Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Murid





Suatukali saya mendapatkan surat dari seorang teman akrab tapi jarang ketemu. Namanya unik tapi kacau, Mpu Gandrung Segawon Kelangkung. Surat itu cukup mengagetkan karena langsung marah-marah tanpa intro apapun. Beginilah bunyi surat itu.

Sekolah itu candu, bung! Warisan feodal!! Barang mewah yang sebenarnya tak adapun tak masalah! Sekolah cuma gengsi! Dead School Society sajalah!! Masyarakat tanpa sekolah!!! Break in The Wall….!! Lha, bagaimana lagi?! Itulah kenyataannya. Orang berangkat sekolah untuk menjadi tidak tahu apa-apa. Uang habis dibanting beli segala asesoris yang kerap dilabeli ilmiah, untuk kemajuan belajar, dan macam-macam; tapi nyatanya kreatifitas, daya inisiatif terus dikebiri.

Siapa bilang sekolah itu mengajarkan semua yang baik?! Mempersiapkan manusia yang siap hidup?! Ah, jangan muluk-muluk kalau berharap. Sekolah tidak semulia itu kok. Tidak sesuci dan seheroik yang kita bayangkan. Lihatlah sekarang betapa banyak sekolah berubah menjadi pasar, yang kegiatannya lebih asyik dengan jualan ini dan itu. Uang, men!! Uang….!! Jualan buku, jualan, seragam, jualan kursus, jualan gelar, dan macem-macem.

Hm. Mana ada yang bisa kita bilang “murid” hari ini?! Tidak ada, bung!! Yang ada hanyalah robot yang selalu siap mengulang apa yang sudah diprogramkan oleh programmernya. Yang ada hanyalah tape recorder yang selalu siap merekam persis dengan apa yang didengarnya. Asyik tenggelam dalam keseragaman yang dangkal. Yang ada hanyalah kerumunan massa contagious penyembah nilai dan gelar. Mabuk mencumbui status dan jabatan.

Terbitkanlah buku, cetaklah majalah, selenggarakanlah seminar-seminar, teriakkanlah dirimu sebagai garda depan pengusung perubahan Lantang dan seringlah menyebut dirimu apa saja sebagai pemerhati semangat ilmiah dan pejuang pendidikan, raihlah gelar-gelar kehormatan dan puja-puji itu ribuan kali. Lakukanlahlah.

Asal kau tahu, orang disebut murid itu karena dia tahu apa yang dia inginkan. Murid itu berasal dari bahasa Arab. Araada-yuriidu-iraadatan-fahuwa muriidun. Artinya adalah orang yang menghendaki. Jadi, kata ini diserap karena mengandaikan bahwa dalam proses belajar, seorang siswa tahu apa yang ingin diketahuinya, mengerti mengapa ia belajar sesuatu, dan sadar bahwa ia sedang menjalani sebuah proses pembelajaran. Dan tugas sang guru adalah menyulut api keingintahuan sang murid saja yang paling penting. Jadi, nuansa yang terkandung di dalam kata murid tadi lebih kental dengan nuansa kerja yang aktif, partisipatif, berkesadaran, dan sebuah gairah. Bukan terlantar diam dan pasif, yang tahunya cuma copy-paste!!

Maka dari itu, dulu, para ulama atau sesepuh-sesepuh kita, kalau belajar, ya mereka sendiri yang menentukan materi pelajaran yang ingin mereka pelajari. Jadi, tidak heran kalau dulu ada satu tokoh yang multi-talenta: ya filsafat, seni, fikih, tauhid, tasawuf, dan ilmu bahasa secara bersamaan. Mereka tidak teracuni pengotak-kotakan ilmu. Ya mereka itulah manusia pembelajar yang bebas.

Ada kepercayaan dan penghargaan kepada murid, sehingga lahir kemandirian. Yang memilih guru ya si murid sendiri. Masa belajar tidak dibatasi oleh seremonial semester atau semacamnya. Yah, kalau ilmunya sudah dikuasai, ya sudah, pindah belajar ilmu lain. Tidak perlu nunggu ada UAN, atau upacara wisuda-wisudaan segala. Belajar itu masih substansi, bukan sekadar upacara dan neurotik ritual sosial. Yang menonjol pada saat belajar justru kesadaran niat, kesadaran kebutuhan, dan kecintaan. Sedangkan aku dan kamu ini kan seringnya, masuk sekolah ya karena memang musimnya begitu, atau demi alasan daripada nganggur. Ya, tho?!

Kalau memang sekolah itu satu-satunya pintu menuju sukses, kamu punya penjelasan apa soal Bill Gate yang sukses tanpa sekolah? Caknun yang drop out itu? Buddha?! Isa?! Muhammad, dan wali-wali itu mana ada yang sekolah pake seragam-seragaman?! Pake wisuda-wisuda-an?! Sekolah mereka ya hidup itu sendiri. Bukan menyembah tembok gedung!!

Belajar kok dipersempit cuma di sekolah! Sekolah itu cuma alat. Ia hanya institusi. Jadi, lebih penting bicara soal bagaimana menumbuhkan dan terus merawat naluri belajar daripada harus mati-matian menyembah berhala bernama (institusi) sekolah!! Belajarlah ilmu hidup di fakultas kehidupan!! Jadilah manusia. Jangan jadi robot. Jangan jadi tape recorder!!


Ayiko Musashi,
Malangan Klaten, 04 November’ 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget