Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Ilmu Tidur





Tidur itu ada ilmunya. Ada ilmu soal bagaimana agar nyenyak dan berkualitas. Ada ilmu soal apa dan bagaimana solusi insomnia. Dalam ilmu fauna, ada jenis-jenis hewan yang digolongkan nocturnal (tidurnya siang, malamnya beraktifitas). Ada lucid dream, istilah untuk orang yang ketika bermimpi masih memiliki kesadaran bahwa ia sedang bermimpi. Ada istilah REM atau Rapid Eye Movement. Ada juga cabang ilmu bernama psikoanalisa yang studi mayornya adalah membongkar alam bawah sadar melalui—salah satunya—ya mimpi ini.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, melalui tidur pula para Nabi menerima wahyu. Nabi Ibrahim diperintah mengurbankan Ismail, melalui mimpi. Beberapa wahyu untuk nabi Muhammad juga disampaikan melalui mimpi. Sampai kepada nabi Yusuf, yang terkenal sebagai manusia paling ganteng. Beliau dipilih sebagai nabi melalui isyarat mimpi 11 bintang, matahari, dan bulan bersujud kepada beliau. Beliau ini jago menafsirkan mimpi. Al-Qur’annya menyebut ilmu tafsir mimpi ini sebagai Ta’wil al-Ahadits. Silahkan merujuk pada surat Yusuf untuk lebih detailnya.

Al-Qur’an kemudian memiliki dua kosa kata untuk mimpi. Yang pertama adalah ra’yu beserta derivasinya. Ini berarti mimpi yang ada alurnya, jelas, memiliki makna, dan mengandung pesan tertentu. Penurunan wahyu dari Allah biasanya menggunakan jenis ini. Konsistensinya sangat tinngi. Bisa diamati saat menyebut mimpi nabi Ibrahim dalam surat as-Shaffat: 101-111, atau dalam kisah nabi Yusuf di surat Yusuf: 4-6. Semuanya memakai istilah derivasi kata ra’yu.  Sampai di sini, kita bisa cross kepada pernyataan nabi Muhammad, bahwa  sisa-sisa nubuwah itu masih berlangsung hingga zaman kita ini. Salah satunya ya melalui mimpi yang jelas ini.

Kosa kata kedua adalah hilm. Ini untuk mimpi-mimpi biasa, yang tidak dijamin asal dan kebenarannya. Bisa jadi punya makna, bisa jadi asal, bahkan bisa jadi juga mimpi buruk. Nah, ini yang menarik dari visi seorang nabi Muhammad. Beliau ini paham sekali psikologi!!

Kata beliau, kalau ada salah satu yang mimpi buruk, maka begitu bangun, jangan cuma terengah-engah dan berpikir ngelantur, tapi langsung baca doa isti’adzah, meminta perlindungan kepada Allah, lalu meludah (boleh dengan ludah beneran atau angin saja) ke kiri dan ke kanan. Ini adalah jurus kombinasi yang keren. Jurus isti’adzah, untuk kembali menata kosmos kesadaran bahwa tak ada hal buruk yang bisa berlangsung tanpa seizin Allah. Kemudian disusul jurus simbolik, yakni meludah. Seakan tindakan itu bicara: “Mimpi buruk yang tertelan, kuludahkan kembali. Juh! Juh! Juh! Tak kutelan, dan aku baik-baik saja adanya!”

***

Kembali ke soal tidur. Pada awal masa pewahyuan, nabi Muhammad sempat dipanggil dengan dua sebutan, yang keduanya terkait soal tidur. Pertama, Ya ayyuhal Muzzammil. Wahai orang yang berselimut. Kemudian yang kedua, Ya ayyuhal Muddztstsir. Wahai orang yang berkemul. Sebagai informasi tambahan, dua sebutan ini adalah dua diantara 201 nama nabi Muhammad saw yang lain.

Dua panggilan itu kemudian diikuti dengan perintah “Qum!”.”Ayo bangun!”. “Ayo tahajjud!” (seperti yang dilansir dalam surat al-Isra’: 79). Mesti ada rahasia dari momentum tengah malam ini, sehingga Allah perlu membangunkan nabi-Nya yang sedang hangat berselimut-berkemul. Indikasi ini dieksplisitkan oleh al-Qur’an: inna naasyi’atal laili hiya asyaddu wath’a wa aqwamu qiila, (surat al-Muzzammil ayat 6). Jika dicermati, paradigma ini pararel dengan format adzan subuh yang berbeda dari empat waktu adzan lainnya. Ada frase tambahan setelah hayya ala al-falah, yakni: ash-sholatu khairum minan naum. Shalat itu lebih baik daripada tidur. Diulang dua kali. Seakan dikuatkan, bahwa shalat itu sungguh lebih baik daripada tidur.

Imam al-Ghazali pernah berkata: an-naumu syibhul maut. Tidur itu serupa mati. Yang banyak tidur berarti seperti memperbanyak durasi kematian di dalam hidupnya. Tidur itu adalah mati kecil, kata yang lain. Itulah kiranya mengapa dalam Ayat Kursi, setelah mendeskripsikan Allahu laa ilaha illa huwa. Allah, tiada tuhan selain Ia. Al-Hayyu al-Qayyyum. Dzat yang Maha Hidup Kekal dan Maha Mengurus makhluknya terus-menerus. Lalu, sifat hidup ini disusul dengan deskripsi. La ta’khudzuhu sinatun wa laa naumun. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Jadi, sifat hidupnya Allah itu benar-benar hidup. Hidup total! Sempurna. Tanpa terkurangi ngantuk dan tidur. Untuk mengurus makhluk-Nya.

Wallahu a’lam. Masih sangat banyak ilmu soal tidur ini. Kita belum mengungkap apa rahasia  tidurnya nabi Uzair yang durasinya 100 tahun, atau tidurnya Ashabul Kahfi yang 309 tahun, hingga tidurnya tokoh pewayangan yang bernama Kumbokarno. Semoga esok bersua kembali.



Ayiko Musashi,
Tebuireng, 13 Februari 2012






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget