Isi Blog ini

terdiri dari banyak tulisan; antara tulisan 'ilmiah', artikel buletin, opini, puisi, komentar film (biasa diberikan kode "RF"), lirik lagu, beberapa kutipan, atau apapun saja yang dinilai baik untuk dibagikan sebagai pengalaman bersama..

Selamat menikmati.

Tamu

Rekanan Situs

Rekanan Situs
Klik Gambar di Atas untuk berkunjung ke Pasar Grosir Tas; Drawstring, Tote, Sling, etc. Tas kanvas, tas blacu, tas furing, dll.
Ayiko Musashi. Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

Kunjungi Juga

Welcome to

Welcome to

Terjemah

Artikel Pop

Menuju Ke

Kamis, 15 Maret 2012

Tekan “ON”!!!



 

Sebuah proses pendidikan saya temukan indahnya melalui satu penuturan seseorang.. Ia mengatakan bahwa kita melakukan pendidikan karena ingin mengurusi 4 hal. Yang pertama adalah “Intellectual Coriousity”. Kemudian “Creative Imagination”. Lalu “Art of Discovery”, dan bermuara pada pencapaian “Noble of Attitude”. Walah! Menarik sekali konsep ini.

Saya sangat setuju. Kita menyelenggarakan pendidikan, tujuannya adalah untuk menumbuhkan keingintahuan (intellectual coriousity). Jadi, sebenarnya, setiap manusia sudah dibekali Tuhan bahan bakar untuk menjadi pandai. Takdirnya adalah untuk menjadi tahu. Setiap manusia adalah generator pengetahuan. Nah, bensin-solar penggeraknya itu tadi adalah rasa ingin tahu.

Orangtua, guru, atau siapapun kita, tidak perlu ngotot mendoktrin mereka ini dan itu. Tidak usah susah-susah mendiktekan mereka ilmu ini dan itu. Biarlah mereka yang akan menemukan. Tugas seorang pendidik adalah menyalakan tombol “on” pada rasa ingin tahu anak didik. Dan generator pengetahuan itu yang akan mencari sendiri dimana titik pusat keilmuan yang mereka hajati bisa disambangi.

Kemudian Creative Imagination. Ini adalah cita-cita yang menarik. Menumbuhkan imajinasi kreatif pada murid. Einstein yang jago fisika itu pernah bilang: imajinasi itu lebih penting daripada ilmu pasti. Itu jelas! Karena imajinasi adalah sumur ide. Imajinasi itu sendiri adalah penerawangan untuk menghadirkan sesuatu yang belum ada di dunia nyata. Dan “ilmu pasti”-lah yang nantinya menjadi pelayan dalam mewujudkan imajinasi tadi.  Manusia berimajinasi terbang, lahir pesawat terbang. Manusia berimajinasi ke bulan, muncul teknologi antariksa.

Jika pendidikan tidak mengurusi soal penumbuhan imajinasi, dan justru asyik masyuk berkutat dalam dunia ilmu pasti, maka itu akan seperti seseorang yang punya palu, gergaji, tang, obeng, meteran, dan mesin bor, tapi tidak tahu akan membuat apa dengan semua bekal peralatan tersebut. Idelah yang pertama kali harus ada. Visi yang mesti pertama diurusi. Perlu ada konsep atau tujuan untuk berlabuh. Baru kemudian mencari alat-alat pendukungnya.

Art of Discovery, seni untuk menemukan sesuatu. Dengan demikian, berpendidikan sama dengan menjadi makhluk yang produktif dan aktif. Karena kerjanya adalah mencari, mencari, dan mencari. Selalu ada hasrat untuk menemukan sesuatu yang bermanfaat. Gairah seni. Jadi, benar-benar sebuah aktifitas yang luwes, menyenangkan, dan semuanya diukur dengan hati. Karena demikianlah seni. Ia bertahta dalam kepekaan rasa, semangat menjelajah, coba-coba, dan kembali sebagai persoalan kepuasan hati. Bagaimanapun caranya, kita akan berpikir bersama untuk menemukan formula agar proses pendidikan bisa membuat peserta didik kerasukan “Seni Menemukan Sesuatu”.

Dan kemudian, dipungkasi dengan “Noble of Attitude”. Dalam kosa kata Islam yang familiar, kita menyebutnya “Akhlaqul Karimah”. Jadi, segala yang tadi, ibarat kuda yang tangguh, gesit, dan ulung berlari, dan kita butuh kendali kemudi yang disebut etika dan moral yang baik.

Syekh Abdul Qadir Jilani, dalam satu kitabnya, pernah mengutip perkataan Abdullah ibnu al-Mubarak yang kira-kira begini:  Jika ada seseorang yang memiliki ilmu klasik sekaligus modern, tapi tidak beretika, maka aku tidak akan menyesal kehilangan kesempatan bertemu dengannya. Tapi jika ada seseorang yang memiliki tatakrama diri, maka aku sangat berharap bertemu dengannya dan akan menyesal jika kehilangan kesempatan untuk itu.

Mungkin itulah kenapa Nabi mengatakan: innama bu’its-tu li-utammima makaarimal akhlaq, Aku (Muhammad)  diutus untuk menyempurnakan keutamaan akhlak; dan bukan li-utammima makaarimal ilmi (ilmu), apalagi makarimal maal (harta). Cablek!



Ayiko Musashi,
KamarUngu, 2 Februari 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Text Widget

Text Widget