan Safary; yang Nahari dan Laily; yang Shaify dan Syita’i; yang Farasyi dan Naumy, atau juga yang Ardhy dengan Sama’i. Demikian juga dengan isi kandungan ayatnya; baik ayat tentang hukum, tauhid, atau ayat kisah bisa bercampur dalam satu surat.

Beberapa akademisi merasa bingung atau mungkin shock-culture (?) dengan sistematika gaya al-Qur’an. Hal ini dapat dimengerti. Kita memang sudah-sedang-dan akan hidup dalam budaya berpikir dan gaya sistematika yang runtut dan tematis. Tidak terbiasa dengan ke-acak-an. Respon terhadap fakta ini bisa berpola. Ada yang (1) bisa biasa-biasa saja, karena merasa sudah cukup menerima al-Qur’an begitu saja atau bisa jadi karena abai; (2) bisa juga menjurus pada sikap menuduh, bahwa al-Qur’an itu semrawut. Alurnya tidak jelas. Meloncat-loncat. Diulang-ulang. Sikap ini seakan memaksa, mestinya Tuhan menyusun kitab-Nya seperti manusia menyusun buku; sikap lainnya (3) bisa juga malah menumbuhkan couriousity. Rasa ingin tahu untuk menguak misteri di balik keunikan sistematika ini. Sikap ini mengandaikan adanya “dialog budaya” antara manusia dengan Tuhannya dalam hal tradisi menyusun ide. Tidak berusaha memaksa, tapi mencari hikmah, sehingga lahirlah kajian Munasabah al-Qur’an. Pola dialogis ini tampaknya yang lebih produktif dan kreatif dibanding lainnya. Ilmu ini berfungsi sebagai jembatan untuk memahami hikmah “ke-acakan” sistematika al-Qur’an. Menemukan rahasia-rahasia kenapa “diacak”, dan tidak diurut-kumpulkan tema pertema.

Kinerja ilmu ini seperti kajian astronomi dalam memahami tata galaksi. Ada matahari dikitari planet-planet. Kenapa bumi ditempatkan di urutan ketiga, setelah Merkurius dan Venus? Kenapa juga Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus di urutan setelahnya? Beberapa sudah terjawab. Posisi ketiga adalah jarak yang paling pas untuk kehidupan. Jika terlalu dekat dengan matahari, makhluk di bumi bisa mati terbakar. Jika terlalu jauh, mereka beku. Maka logika munasabah ini juga bisa diterapkan untuk meneliti semisal, kenapa Tatasurya Matahari ditempatkan dalam galaksi Bimasakti? Demikian juga seperti ilmu fisiologi dalam memahami hikmah di balik peletakan setiap organ tubuh manusia. Kenapa mata di atas hidung, telinganya dua diletakkan di samping, hidungnya mengarah ke bawah, tidak ke atas. Ada tujuan di balik setiap penempatan.

Inilah paradigma teleologis. Ada kepercayaan aksiomatik bahwa setiap penciptaan dan penataan memiliki maksud dan tujuan. Di balik penciptaan dan penataan tadi, ada sang Creator yang Supergenius. Segitiga kontak antara manusia, fakta penciptaan, dan Yang Supergenius melahirkan prasangka intelektual yang positif. Mewujud dalam penemuan hikmah, sebagai titik temu ketiga hal di atas. Maka, paradigma ini mengawali langkah pikirnya dengan menerima rancang-bangun penciptaan dan penataan, kemudian manusia berdialog-memahami rancang-bangun tadi secara kreatif. Sistematika galaksi, sistematika lapisan bumi, sistematika tubuh manusia, sistematika ozon, sistematika periode kenabian, sistematika sejarah kehidupan, dan lain sebagainya. Ini semua yang ingin dicari hikmah-hikmahnya dalam ilmu munasabah. Maka, dari Ulumul Qur’an, ilmu ini bisa dipinjam untuk mempelajari sistematika-sistematika lain dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Sebab tidak ada yang muncul kebetulan, tanpa sebab dan tujuan yang sudah terbayangkan oleh-Nya untuk dipelajari dan dikembangkan manusia sebagai ilmu dan hikmah.




Ayiko Musashi,
Klaten, 11 Maret 2012 .










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget